KEDIRI, JP Radar Kediri-Lima hari pascakeracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG), kondisi para korban sudah membaik.
Berdasarkan hasil asesmen petugas puskesmas, Dinas Kesehatan Kota Kediri memastikan seluruh korban sudah kembali sekolah kemarin (27/4).
Untuk diketahui, kasus keracunan menu MBG terjadi di SDN Ketami 1, SDN Ketami 2, dan SDN Tempurejo 1. Total ada 73 anak yang dilaporkan mengalami gejala keracunan.
Mereka mengeluhkan mual, muntah, hingga diare usai mengonsumsi menu MBG. Berdasar hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan, ditemukan bakteri Escherichia coli (E.coli) pada olahan ayam saus tiram.
Baca Juga: Ancam Tutup SPPG Salahi SOP, Empat Dapur MBG di Kota Kediri Belum Kantongi SLHS
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri di SDN Ketami 2 kemarin (27/4), aktivitas pelajar nampak normal seperti biasanya. Termasuk seluruh siswa terdampak sudah kembali bersekolah.
Hal tersebut ditegaskan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Hamida.
Kemarin, pihaknya sudah mengecek kondisi anak-anak di sekolah. Khususnya di SDN Ketami 2 dengan korban paling banyak mencapai 53 siswa.
“Alhamdulillah sudah masuk. Hanya saja ada yang belum tapi karena alasan batuk pilek. Jadi gejala keracunan seperti mual, muntah, diare, sudah nggak ada,” kata Hamida.
Untuk memastikan gejala keracunan benar-benar sudah hilang, petugas juga mendatangi orang tua siswa. Selebihnya, dinkes mengevaluasi hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan.
Baca Juga: Puluhan Siswa SD di Kota Kediri Diduga Keracunan MBG, Satgas MBG Langsung Turun Uji Laboratorium
Hasilnya, bakteri patogen itu tidak hanya ditemukan pada sampel ayam saus tiram. Melainkan juga pada sup kacang merah dan kentang yang temuan bakteri E.coli-nya juga tinggi.
Untuk mencegah peristiwa keracunan serupa terulang, menurut Hamida saat ini dinkes akan mempercepat tahapan penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk SPPG.
Sehingga, higienitas makanan di tiap SPPG bisa lebih terkontrol.
Sebelumnya, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Kediri Endang Kartika Sari menuturkan, dari total 54 SPPG, hingga April ini ada empat SPPG yang belum memiliki SLHS.
“Tentu secepatnya nanti satgas segera mengevaluasi lagi SPPG yang belum punya SLHS,” tegasnya.
Berdasarkan ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN), SPPG sudah harus mengantongi SLHS paling lambat 1 bulan setelah mulai operasional. Sebelum menerbitkan SLHS, ada beberapa tahapan yang harus dilalui.
Salah satunya inspeksi kesehatan lingkungan (IKL) yang dilakukan di lokasi dapur.
Seperti diberitakan, keracunan MBG menimpa puluhan siswa SD di Kota Kediri, Rabu (22/4) lalu. Mereka mengeluhkan mual, muntah, hingga diare usai mengonsumsi MBG.
Menindaklanjuti laporan itu, pemkot langsung melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan. Sekaligus melakukan pemeriksaan kesehatan kepada korban.
Hasilnya, ditemukan bakteri Escherichia coli (E.coli) pada olahan ayam saus tiram. Diduga ada pelanggaran SOP yang dilakukan. Yaitu, waktu pengolahan makanan yang lebih awal dari seharusnya serta tidak dilaksanakannya uji organoleptik pada makanan.
Temuan itu pun langsung dilaporkan oleh Satgas MBG Kota Kediri kepada BGN. Selanjutnya, untuk sementara SPPG Tempurejo dihentikan operasionalnya. Sembari menunggu keputusan lebih lanjut dari BGN. (ais/ut)
Editor : Andhika Attar Anindita