KEDIRI, JP Radar Kediri– Kasus gugaan keracunan menimpa lima bocah di salah satu desa di Kecamatan Ngasem, Senin (27/4).
Berdasarkan informasi yang beredar, korban merupakan siswa setingkat taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD).
Para korban disebut mengalami keluhan mual dan muntah ketika mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di sekolah.
Mereka bahkan harus dilarikan ke RSUD Simpang Lima Gumul (SLG) untuk mendapatkan penanganan medis. Hingga malam hari (27/4), empat anak masih menjalani perawatan intensif.
Baca Juga: Ancam Tutup SPPG Salahi SOP, Empat Dapur MBG di Kota Kediri Belum Kantongi SLHS
Informasi yang dihimpun, peristiwa itu diketahui sekitar pukul 13.00–13.30 WIB. Orang tua korban mendapat kabar dari pihak sekolah setelah anak-anak mengeluh sakit perut dan muntah.
Beberapa siswa sempat dijemput. Sementara lainnya langsung dibawa ke rumah sakit oleh pihak sekolah.
Para korban, sebelumnya disebut sempat mengonsumsi paket makan bergizi gratis (MBG).
Sumber media ini menyebut, gejalanya beragam. Mulai dari mual, muntah, dan sakit perut.
"Betul kejadian siang tadi (27/4), keluhannya muntah-muntah," ucap sumber terpercaya media ini.
Walau demikian, dia mengaku masih belum bisa memastikan kenapa para siswa itu keracunan. Apakah karena MBG ataukah yang lain.
"Belum bisa dipastikan, masih menunggu hasil pemeriksaan dinas kesehatan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib membenarkan adanya kasus dugaan keracunan itu.
Adapun empat siswa masih dirawat, sementara satu lainnya sudah diperbolehkan pulang oleh pihak medis.
"Alhamdulillah keluhannya tidak terlalu menghawatirkan, hampir semuanya hanya mual muntah," jelasnya.
Apakah keracunan dari MBG atau bukan, Khotib mengaku belum bisa memastikannya.
Dia mengaku, saat ini penyebab pasti dugaan keracunan tersebut masih dalam proses penyelidikan.
Pihak rumah sakit masih melakukan observasi medis. Sementara Satgas MBG juga masih melakukan identifikasi.
"Semua kemungkinan akan kita dalami lebih lanjut," tegas Khotib.
Dia mengaku, saat ini pihaknya juga masih mengambil sampel untuk dilakukan uji laboratorium.
"Kita juga akan memeriksakan sampel sisa makanan ke laboratorium di Surabaya. Jadi kepastiannya menunggu hasil laboratorium," tandasnya. (sad)
Editor : Andhika Attar Anindita