Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cuaca Terik dan Panas Menyengat Dirasakan Warga Kediri Raya, ini Penyebabnya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Kamis, 16 April 2026 | 16:54 WIB
Ilustrasi orang minum saat cuaca terik. BMKG minta agar masyarakat minum yang banyak agar tidak dehidrasi
Ilustrasi orang minum saat cuaca terik. BMKG minta agar masyarakat minum yang banyak agar tidak dehidrasi

KEDIRI, JP Radar Kediri- Cuaca panas dirasakan warga Kediri Raya dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi ini akhirnya membuat suhu meningkat dibandingkan sebelumnya. Akibatnya sinar matahari terasa semakin menyengat.

Cuaca terik ini terjadi saat masa peralihan menuju musim kemarau.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi peningkatan suhu tersebut. Salah satunya adalah pergerakan semu matahari yang saat ini berada lebih dekat ke wilayah ekuator.

Baca Juga: BGN Suspend Dapur MBG yang Langgar SOP, Satgas MBG Kediri Beri Catatan Bagi SPPG

Kondisi ini membuat sudut datang sinar matahari ke wilayah Jawa menjadi lebih tegak.

Akibatnya, energi radiasi yang diterima permukaan bumi meningkat dan suhu terasa lebih panas.

“Selain itu, tutupan awan juga mulai berkurang. Sehingga radiasi matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa banyak penghalang,” ujar Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri Lukman Soleh melalui Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik Satria Kridha Nugraha.

Ia menambahkan, kelembapan udara yang mulai menurun turut memperkuat pemanasan di permukaan.

Udara yang relatif lebih kering membuat proses pemanasan berlangsung lebih cepat dibanding saat musim hujan.

Di sisi lain, mulai munculnya aliran angin monsun timur dari Australia yang cenderung kering dan stabil.

Sehingga juga mengurangi potensi pembentukan awan hujan pada siang hari.

Tak hanya faktor atmosfer, kondisi lokal seperti efek urban heat island di kawasan perkotaan juga ikut memperparah rasa panas.

Permukaan tanah dan bangunan yang menyerap panas kemudian melepaskannya kembali ke udara, sehingga suhu lingkungan menjadi lebih tinggi.

“Hal ini terutama dirasakan di wilayah dengan kepadatan bangunan yang tinggi,” jelas Satria.

Baca Juga: Pendaftar SMK Bisa Pilih Tiga Jurusan, SPMB SMK 2026 Dibuka dengan Lima Jalur

Adanya kondisi itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai bersiap menghadapi awal musim kemarau.

Warga diminta menjaga kondisi kesehatan di tengah cuaca yang tidak menentu.

Serta menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi panas.

Bagi petani, penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan jenis tanaman juga menjadi penting untuk mengantisipasi perubahan musim.

“Selain itu jangan membakar sampah maupun lahan secara sembarangan guna mencegah risiko kebakaran,” pesannya. 

Satria menambahkan, saat ini Kediri masih berada dalam masa peralihan atau pancaroba menuju musim kemarau.

BMKG memprakirakan awal musim kemarau di wilayah ini akan mulai terjadi pada awal Mei mendatang. Meski demikian, potensi hujan masih tetap ada.

Namun dengan durasi yang lebih singkat dan cakupan wilayah yang tidak merata. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#Kemarau Ekstrem #BMKG