KEDIRI, JP Radar Kediri- Hadirnya Bandara Dhoho bisa semakin membuka akses masyarakat mengunjungi Kediri dan sekitarnya.
Tak terkecuali Kota Kediri yang akan menjadi jujukan maupun kota transit bagi pelancong. Menyambut peluang itu, Pemkot Kediri gencar dengan konsep Kediri City Tourism.
Belum lama ini Kota Kediri mendapat bantuan 200 unit becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto. Selain memfasilitasi tukang becak lansia, becak ramah lingkungan itu juga diproyeksikan mendukung Kediri City Tourism.
Namun, asa menjadikan becak—termasuk becak listrik—sebagai penguat pariwisata itu masih dihadapkan dengan belum adanya regulasi dan manajemen.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Kediri Arief Cholisudin mengatakan, becak listrik itu masih termasuk dalam kategori becak mekanik. Sehingga, tidak bisa disamakan dengan motor atau becak motor sekalipun.
“Perbedaannya ada pada batas maksimal kecepatan. Kalau tidak salah 30 km/jam di aturannya. Tapi kalau motor kan bisa lebih cepat lagi, dan itu yang perlu ada aturan-aturan lagi,” ujar Arief Cholisudin.
Adapun becak motor sedianya tidak boleh beroperasi di jalan raya karena tidak memiliki izin dan standardisasi yang jelas. Berdasarkan aturan, becak hanya boleh melintas di jalan-jalan lingkungan dan ruas jalan yang memiliki jalur sepeda.
“Sebenarnya peruntukan becak itu hanya di jalan lingkungan. Termasuk jalan-jalan kecil. Jadi kalau seperti di Jl Dhoho itu semestinya nggak boleh karena pasti akan menghambat laju lalu lintas,” beber pria yang akrab disapa Cholis itu.
Baca Juga: Wali Kota Kediri Vinanda Siapkan SPLU untuk Menunjang Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo
Terkait pemanfaatan becak—khususnya becak listrik—untuk menunjang pariwisata, Cholis mengatakan memang belum ada regulasi khusus.
Kalau pun ada, itu menjadi kewenangan dinas yang bergerak di bidang pariwisata untuk mengakomodasi dan memberdayakan para tukang becak listrik itu. Utamanya dalam mendukung pariwisata kota.
Cholis menyebut tak menutup kemungkinan becak bisa diintegrasikan dengan transportasi umum yang sudah ada. Salah satunya bus Satria sebagai transportasi massal yang jangkauannya sudah cukup luas.
Itu tak lepas dari aturan becak yang tidak boleh asal berkeliaran di seluruh jalan.
“Mungkin yang mau mengarah ke Gua Selomangleng, bisa dibuatkan pos di sekitar Sukorame sana. Nanti ke sananya bisa pakai moda transportasi Bus Satria. Baru kalau sudah tiba di titik tempat wisata, bisa menggunakan becak lagi,” tandas Cholis terkait potensi pemberdayaan dan pengintegrasian becak untuk mendukung Kediri City Tourism. (ais/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita