Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tren Produksi Padi Kota Kediri Turun Separo, Dipicu Alih Fungsi Lahan dan Penggantian Komoditas

Ayu Ismawati • Selasa, 31 Maret 2026 | 17:28 WIB
Ilustrasi petani yang memanen padi dengan mesin kombi. Di Kota Kediri, produksi padi mengalami penurunan. (Foto: Wahyu Adji)
Ilustrasi petani yang memanen padi dengan mesin kombi. Di Kota Kediri, produksi padi mengalami penurunan. (Foto: Wahyu Adji)

KEDIRI, JP Radar Kediri-Bertolak belakang dengan program ketahanan pangan yang digencarkan Pemerintah Pusat, produksi padi di Kota Kediri susut hingga separo.

Hal tersebut, salah satunya karena alih fungsi lahan hingga penggantian komoditas yang dilakukan petani.

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri yang dipublikasikan di Kota Kediri Dalam Angka 2025, terjadi rentetan penurunan luas panen mulai 2022 hingga 2025. Jika dibandingkan antara 2024 dan 2025 saja, terjadi penurunan luas panenan sebesar 52,7 persen.

Yaitu, dari 1.328 hektare pada 2024, menjadi 628 hektare pada 2025 lalu.

Praktis, penurunan produksi padi juga terjadi selama setahun lalu. Dari 8.392 ton produksi padi 2024, menjadi hanya 3.709 ton di 2025. Dengan demikian penurunannya mencapai 55,8 persen.

Baca Juga: Jasa Persewaan Mesin Potong Padi di Kediri Laris Manis, Panen Raya Jadi Penyebab Utamanya

Dikonfirmasi terkait tren penurunan produksi padi itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kediri Un Achmad Nurdin mengatakan ada beberapa faktor pendorong. Salah satunya pembangunan infrastruktur seperti jalan tol yang memicu alih fungsi lahan.

“Penyebab (lainnya) juga dari alih komoditas yang banyak terjadi,” ungkap Un Achmad.

Tren peralihan komoditas itu terjadi karena beberapa petani memilih komoditas yang dirasa lebih prospektif. Hal tersebut karena biaya produksi padi yang juga relatif tinggi. Padahal, prospek keuntungannya dianggap tidak menentu.

“Tetapi dengan naiknya harga gabah kering panen yang ditetapkan pada tahun 2025 sebesar Rp 6.500, Insya Allah akan banyak yang menanam padi lagi,” beber Un Achmad. 

Sementara itu, di awal tahun ini, panen raya pertama diperkirakan akan terjadi pada April mendatang. Lahan padi yang siap panen seluas 293,74 hektare.

“Prediksi panennya 2.173 ton,” sambung Un. 

Baca Juga: Dukung Pertanian Modern, Petani di Desa Sambiresik Gampengrejo Semprot Padi dengan Drone

Untuk rentang waktu yang sama di tahun lalu, luas panen April mendatang juga menunjukkan penurunan. Luas panen Kota Kediri pada April 2025 lalu mencapai 364 hektare. Produksi padi bisa mencapai mencapai 2.629 ton.

“Sehingga terjadi penurunan luas panen tahun 2026 karena luas panen April 2025 lebih besar dibanding luas panen April 2026,” bebernya.

Soal tren peralihan komoditas di kalangan petani juga dibenarkan Rahmat, 40, salah satu petani asal Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota. Sebelumnya, dia juga seorang petani komoditas padi.

Namun karena biaya produksi yang mahal, belum lagi ancaman gagal panen, membuatnya beralih ke komoditas hortikultura.

“Sudah hampir dua tahun saya ganti ke melon karena kondisi lahannya juga kurang bagus ternyata untuk padi,” ungkapnya. 

Baca Juga: Produksi Padi Kabupaten Kediri Surplus, Sumbang Pasokan Beras Nasional 203 Ribu Ton

Selebihnya, komoditas hortikultura juga bisa memberikan jaminan keuntungan yang lebih besar. Serta pemasarannya yang lebih luas. “Produknya bisa dikirim online sampai ke luar kota. Peminatnya pun tetap ada,” tandas Rahmat.

Editor : Andhika Attar Anindita
#produktivitas padi #petani #padi #Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian #komoditas