KEDIRI, JP Radar Kediri- Hati-hati, penyebaran infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) relatif masih tinggi. Di Kota Kediri saja, sepanjang 2025, ada ratusan kasus baru yang terjadi.
“Sampai akhir tahun diperkirakan bisa 200 lebih (kasus),” kata Hendik Supriyanto, kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri.
Angka yang disodorkan Hendik tersebut mengacu pada temuan institusinya sejak Januari hingga Oktober 2025.
Selama periode itu mereka menemukan 194 kasus baru. Rinciannya 169 kasus HIV. Sedangkan sisanya sudah HIV/AIDS.
Menurutnya tren kasus HIV rata-rata sama dalam beberapa tahun terakhir. Di rentang sekitar 250 kasus.
“Rekapitulasi pendataan masih perlu dilakukan untuk menyimpulkan data selama 2025,” lanjutnya.
Seperti pada 2024 lalu, dinkes mendata temuan kasus baru HIV mencapai 260 orang. Sedangkan pada 2023 temuan HIV di Kota Kediri mencapai 234 kasus. Temuan kasus tertinggi terjadi pada 2022 lalu, mencapai 275 kasus.
Hanya, harus digarisbawahi, tidak seluruh yang terinfeksi adalah warga Kota Kediri. Sebagian disumbang oleh warga luar kota. Jumlahnya bahkan menjadi mayoritas.
“Rata-rata (hanya) seperempatnya itu warga Kota Kediri,” ungkapnya.
Temuan itu tak hanya berasal dari fasilitas kesehatan. Juga dari skrining yang dilakukan melalui mobile voluntary counselling and testing (VCT).
Penjangkauan kepada kelompok masyarakat risiko tinggi itu melibatkan elemen non-pemerintah. Yaitu komunitas atau organisasi yang bergerak di bidang edukasi dan pencegahan HIV/AIDS.
“Kalau penemuan rumah sakit itu biasanya dari kondisi pasien yang sakit, badannya kurus, batuk-batuk terus, nggak sembuh-sembuh. Begitu dites ternyata positif. Kalau temuan dari layanan kesehatan biasanya sudah di tahap lanjut, jadi sudah AIDS,” beber Hendik.
Hendik melanjutkan, hal itu berbeda dengan temuan kasus dari kegiatan mobile VCT. Rata-rata penderita belum sampai ke tahap AIDS. Secara fisik juga masih terlihat baik-baik saja, belum menunjukkan gejala sakit.
Mobile VCT itu menurutnya dilaksanakan sebagai upaya pencegahan. Tindak lanjut tidak hanya dilakukan untuk temuan positif HIV saja.
Melainkan peserta mobile VCT dengan hasil negatif tetap akan diberi konseling. Salah satunya agar mengantisipasi penularan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu.
“Kami juga ada pengobatan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis, Red) untuk pencegahan. PrEP itu sasarannya lebih kepada populasi berisiko seperti LSL (lelaki seks dengan lelaki, Red). Jadi dikasih obat untuk pencegahan dan itu gratis,” urai Hendik.
Berdasarkan data temuan kasus oleh dinas kesehatan, kelompok LSL cenderung lebih rentan terhadap HIV.
Itu karena itu, kelompok tersebut masih menjadi salah satu populasi kunci yang berisiko tinggi terinfeksi HIV.
Untuk itu, upaya promotif berupa edukasi dan konseling hingga pencegahan juga digencarkan pada kelompok tersebut.
“Kalau berdasarkan kelompok umur, yang paling banyak itu dari usia 20 – 29 tahun. Jadi mayoritas masih di usia produktif,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : Andhika Attar Anindita