KEDIRI, JP Radar Kediri- Setiap tahun, langit di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kediri, diramaikan oleh burung-burung kecil yang terbang gesit berkelompok. Kehadiran mereka sering dianggap biasa. Padahal, burung yang dikenal sebagai Layang-Layang Asia ini merupakan pengelana lintas benua yang menempuh ribuan kilometer dari belahan bumi utara.
Spesies bernama ilmiah Hirundo rustica atau Barn Swallow ini menyimpan kisah migrasi panjang, adaptasi luar biasa, dan peran penting bagi keseimbangan ekosistem.
Baca Juga: Burung dari Rusia dan China Migrasi ke Kediri, BBKSDA Imbau Masyarakat Tak Lakukan Perburuan
Layang-layang Asia dikenal dengan nama ilmiah sebagai Barn Swallow (Hirundo rustica), burung dari famili Hirundinidae yang memiliki persebaran paling luas di dunia, yaitu dari belahan bumi Utara sampai Selatan. Mereka ditemukan di Eropa, Asia, Afrika, Amerika, bahkan beberapa populasi bersarang di Australia dan bagian tropis lainnya.
Ciri fisik khas dari Layang-Layang Asia yaitu ukurannya sedang (sekitar 17–20 cm), punggung berwarna biru gelap mengkilap, leher berwarna merah bata, perut putih bersih, dan ekor bercabang dua seperti gunting atau huruf V yang sangat panjang. Menurut Cornell Lab of Ornithology, ciri paling membedakan Barn Swallow dari jenis layang-layang lain adalah ekornya yang bercabang sangat dalam dan punggung biru gelap yang mengilap.
Mayoritas orang Kediri menyamakan burung kecil yang terbang cepat itu walet, padahal mereka berbeda. Layang-Layang Asia memiliki jari yang kuat untuk bertengger di kabel listrik atau ranting pohon, sedangkan walet memiliki kaki yang lemah dan tidak bisa bertengger di kabel. Kalau kamu lihat burung berjejer di kabel listrik, itu pasti bukan walet.
Baca Juga: Gegerkan Warga Cerme Grogol Kediri, Ular Piton 3 Meter Akhirnya Berhasil Dievakuasi dari Pemukiman
Habitat dan Perilaku Layang-Layang Asia
Layang-Layang Asia (Barn Swallow) sangat adaptif. Habitatnya terbuka, seperti padang rumput, lahan basah, dan area pertanian. Mereka membangun sarang di atap bangunan, gudang, atau jembatan menggunakan lumpur dan dibentuk menyerupai cangkir.
Mereka adalah burung insektivora yang memakan serangga, seperti lalat, nyamuk, wereng, dan ngengat sambil terbang. Satu ekor Layang-Layang Asia bisa memakan ratusan hingga ribuan serangga hama per hari. Jadi, kedatangan mereka ke sawah Kediri sebenarnya sangat membantu para petani. Mereka jarang mendarat di tanah. Mereka terbang rendah menyambar permukaan air sungai untuk minum, lalu terbang lagi.
Saat terbang, mereka tidak punya Google Maps. Mereka terbang menggunakan posisi matahari dan insting navigasi magnet bumi sebagai kompas. Jadwal “penerbangan” mereka dimulai dari bulan Oktober sampai Maret. Mereka biasa berkelompok besar, terutama saat migrasi atau di tempat istirahat, bahkan hingga ribuan individu.
Layang-Layang Asia bukan sekadar burung migran yang singgah di Kediri. Mereka adalah ikon migrasi lintas benua dengan peran penting dalam ekosistem global. Fenomena Layang-Layang Asia melakukan migrasi ke Kediri merupakan fenomena tahunan yang alami. Namun, ada imbauan agar masyarakat tidak melakukan perburuan terhadap burung ini karena fungsinya yang penting dalam ekosistem.
Penulis adalah Dita Citra Oktaviana, Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : rekian