KEDIRI, JP Radar Kediri- UPT PPA DP3AP2KB Kota Kediri telah melakukan terminasi psikologi kepada dua korban pencabulan yaitu Mawar dan Melati, asal Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.
Itu setelah dua korban tidak minder dan memiliki rasa percaya diri kembali. Kepala UPT PPA DP3AP2KB Kota Kediri Suwarsi mengatakan, kondisi anak-anak sudah jauh lebih baik dibandingkan awal-awal saat bertemu. Sudah kembali ceria seperti biasanya.
“Kami sudah pada tahap akhir atau terminasi psikologi. Berdasarkan hasil pemantauan psikologis korban juga sudah baik. Jadi kami bisa berani untuk melepas,” ujar perempuan yang akrab disapa Warsi.
Ya, sebelum mengakhiri masa konseling, Warsi memastikan anak-anak sudah merasa nyaman di lingkungan.
Termasuk sudah mau berangkat ke sekolah dan bergaul dengan orang lain. Dengan kondisi yang dapat dipastikan pulih ini diakui jika tetap perlu dilakukan pemantauan secara berkala.
Sebab ditakutkan apabila trauma itu muncul secara tiba-tiba dan tanpa penangananan yang tepat akan membuat kondisinya semakin memburuk.
“Meskipun sudah pada tahap terminasi psikologi atau tahap akhir dari konseling, saya tetap memantau melalui orang tuanya. Kami pun juga menyampaikan apabila ibu korban membutuhkan bantuan jangan ragu untuk menyampaikan,” tuturnya.
Informasi yang dihimpun wartawan Jawa Pos Radar Kediri, korban masih memiliki trauma. Terlebih saat mengingat peristiwa kelam yang dialami. Baik sekadar melihat maupun mendengarkan suara pelaku.
Itu terbukti saat korban menangis ketika mendapat panggilan untuk memberikan keterangan di pengadilan negeri (PN) Kota Kediri.
“Malamnya sebelum datang ke pengadilan korban menangis. Memang sudah dinyatakan sembuh namun trauma tetap ada,” tandasnya.
Oleh karenanya, ketika ada kesempatan untuk bertemu, Warsi berupaya untuk memberikan semangat dan petuah kepada korban.
Yaitu ambil baiknya atas kejadian ini dengan tidak mudah percaya kepada orang lain. Termasuk jangan mudah mau untuk disentuh-sentuh secara sembarangan.
Tidak lupa, dia juga meminta agar korban menjadikan orang tua sebagai teman. Apapun yang sedang dialami jangan sungkan untuk diceritakan kepada ayah Ibu. Sebab hanya mereka yang bisa memberi arahan maupun perlindungan.
“Termasuk juga saya berharap ada sosialisasi ke sekolah-sekolah terkait kekerasan seksual ini. Agar siswa mengerti bagaimana cara bertindak yang tepat sebelum menjadi korban,” pungkasnya.
Seperti diberitakan, kasus pencabulan kembali terjadi di wilayah Kota Kediri. Kali ini aksi tidak senonoh itu menimpa Mawar, 10; dan Melati, 11.
Mereka dicabuli oleh FAAL, 18, siswa SMA yang sekaligus merupakan guru ngaji dua bocah tersebut. Aksi bejat FAAL itu terbongkar saat Melati, 11, mengadu kepada ibunya bahwa dia punya utang kepada pelaku.
Untuk mengurangi utangnya, dia diajak untuk bersetubuh secara verbal. Beruntung, hal tersebut diketahui oleh sang ibu melalui percakapan WhatsApp.
Nahasnya, keponakannya, sebut saja Mawar, justru sudah dicabuli sekaligus disetubuhi. Menjadi korban pencabulan selama dua tahun terakhir membuat kondisi psikologis Mawar sangat memprihatinkan. (la/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita