Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Waspada! Puncak Wabah DBD di Musim Penghujan, Tiga Bulan Dinkes Kediri Temukan 60 Kasus

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 16 Januari 2026 | 08:00 WIB

 

Petugas lakukan fogging di rumah warga. Musim penghujan rawan DBD, dinkes minta masyarakat waspada
Petugas lakukan fogging di rumah warga. Musim penghujan rawan DBD, dinkes minta masyarakat waspada

KEDIRI, JP Radar Kediri-Kasus demam berdarah dengue (DBD) merangkak naik pada musim penghujan tiga bulan terakhir.

Mewaspadai lonjakan kasus, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, dalam tiga bulan terakhir ada peningkatan 60 kasus.

Yaitu pada Oktober 2025 18 kasus, serta November dan Desember masing-masing 22 dan 20 kasus. Adapun di dua minggu pertama Januari ini sudah ada tiga kasus baru.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib melalui Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Retno Handayani mengatakan, dibanding tahun lalu temuan kasus tahun ini memang relatif menurun.

Namun, jika dibanding beberapa bulan terakhir ada sedikit kenaikan. Dia mencontohkan, pada 2024 lalu ditemukan 570 kasus, sedangkan 2025 hanya 307 kasus.

“Memang dibandingkan 2024 terjadi penurunan. Tapi tetap kami katakan masih tinggi,” kata Retno sembari menyebut kasus DBD cenderung tinggi di awal tahun.

Terkait masih banyaknya kasus DBD, menurut Retno hal itu karena rendahnya kesadaran masyarakat dalam pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Apalagi, kondisi musim hujan yang kini cenderung ekstrem turut meningkatkan risiko penularan.

Karenanya, masyarakat harus mencegah risiko penularannya. Dinkes, jelas Retno, telah melakukan berbagai upaya untuk menggerakkan masyarakat agar melakukan pemberantasan sarang nyamuk.

Di antaranya dengan sosialisasi rutin, penyebaran flyer melalui media sosial, hingga edukasi langsung kepada masyarakat melalui kader kesehatan.

“Survei jentik berkala sudah dilakukan kader dan hasil sudah disampaikan pada saat lintas sektor di kecamatan untuk di sampaikan ke Desa,” jelasnya.

Dari sisi layanan kesehatan, jelas Retno, puskesmas bersama kader sudah diminta untuk tetap siaga.

“Setiap temuan kasus DBD akan langsung ditindaklanjuti melalui penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengetahui sumber penularan,” paparnya.

 Hasil PE jadi dasar penentuan langkah penanggulangan. Yakni, apakah cukup dengan pemberantasan sarang nyamuk atau perlu dilakukan pengasapan atau fogging.

Untuk memaksimalkan pencegahan, Retno meminta masyarakat rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin.

“Jika demam lebih dari tiga hari harus memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” pintanya.

Editor : Andhika Attar Anindita