JP Radar Kediri - Petani Desa Sambiresik mulai menerapkan berbagai teknologi modern untuk menunjang produktivitas pertanian. Inovasi yang digunakan mencakup penggunaan drone untuk penyiraman, mesin panen otomatis (combine harvester), hingga traktor.
Terobosan terbaru yang dilakukan adalah pemanfaatan drone untuk penyemprotan pupuk cair ke lahan pertanian. Pada Desember ini, Kelompok Tani Desa Sambiresik menerima bantuan drone pertanian melalui program corporate social responsibility (CSR) dari Snack Video.
“Fungsi drone sebagai sprayer tanaman, bisa digunakan untuk lahan jagung, padi, maupun komoditas lainnya,” ungkap Ketua Kelompok Tani Dusun Nggenengan, Desa Sambiresik Hanis Sujarwanto.
Penggunaan drone pertanian ini dinilai sangat memudahkan petani dalam hal alokasi waktu dan tenaga kerja dibandingkan penyemprotan manual. Hal ini sekaligus menjadi langkah nyata dalam penerapan modernisasi pertanian di tingkat desa.
Untuk pengoperasiannya, telah ditunjuk tiga orang yang terdiri dari dua petani setempat dan satu orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Ketiganya mengikuti pelatihan khusus yang diselenggarakan oleh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP).
“Mereka dilatih selama seminggu di Tangerang agar nantinya bisa mengoperasikan alat tersebut secara mandiri,” jelas Hanis.
Saat ini, penggunaan drone masih difokuskan pada lahan Demonstration Plot (Demplot) padi di tanah kas desa (TKD). Namun, Hanis mengatakan bahwa ke depannya drone tersebut akan disewakan bagi petani. Baik yang berasal dari dalam maupun luar Desa Sambiresik.
Terkait biaya sewa, rencananya akan dikenakan per 100 ru. Namun, harga pastinya belum ditetapkan karena masih menghitung biaya perawatan dan operasional lainnya.
“Banyak petani yang mulai tertarik. Hanya saja prosesnya membutuhkan waktu karena kami harus melakukan pemetaan (mapping) terlebih dahulu pada setiap lahan yang akan disemprot,” tuturnya.
Drone pertanian ini memiliki kapasitas tangka 10 liter yang mampu mencakup luas lahan sekitar 300 ru. Baterainya dapat bertahan selama 8 menit dan membutuhkan waktu pengisian daya selama 10 menit. Mengingat daya listrik yang dibutuhkan cukup besar, minimal 3.500 watt. Operasional di lapangan memerlukan persiapan khusus.
Hanis menambahkan, nantinya tim operator perlu membawa genset untuk memudahkan mobilisasi dari satu lahan ke lahan lainnya. Hal ini dilakukan karena pengisian daya pada listrik rumahan dikhawatirkan tidak akan kuat menanggung beban listrik alat tersebut.
Baca Juga: Pemdes Kwadungan Ngasem Kediri Konsisten Ajak Warga Jaga Kebersihan Lingkungan
Editor : Andhika Attar Anindita