Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Belasan Dapur MBG Tutup gara-gara Dana Tak Cair, Puluhan Ribu Siswa pun Jadi Korbannya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 19 Desember 2025 | 19:52 WIB

 

Ilustrasi dapur MBG berhenti beroperasi
Ilustrasi dapur MBG berhenti beroperasi

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Kasus mandeknya distribusi paket makan bergizi gratis (MBG) tidak hanya terjadi di Kota Kediri. Di Kabupaten Kediri sedikitnya ada 42 ribu siswa yang tidak lagi mendapat paket makanan. Hal tersebut buntut tidak beroperasinya 14 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur MBG.

          Mandeknya pelayanan MBG di sejumlah sekolah itu, di antaranya diumumkan di akun media sosial mereka. Seperti SPPG Gampengrejo Ngebrak, yang mengunggah video di TikTok. Isinya tentang pernyataan penghentian sementara MBG sejak kemarin (18/12).

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, di SPPG Ngebrak kemarin memang tidak ada aktivitas operasional. Kantor dalam kondisi sepi. Beberapa unit mobil pengangkut MBG berlogo Badan Gizi Nasional terparkir rapi di dalam. Sedangkan gerbangnya digembok.

Selain SPPG Gampengrejo Ngebrak, SPPG Kras Nyawangan 1 juga berhenti membagikan MBG. “Berhenti (kirim MBG) sejak Senin (15/12),” kata Koordinator MBG SMPN 1 Kras Titik Ilmiyah.

Titik mengatakan, sekolahnya menerima MBG sejak 17 Februari lalu. Namun, sejak Senin lalu tiba-tiga pengiriman MBG diliburkan. Seperti penghentian MBG di Kota Kediri, SPPG berhenti beroperasi sementara karena anggaran dari pusat belum cair. “Jadinya belanja untuk bahan masaknya nggak bisa,” terang Titik sembari menyebut penghentian pengiriman MBG dilakukan dalam waktu yang tidak diketahui.

Perempuan yang juga kepala Tata Usaha SMPN 1 Kras itu berharap paket MBG segera dibagikan lagi. Sebab, keberadaan paket makanan gratis itu membuat anak-anak lebih bersemangat.

Hal senada juga terjadi di SMPN 3 Grogol. SPPG Grogol Cerme yang biasanya mengirimkan MBG di sekolah yang terletak di Kecamatan Tarokan itu juga berhenti operasi sejak 12 Desember lalu.

Waka Humas SMPN 3 Grogol Riyos Aldi Juniawan mengatakan, sekolahnya menerima MBG sejak 8 September lalu. Namun, baru tiga bulan berjalan, pengiriman makanan mandek pada 12 Desember lalu.

“Sudah libur sejak minggu lalu, saat waktu ulangan-ulangan,” jelas Riyos membenarkan pengiriman makanan mandek karena dana dari pusat belum turun.

          Seperti SPPG lain, SPPG di Grogol ini juga belum bisa memastikan sampai kapan penghentian MBG dilakukan. “Kasihan anak-anak, kadung njagakne karena MBG ini menjadi pemicu semangat anak-anak. Saat berangkat itu semangat karena ada MBG,” tandasnya berharap MBG bergulir lagi.

          Menurut Riyos, paket makan gratis itu sangat ditunggu anak-anak. Apalagi, mayoritas siswa di sana merupakan kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Terpisah, Koordinator SPPG Kabupaten Kediri Ahmad Gunawan membenarkan terkait adanya SPPG yang harus berhenti sementara. “Ada 14 SPPG,” tuturnya sembari menyebut jumlah itu relatif sedikit dibanding kabupaten lain di Jatim.

“Kendala bukan di sini saja. Tapi seluruh Indonesia,” aku Gunawan sembari membenarkan tentang kendala anggaran dari pusat yang belum ditransfer.

SPPG, jelas Gunawan, sudah mengirimkan proposal pengajuan anggaran sebelum uang habis. Namun, mereka memang masih harus menunggu pencairan.

Sesuai hasil pertemuan online, BGN menyebut pada 28 Desember saldo SPPG harus nol atau ditarik untuk tutup buku. Setelah mekanisme anggaran di akhir tahun ini, menurut Gunawan mereka tinggal menunggu dana cair agar bisa beroperasi lagi.

          “Bukan mandek permanen. Setelah libur panjang Natal dan tahun baru akan ada program MBG lagi,” tandas Gunawan meminta anak-anak bersabar.

          Seperti diberitakan, di Kota Kediri ada delapan SPPG yang tutup sementara. Sedikitnya ada 24.966 siswa di Kota Kediri yang tidak lagi menerima paket MBG sejak Rabu (17/12) lalu.

          Hingga kemarin jumlah SPPG yang tutup di Kota Kediri masih belum bertambah. Sebanyak 21 SPPG lain masih tetap beroperasi. Di antaranya SPPG Blabak, SPPG Banaran, dan SPPG Sukorame 3. Hingga kemarin, dapur-dapur itu masih memproduksi MBG. Itu terungkap dari beberapa sekolah penerima manfaat dan mitra penyalur yang mengaku masih menerima MBG kemarin.

          “Masih operasional (MBG dari SPPG Sukorame 3, Red). Termasuk untuk sasaran ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan bayi bawah lima tahun (balita) non-paud hari ini masih,” ungkap Pratiwi, salah satu anggota Tim Pendamping Keluarga Kecamatan Mojoroto, mitra penyalur MBG untuk kelompok rentan 3B (bumil, busui, balita).

          Hal serupa disampaikan guru di SDN Bangsal 3. Di sana, penyaluran MBG dilakukan oleh SPPG Banaran. Hingga kemarin, seluruh siswa di sana masih tetap menerima distribusi MBG. “Masih jalan dan belum ada pemberitahuan soal rencana berhenti operasional sementara,” ungkap Badrul Munir, salah satu guru SDN Bangsal 3. 

          Kepala SPPG Tempurejo Rini Eka Setyawati mengatakan, operasional dapur yang berhenti sementara bukan disebabkan kendala teknis. Melainkan karena dana periode Desember yang belum cair. “Semua serentak dana periode ini belum cair. Karena akhir tahun anggaran harus dinolkan (saldonya, Red),” ujarnya tentang alasan SPPG-nya berhenti beroperasi.

          Operasional dapur akan kembali berjalan begitu anggaran sudah dicairkan dari Pusat. Rini memperkirakan, operasional bisa kembali dilakukan pekan depan. Yakni saat bantuan pemerintah (banper) sudah masuk virtual akun masing-masing SPPG.

          “Memang untuk akhir tahun dana anggaran di setiap dapur harus dinolkan. Mungkin ini kebijakan pemerintah agar mudah untuk quality control-nya,” tegasnya.(*)

Editor : Mahfud
#distribusi #medsos #SPPG #dapur MBG