Jalan Kaki Berkilo-kilo Meter, Gelantungan di Tebing Curam
Mereka anak-anak muda yang mayoritas masih belasan tahun. Rela melakukan hal-hal sulit yang berisiko. Semuanya demi berbuat lebih bagi bumi yang mereka tempati.
AYU ISMA, Kabupaten, JP Radar Kediri
Septi Lusiana Putri percaya diri menuruni bibir jurang. Perlahan dia menjejakkan kaki, dengan posisi mundur, di tanah dengan kemiringan yang relatif ekstrem itu. Tangannya memegang karmantel. Tali yang biasa digunakan para pemanjat tebing itu terikat dengan pinggangnya.
Remaja berusia 22 tahun itu tak takut melakukan aksi berbahaya itu. Selain telah mengikuti arahan dari profesional, ujung tali satunya juga terhubung dengan relawan dari komunitas Vertical Rescue Indonesia Kediri. Membuatnya sangat percaya diri meskipun belum pernah melakukan pemanjatan tebing sebelum ini.
“Sebenarnya saya sudah ingin ikut kegiatan penanaman pohon ini dari dulu. Tapi belum ada jalannya. Jadi baru kali ini ikut penanaman pohon di Gunung Kelud,” ucap mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Kediri itu.
Septi adalah salah seorang relawan dalam aksi penanaman pohon di Gunung Kelud, Minggu (30/11). Jumlahnya ratusan orang. Meluangkan waktu menjalankan misi mulia. Memulihkan ekosistem Gunung Kelud.
Tugas Septi adalah menanam bibit pohon di tanah yang memiliki kemiringan ekstrem. Karena itulah perlu dibantu dengan tali selayaknya pemanjat tebing. Setelah lima meter di bawah bibir jurang, relawan lainnya mengulurkan sebatang linggis. Juga bibit tanaman alpukat setinggi satu meteran yang berada dalam polibag kecil,
Hati-hati sekali gadis ini menancapkan linggis ke tanah. Membuat lubang di tanah miring itu. Tekstur tanah yang berbatu membuatnya hanya bisa ditembus dengan alat seperti itu. Bila tidak linggis ya ganco, alat yang mirip cangkul bermata dua yang biasa digunakan membelah batu.
Usai menanam bibit pohon di tebing jurang itu, tak lupa tanah di sekitarnya disiram dengan cairan pupuk organik cair (POC). Tujuannya mempercepat pertumbuhan bibit pohon.
Minggu itu (30/11) Septi dan lebih dari 160 relawan dari Kediri dan Blitar menanam pohon di Gunung Kelud. Sasarannya lahan-lahan yang masih gundul di sepanjang jalan menuju puncak atau kawah Kelud.
Anak-anak muda itu berasal dari berbagai latar belakang dan komunitas. Mayoritas mahasiswa dan organisasi pecinta alam. Disatukan oleh satu tujuan, melakukan sesuatu demi kelestarian lingkungan.
Animo para gen-Z ikut menyelamatkan lingkungan sangat besar. Buktinya, begitu dibuka langsung dibanjiri pendaftar. Padahal baru diunggah di media sosial.
Tak hanya kecuraman lokasi yang menjadi tantangan. Luasnya area yang harus ditanami juga jadi persoalan lain. Para relawan harus berjalan sejauh 2,5 kilometer. Menyisir lahan yang masih kosong. Termasuk di lereng tebing yang curam dengan bantuan alat pemanjat tebing dan pendampingan profesional. Semua itu mereka lakukan demi memulihkan ekosistem. Juga bentuk kepedulian mereka dalam menjaga ibu bumi.
“Ada beberapa lokasi yang masih minim vegetasi. Karena memang Kelud adalah gunung berapi yang sebenarnya sulit untuk ditanami,” ungkap Koordinator Aksi Penanaman Pohon Gunung Kelud Endang Pertiwi.
Beberapa kali upaya penanaman pohon kurang bisa maksimal. Banyak bibit yang pertumbuhannya lambat. Bahkan hingga mati karena stres akibat kondisi lingkungan yang ekstrem.
Penyebabnya, permukaan tanah Kelud didominasi material kerikil dan bebatuan. Menjadikan bibit yang ditanam tak mampu tumbuh dengan baik.
Namun, itu tak membuat semangat redup. Kali ini mereka mencoba menambahkan pupuk organik cair (POC) setiap kali menanam. Mereka meyakini, dari setiap bibit pohon yang ditanam ada tanggung jawab untuk memastikannya bisa tumbuh dengan baik. Menjadi fondasi ekosistem gunung yang menghubungkan tiga wilayah administratif di Jawa Timur tersebut.
“Ini masih uji coba (penambahan pupuk organik cair pada bibit, Red). Insya Allah kami akan secara bertahap memberikan POC dan melihat perkembangan pertumbuhannya,” sambung perempuan yang juga ketua organisasi lingkungan hidup Yayasan Hijau Daun Mandiri itu.
Total ada 135 bibit pohon yang mereka tanam hari itu. Terdiri dari pohon jenis ficus seperti trembesi dan mahoni hingga beberapa jenis pohon buah-buahan. Sebelumnya, penanaman pohon di Gunung Kelud disiasati dengan menambahkan media tanam. Sayangnya, banyak bibit pohon yang masih lambat pertumbuhannya.
Lebih jauh Endang menambahkan, penanaman pohon di puncak Gunung Kelud itu juga bagian dari memperingati Hari Menanam Pohon yang jatuh pada 28 November lalu. Pegiat lingkungan hidup itu menyoroti tentang langkah pelestarian alam yang sudah menjadi keniscayaan saat ini.
Melihat banyaknya bencana ekologis yang dipicu deforestasi seperti yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara saat ini, langkah konkret sudah saatnya dilakukan. Dan langkah sederhana yang bisa dilakukan semua orang adalah dengan mulai menanam pohon dan bijak mengelola sampah.
“Kami juga sekaligus menempatkan 10 bak sampah di sepanjang jalur wisata dari parkir sampai puncak untuk memberikan fasilitas agar para wisatawan tidak membuang sampah sembarangan, asal lempar ke jurang ataupun lokasi-lokasi yang seharusnya bukan tempat untuk buang sampah,” tandasnya.
Editor : Mahfud