Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Duka Keluarga Desy Widyana, Pekerja Migran Korban Kebakaran Hebat di Hongkong

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 3 Desember 2025 | 18:41 WIB
Desy sempat menelepon sang bibi, mengabarkan akan pulang akhir tahun ini. Niatannya ingin memberi kejutan kedua orang tuanya. Keinginannya itu terkabul, namun dengan cara yang berbeda.
Desy sempat menelepon sang bibi, mengabarkan akan pulang akhir tahun ini. Niatannya ingin memberi kejutan kedua orang tuanya. Keinginannya itu terkabul, namun dengan cara yang berbeda.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Palal baru saja salah Dhuhur di musala dekat rumahnya. Wajahnya semula tegar, berjalan tenang menuju rumahnya, di Dusun Muning, Desa Selodono, Kecamatan Ringinrejo.

Sesampai di rumah, ketegarannya langsung luruh. Serombongan tamu yang tiba lebih dulu membuatnya gagal membendung tangis. Lebih-lebih ketika Kepala Desa Selodono, Suyono, merangkulnya. Kemudian bergantian Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kediri Ibnu Imad dan tamu lain melakukan hal serupa. Memberi ucapan bela sungkawa dan penyemangat agar tetap tegar.

“Gak menyangka,” ucap lelaki 60 tahun itu disela sedu-sedan.

Sang istri, Sri Suprihatin, tak jauh beda. Duduk di sebelah Palal, kondisinya lemas. Sesekali terlihat melamun, matanya menerawang jauh. Seperti menyesali kematian anaknya yang tragis.

Dua orang tersebut adalah ayah dan ibu Desy Widyana. Pekerja migran yang menjadi korban kebakaran apartemen Wang Fuk Court di Hongkong. Perempuan 40 tahun ini bekerja di daerah yang menjadi special administrative region (SAR) Tiongkok sejak 2005. Menjadi asisten rumah tangga. Merawat seorang lansia.

"Sudah 20 tahun," kenang Palal. Matanya masih berkaca-kaca ketika mengatakan hal tersebut.

Sehari-hari Palal dan Sri tidak tinggal di desanya. Melainkan merantau ke Sampit, Kalimantan Tengah. Bekerja sebagai penjual minuman. Saat menerima kabar duka, Jumat (28/11) keduanya juga masih berada di sana. Kemudian memutuskan balik ke Kediri, menyiapkan segala sesuatu terkait kepulangan jenazah sang anak.

Soal firasat buruk, pasangan ini mengaku tak merasakan. Namun, sang bibi-Endang Purwati-justru mengalaminya. Adik Sri tersebut bermimpi aneh. Rumah korban terlihat ramai.

"Kerabat itu sebelum-sebelumnya mimpi. Ada yang mimpi rumahnya ramai. Ada yang mimpi kalau rumah itu ada hajatan," terang Endang.

Namun, tidak ada yang mengira bahwa ternyata itu adalah tanda-tanda akan terjadi peristiwa kelam yang menimpa keponakannya. "Gak ada firasat. Tapi ya mimpi itu. Tapi gak tahu kalau ternyata ada kejadian itu," jelasnya.

Dia mengatakan, sekitar dua bulan sebelumnya, keponakannya itu juga meneleponnya. Kaitannya bahwa dia hendak pulang ke Kediri sebelum tahun baru. Dia meminta agar Endang berjanji tidak memberitahu Palal dan Sri. Niatnya memberikan kejutan.

"Katanya pulang mau ngeprank (memberi kejutan, Red) orang tuanya. Biasa kan di sosmed itu pulang merantau terus ngeprank  ke orang tua kalau sudah pulang," jelasnya.

Dan benar, Desy akan pulang. Dan itupun juga menjadi kejutan untuk orang tua dan sanak keluarga. Namun tidak seperti harapan, dia pulang dengan kondisi sudah meninggal dunia. Yang tentu itu membuat keluarga, utamanya orang tua sangat terkejut.

"Beneran pulang. Tapi gak seperti yang diinginkan," desah Endang sembari meneteskan air mata.

Kabarnya, saat ini kepolisian Hongkong masih melakukan penyelidikan. Termasuk pada tubuh Desy yang menjalani otopsi.

"Kemarin itu dari KJRI minta persetujuan boleh dilakukan otopsi atau tidak," jelas Palal.

"Dan kami sudah mengirim semua berkas-berkasnya," imbuh laki-laki yang sudah penuh kerutan di wajah itu.

Keluarga berharap, agar jenazah Desy bisa segera dipulangkan. Karena, rencananya keluarga akan mengebumikan di kampung halaman.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#pekerja #kediri #hongkong #kediri raya #pekerja migran #kabar duka