KEDIRI, JP Radar Kediri- Hujan deras selama beberapa jam yang mengguyur Kediri sejak pukul 15.00 hingga pukul 18.00, Minggu (16/11) lalu, membuat 62 rumah warga di Desa Manyaran, Banyakan terendam banjir.
Tidak hanya itu, sebanyak 50 siswa TK juga harus libur dadakan karena tempat belajar mereka tak luput dari luapan air bah.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, air bah mulai masuk ke perkampungan warga di Dusun Putat, Desa Manyaran, Banyakan sekitar pukul 18.00.
Ketinggian air bervariasi. Mulai sekitar 50 sentimeter hingga 10 sentimeter. Tergantung letak rumah warga.
“Sejak Maghrib sudah mulai banjir,” kata Kepala TK Dharma Wanita Manyaran 1 Aininarterie Pramuti Hamzah.
Selain 62 rumah warga di Dusun Putat, sekolah yang dipimpin Aini juga tak luput dari bencana.
Air bah mulai masuk ke kelas pukul 18.30. Aini yang mendapat laporan dari warga pun langsung bergegas ke sekolah. Padahal, di saat yang sama rumahnya juga kemasukan air.
Meski sudah berusaha datang ke TK untuk menyelamatkan peralatan belajar, ternyata air telanjur membasahi karpet dan peralatan belajar lain yang ada di bawah.
“Untungnya IFP (interactive flat panel), buku-buku, dan beberapa barang lain berhasil diselamatkan,” lanjutnya.
Meski banyak peralatan pembelajaran yang berhasil diselamatkan, menurut Aini kondisi sekolah tetap membahayakan untuk anak-anak. Sebab, lantai dalam kondisi licin.
Sedangkan halaman yang masih berupa tanah juga masih tertutup lumpur dan air belum sepenuhnya surut.
Sehingga, tidak memungkinkan untuk beraktivitas anak-anak. “Anak-anak kami liburkan dua hari agar tidak terpeleset karena lantai licin,” lanjut.
Terpisah, Wisnu Adi Prasetyo, 20, salah satu warga mengatakan, selain rumahnya yang terdampak, bengkel miliknya juga tidak luput dari bencana.
Beberapa unit motor milik pelanggan hingga sparepart di dalam bengkel terendam air bah. Seperti halnya TK Dharma Wanita, dia juga harus menutup bengkelnya. “Harus dibersihkan dulu,” tutur Wisnu.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno membenarkan tentang bencana banjir yang membuat 62 rumah warga di Manyaran terendam.
“Ada 62 rumah yang terdampak, mulai dari RT 1, 2, dan 3 di RW I. Untuk RW II yang terdampak hanya RT 1,” ungkap Djoko.
Selain puluhan rumah tersebut, air bah juga merendam 20 hektare tanaman padi.
Hingga kemarin staf BPBD masih melakukan asesmen untuk menghitung kemungkinan adanya dampak gagal panen akibat bencana. “Air baru surut pukul 01.00 dini hari,” terangnya.
Untuk diketahui, hujan deras Minggu sore lalu juga membuat Desa Sepawon, Plosoklaten dilanda bencana banjir.
Bedanya, air bah di sana tidak masuk ke rumah warga. Melainkan, air yang berhulu di Gunung Kelud itu menggerus jalan raya. “Aspal mengelupas tergerus air bah,” papar Djoko.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri Lukman Soleh melalui Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik Satria Kridha Nugraha mengatakan, hujan deras Minggu sore itu akibat fenomena La Nina dan IOD (Indian Ocean Dipole) Negatif.
”IOD negatif itu sama seperti La Nina, tapi lokasinya berbeda. Kalau La Nina di Samudera Pasifik, sedangkan IOD di Samudra Hindia,” jelasnya.
Apakah dalam beberapa hari ke depan masih akan turun hujan deras lagi? Menurut Satria meski masih akan turť.
Melainkan hanya intensitas rendah dan sedang. “Kalau kemarin (16/11) itu intensitas sedang-lebat,” tandas Satria.
Editor : Andhika Attar Anindita