Tampil Spektakuler, Gudang Garam Hadirkan ‘Samudra Kasetya’ di Dhoho Night Carnival
KOTA, JP Radar Kediri - Pemkot Kediri punya alasan mengubah Kediri Night Carnival menjadi Dhoho Night Carnival. Hal itu dilakukan sebagai upaya melakukan branding baru. Sekaligus melakukan upaya mewujudkan Kediri City Tourism.
Berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, even karnaval malam hari kali ini menonjolkan Jalan Dhoho sebagai pusat pelaksanaan. Rutenya tak lagi mulai dari depan Stadion Brawijaya. Melainkan di depan Masjid Agung atau Alun-Alun Kota Kediri.
“Sejak 2015 sampai 2024 kita mengenal ini sebagai Kediri Night Carnival. Kali ini kami hadir dengan wajah baru, Dhoho Night Carnival,” ucap Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, sebelum membuka acara yang berlangsung Sabtu malam (15/11) itu.
Transformasi itu menjadi komitmen Pemkot Kediri mewujudkan Kediri City Tourism. Salah satunya dengan mengangkat nama Jalan Dhoho sebagai salah satu ruas jalan ikonik di Kota Kediri.
“Sekaligus penegasan identitas bahwa Jalan Dhoho merupakan rohnya Kota Kediri. Jadi kalau orang luar daerah dengar ada kegiatan di Jalan Dhoho, berarti itu lokasinya di Kota Kediri,” tandas wali kota termuda ini.
Tak hanya lokasi yang berubah. Jumlah peserta juga berbeda. Tahun ini lebih sedikit, hanya 40 kontingen. Sedangkan tahun lalu mencapai 51 kontingen.
Menurut Vinanda, hal itu karena pihak pemkot melakukan kurasi. Dari 60 kontingen yang mendaftar tidak seluruhnya disetujui. Kurasi ini sebagai upaya berbenah. Agar bisa menghadirkan pertunjukan yang lebih baik dan optimal.
“DNC ini salah satu wujud komitmen kami mewadahi kreativitas pegiat fesyen dan seniman untuk memamerkan karyanya. Harapannya event ini bisa memberikan economic effect yang positif,” ucap Vinanda.
Tema yang diusung tahun ini adalah “Glow Green”. Diwujudkan dengan semangat keberlanjutan lingkungan. Parade budaya ini menekankan kombinasi kreativitas dan kepedulian lingkungan. Para peserta pun menampilkan karya kostum dari bahan daur ulang seperti kertas, plastik, dan lain sebagainya.
Tak hanya kontingen dari dalam kota, ada juga dari luar daerah yang berpartisipasi. Di antaranya Kabupaten Kediri, Kota Surakarta, Kota Yogyakarta, Madiun, Trenggalek, Malang, dan Pamekasan. Total ada 10 kontingen luar daerah yang ikut serta.
Salah satu kontingen yang berpartisipasi adalah PT Gudang Garam Tbk. Tahun ini, PT Gudang Garam mengusung konsep keharmonisan antara manusia dan alam. Karya spektakuler yang ditampilkan tahun ini berjudul “Samudra Kasetya: Janji Abadi di Laut Selatan”.
Kepala Bidang Humas PT Gudang Garam Tbk Iwhan Tri Cahyono mengatakan, keikutsertaan dalam karnaval ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam melestarikan budaya. Serta, mempromosikan pesan keberlanjutan lingkungan yang sejalan dengan tema “Glow Green 2025”
“Melalui tema Samudra Kasetya, kami ingin menghadirkan keindahan legenda Nusantara. Bukan hanya menampilkan visual memukau tetapi juga menyampaikan pesan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas,” ujar Iwhan.
Makna kasetya dalam bahasa Jawa berarti kesetiaan. Menggambarkan ikatan spiritual abadi antara Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul, sang Ratu Laut Selatan. Kisah ini sekaligus menjadi suguhan utama DNC 2025, yang memadukan keindahan visual, kekuatan musik tradisional, dan filosofi budaya Jawa dalam kemasan modern dan ramah lingkungan.
Dalam penampilan itu, gemerlap lampu hijau, pantulan cahaya laut, dan aroma dupa seakan menyihir lautan penonton yang sudah menyemut sejak sore. Penonton diajak menyelami perjalanan spiritual Panembahan Senopati, seorang raja muda yang mencari restu alam semesta untuk mendirikan Kerajaan Mataram. Pencarian itu membawanya pada pertemuan takdir dengan Nyi Roro Kidul dalam kisah cinta, kesetiaan, dan kekuasaan yang melampaui batas dunia. (ais/fud)
Editor : Miko