Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Problem Tol Kediri-Kertosono Belum Terurai, Warga Tiron Masih Menyoal, Tentang Apa?

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 14 November 2025 | 21:08 WIB
MINTA KEJELASAN: Seratusan warga Desa Tiron mendatangi kantor DPRD Kabupaten Kediri (13/11), meminta wakil rakyat memfasilitasi pertemuan untuk memperjelas ganti rugi tanah kas desa yang terdampak tol
MINTA KEJELASAN: Seratusan warga Desa Tiron mendatangi kantor DPRD Kabupaten Kediri (13/11), meminta wakil rakyat memfasilitasi pertemuan untuk memperjelas ganti rugi tanah kas desa yang terdampak tol

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Meski waktu pembangunan Tol Kediri-Kertosono belum mendapat kejelasan, puluhan pedagang Pasar Buah Banyakan agaknya harus segera angkat kaki dari lapak mereka. Pasalnya, Pasar Banyakan menjadi salah satu lahan yang terdampak. Berdasar appraisal (penaksiran harga), ganti rugi yang didapat Pemkab Kediri sebesar Rp 16,5 miliar. 

Untuk diketahui, lahan di Pasar Buah Banyakan mencapai 0,5 hektare. Dari jumlah tersebut, tidak semuanya terpakai untuk Tol Kediri-Kertosono. Namun, keseluruhan tanah dibeli oleh Pusat.

Sebagai gantinya, sekitar 70 pedagang yang setiap hari berjualan di sana harus angkat kaki. Rencananya, mereka akan menempati lahan eks lapangan futsal Ghantama Sport. Lokasinya berjarak sekitar satu kilometer di sebelah barat pasar.

Asisten I Sekretariat Daerah (Setda) Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sukadi mengatakan, proses pembebasan tanah Pasar Buah Banyakan sempat membutuhkan waktu lama. Sebab, selain membebaskan tanah terdampak tol, juga harus membebaskan sisa tanah.

“Memerlukan (waktu) penilaian (appraisal) untuk lahan sisa,” kata Sukadi.

 Dengan penilaian lahan terdampak tol dan tidak terdampak tol yang sudah selesai, menurut Sukadi pembayaran ganti rugi nanti bisa dilakukan bersamaan. Kapan pembayaran ganti rugi dilakukan? pemkab menargetkan bisa menerima ganti rugi akhir tahun ini. Sehingga, mereka bisa segera menyiapkan tempat relokasi di Ghantama Sport.

 “Prosesnya (pembayaran ganti rugi) tinggal kelengkapan administrasi. Insyaallah tahun ini (akhir tahun) sudah dibayarkan sama sana (PPK tol),” lanjut Sukadi.

Diakui Sukadi, tanah pengganti di Ghantama Sport luasnya dua kali lipat dari lahan pasar lama. Karenanya, jika ternyata nanti ada kekurangan untuk pembelian lahan baru, akan dibayar lewat APBD. “Supaya tidak ngepas-ngepasne (lahan seadanya). Biar bisa lebih besar dari yang lama,” terangnya.

Sembari menunggu pembangunan pasar baru, menurut Sukadi para pedagang bisa menempati area futsal secara darurat. Pemkab tidak harus langsung melakukan rehab bangunan. Sebab, di sana sudah ada bangunan beratap dengan lantai yang sudah dicor.

“Sudah memenuhi (untuk penempatan darurat). Tapi memang perlu di-upgrade dengan dipasang los dan lain-lain. Tidak perlu dibongkar,” urainya.

Pembangunan pasar buah, tutur Sukadi, baru akan dilakukan setelah tanah di sebelah lapangan futsal dibebaskan. “Nanti bisa dibuatkan pasar yang lebih baik,” tandasnya.

Terpisah, Agus, 45, salah satu pedagang di Pasar Buah Banyakan mengaku sudah mengetahui rencana pemindahan pedagang. Namun mereka tidak tahu waktunya secara pasti.

“Lokasinya (pasar baru) sudah dikasih tahu. Tapi kenyataannya belum positif. Belum dilakukan pembebasan lahan,” ungkap Agus sembari menyebut pedagang masih menunggu progres lebih lanjut.

Sementara itu, jika pembebasan tanah Tol Kediri-Kertosono relatif yang memicu polemik, kemarin ratusan warga Desa Tiron, Banyakan melakukan demo. Mereka menyoal tanah kas desa (TKD) mereka yang terdampak Tol Kediri-Tulungagung akses Bandara Dhoho. Sebab, proses ganti rugi belum selesai tapi tanah sudah terpakai untuk proyek tol.

“Kami ingin mendengar penjelasan dari pihak terkait tentang pembebasan tanah. DPRD kami minta melakukan RDP (rapat dengar pendapat), memanggil para pihak biar semuanya terbuka,” kata Darwiji, 67, warga Dusun Kaligayam, Tiron, Banyakan.

Darwiji mengatakan, TKD di Desa Tiron yang terdampak tol mencapai lima hektare. Terdiri dari lapangan, kuburan, serta lahan bengkok. Tanah-tanah tersebut saat ini sudah dibangun tol. Namun lahan penggantinya belum ada.

Hal itulah yang disoal. “Masyarakat tidak dilibatkan. Prosesnya menurut kami juga tidak transparan,” terang lansia itu sembari menyebut sebelum proyek dimulai seharusnya proses ganti rugi sudah selesai.

Terpisah, Subagyo, ketua Komisi I DPRD Kabupaten Kediri mengatakan, pihaknya sudah berusaha agar mediasi bisa rampung kemarin. Namun, dari beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) pemkab belum semuanya bisa hadir.(*)

Editor : Mahfud
#Pasar Buah Banyakan #appraisal #ganti rugi #jalan tol kediri kertosono