Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus : Mayor Bismo, Mengapa Dianggap Pahlawan Kediri yang Diakui Setengah Hati?

Ayu Ismawati • Senin, 10 November 2025 | 17:52 WIB
Ilustrasi pejuang asal Kota Kediri Mayor Bismo.
Ilustrasi pejuang asal Kota Kediri Mayor Bismo.

Kiprahnya Begitu Besar, Namanya Nyaris Tak Didengar

 Mayor Bismo dikenal dengan peran sentralnya dalam merebut kedaulatan Indonesia di tanah Kediri. Ironisnya, namanya tak banyak disebut di setiap perbincangan tentang sejarah kemerdekaan Indonesia. Dia juga jarang jadi bahasan di bangku sekolah. Tak heran banyak anak-anak yang tidak mengenal sosok dengan patung emas di Alun-Alun Kota Kediri itu.

 

Bagi warga Kota Kediri, nama Mayor Bismo cukup familiar. Namanya ada di salah satu jalan besar di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota. Penghormatan terhadap sosoknya juga diwujudkan dalam bentuk patung yang diletakkan di tengah Alun-Alun Kota Kediri.

Namun, pengetahuan masyarakat baru sekadar pada nama Mayor Bismo saja. Adapun sosok Mayor Bismo hingga kiprahnya tidak banyak diketahui. Hal itu dibuktikan dari survei sederhana Jawa Pos Radar Kediri terhadap pelajar SMP/sederajat dan SMA/sederajat di Kota Kediri.

Tak semua responden mengetahui siapa itu Bismo. Beberapa bahkan mengaku hanya tahu Mayor Bismo sebagai patung yang berada di alun-alun hingga nama sebuah jalan.

Dari total 12 pelajar yang ditanya secara acak, hanya ada dua pelajar yang mengaku tahu Bismo dari pelajaran di sekolah. Sisanya tak pernah mendapat wawasan yang utuh tentang sejarah perjuangan kemerdekaan di tataran lokal Kota Kediri.

Sejarah dengan nilai lokalitas yang kuat ini hampir tidak pernah disampaikan di bangku sekolah. “Saya tidak asing saat mendengar nama Mayor Bismo. Tapi selama 12 tahun saya bersekolah, rasanya asal-usul mengenai beliau masih belum familiar di telinga saya,” ujar Kim Ivona, 17, pelajar SMA di Kota Kediri.

Pelajar kelas 12 ini hanya tahu tentang Bismo dari beberapa artikel di internet yang dibaca. Khususnya yang mengulas peran sentral Bismo dalam merebut kedaulatan bangsa di Kediri pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia.

 “Sepintas hanya itu saja yang saya ketahui. Detailnya saya kurang tahu karena seingat saya, saya membaca sejarah beliau itu melalui berita sekilas saat hari pahlawan,” akunya.

Masih minimnya edukasi sejarah tentang pahlawan lokal Kediri memicu keprihatinan. Sosok Bismo bahkan disebut-sebut sebagai pahlawan Kediri yang terlupakan. Kondisi itu pula yang mendorong Achmad Zainal Fachris, pegiat sejarah asal Kota Kediri, menggagas pengusulan Mayor Bismo sebagai pahlawan nasional dari Kota Kediri.

“Kediri ini kota bersejarah. Kediri ini kota istimewa. Sebagai kota budaya, kota sejarah, banyak pergulatan sejarah terjadi di Kediri. Tetapi kenapa tokoh-tokohnya tidak dimunculkan? Karena apapun, bangsa yang besar itu adalah bangsa yang tidak melupakan jasa-jasa para pahlawannya,” ungkap Fachris tentang urgensi pengajuan tersebut.

Selain itu, menurutnya masyarakat—khususnya generasi muda—butuh figur pahlawan yang bisa dibanggakan. Apalagi dengan jejak kepahlawanan dan nilai lokalitas yang dekat dengan masyarakat Kediri. Sebab menurutnya, saat ini banyak generasi muda Kediri yang justru tidak paham dengan sejarah lokal Kediri. Melainkan justru berkiblat pada tokoh-tokoh di luar Kediri.

“Kita butuh identitas panutan pahlawan lokal yang menjadi kebanggaan bersama dan menjadi memori kolektif masyarakat Kediri. Bahwa kita ini punya pahlawan, kita ini bangsa besar,” lanjutnya.

Sayangnya, upaya mengangkat nama Mayor Bismo itu terkendala masih minimnya sumber sejarah. Khususnya tentang latar belakang sosok Bismo di luar karir dan perjalannya sebagai prajurit pejuang kemerdekaan.

Namanya sekadar menumpang di memori segelintir masyarakat dari simbol-simbol penghormatan yang ada. Itu tak lepas dari nyaris tidak adanya edukasi sejarah Kediri dan pahlawan-pahlawan lokalnya di bangku pendidikan formal.

“Sejarah yang disampaikan di sekolah terlalu tekstual oriented. Tidak kontekstual. Dan sejarah itu masih cenderung hafalan. Terlalu terpacu pada kurikulum. Padahal setiap daerah memiliki kebesaran masing-masing yang itu bisa kita ambil sebagai pembelajaran kepada generasi kita,” urai Fachris.

Masih belum adanya kajian akademik tentang sosok penyebar kabar proklamasi di Kediri itu juga menjadi tantangan saat ini. Tidak ada sumber sejarah yang mengulas latar belakang kehidupan Bismo. Dia hanya dikenal sebagai prajurit yang bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di usia belasan tahun.

Beberapa kiprahnya yang signifikan adalah saat dia berperan menyebarkan kabar proklamasi di Kediri dan memimpin pertemuan pemuda di sekolah Taman Siswa. Bahkan, dia juga memimpin pengepungan markas Kempeitai yang berujung pelucutan senjata pasukan polisi militer Jepang itu di Kediri. Pada akhirnya dia gugur saat Peristiwa Madiun 1948 di Dungus, Madiun.

“Kita juga kehilangan jejak siapa Mayor Bismo itu. Harusnya minimal ada keluarga atau keturunannya. Itu juga belum bisa ditemukan,” ungkap Fachris sembari menyebut, edukasi tentang sosok Bismo juga masih sangat minim ditemui di Kediri. (*)

Editor : Mahfud
#Kedaulatan indonesia #Mayor Bismo #alun-alun kota kediri #pahlawan #sejarah perjuangan