KEDIRI, JP Radar Kediri- Lapas Kelas II A Kediri melakukan pemeriksaan tuberkulosis (TBC) kepada ratusan warga binaan pemasyarakatan. Itu untuk mendeteksi dini kasus TBC di lingkungan lapas.
Kalapas Kelas II A Kediri Solichin mengatakan kegiatan skrining ini untuk memastikan kondisi kesehatan warga binaan pemasyarakatan (WBP).
“Kegiatan ini merupakan langkah nyata untuk memantau kesehatan seluruh WBP,” jelas Solichin. Menurutnya, deteksi dini penyakit menular seperti TBC sangat penting.
Itu untuk menciptakan lingkungan Lapas yang aman dan sehat. Kegiatan skrining kesehatan active case finding (ACF) ini akan berlangsung selama 4 hari. Dimulai kemarin hingga Senin (10/11) depan.
“Kami berupaya memberikan layanan kesehatan yang aman, tertib, dan profesional bagi seluruh WBP,” tuturnya.
Untuk diketahui, kondisi hunian Lapas yang padat memang berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit TBC. Oleh karenanya, pihak lapas menargetkan semua WBP bisa menjalani pemeriksaan.
Dimulai pukul 08.00 WIB, petugas mempersiapkan alat rontgen dada di aula. Kemudian WBP melakukan registrasi terlebih dahulu.
Setelah proses input data dan administrasi, mereka baru diperkenankan untuk menjalani skrining tersebut.
“Pada hari pertama pemeriksaan difokuskan pada Blok A. Dengan jumlah WBP telah diperiksa ada 250. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap dan targetnya semua WBP bisa diperiksa,” paparnya.
Informasi yang dihimpun wartawan Jawa Pos Radar Kediri, kegiatan pemeriksaan tidak hanya dihadiri oleh pihak Lapas.
Tetapi juga petugas eksternal yaitu 9 petugas rontgen serta 2 petugas dari Puskesmas Sukorame dan Puskesmas Campurejo.
Tak hanya itu, 2 orang yang merupakan supervisi Kanwil juga turut hadir. Guna memastikan prosedur pemeriksaan sesuai standar serta data hasil rontgen WBP tercatat lengkap dan tepat waktu.
Ya, setiap WBP yang telah diperiksa akan dicatat dan didokumentasikan hasil rontgennya secara digital.
Nantinya database kesehatan warga binaan menjadi lebih lengkap dan komprehensif. Tentu juga memudahkan tindak lanjut medis bila ditemukan indikasi Tuberkulosis.
“Hasilnya baru bisa diketahui setelah 4 hari. Ini (hasil rontgen dada, Red) juga bisa menjadi acuan pengambilan keputusan program kesehatan pihak Lapas,” pungkasnya.
Selain pemeriksaan, kegiatan juga diisi dengan sosialisasi mengenai bahaya TBC, cara penularan, dan langkah-langkah pencegahan.
Seperti menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan etika batuk, dan pentingnya konsumsi obat secara teratur bagi penderita.
Para WBP pun tertib mengikuti semua arahan dari petugas. Meskipun ada rasa takut, petugas berupaya memberikan pengertian. Sehingga mereka pun mengerti bahwa skrining kesehatan ini untuk kepentingan bersama.
Editor : Andhika Attar Anindita