JP Radar Kediri—Pertamina mulai menindaklanjuti permohonan ganti rugi warga yang motornya brebet pasca-mengisi BBM pertalite. Di tahap awal mereka akan melakukan verifikasi dengan melibatkan bengkel-bengkel rekanan yang sudah ditunjuk Pertamina.
Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan, Pertamina akan merekomendasikan pengecekan dan perbaikan di bengkel sepeda motor yang ditunjuk. “Sampai saat ini jumlah bengkel masih terus bertambah menyesuaikan dengan jumlah dan sebaran laporan dari masyarakat,” kata Ahad.
Bagaimana dengan masyarakat yang sudah melakukan perbaikan secara mandiri dan mengajukan ganti rugi biaya? Ahad menyebut Pertamina tetap akan memverifikasi perbaikan dan penggantian suku cadang.
Namun, hal itu akan tetap dilakukan oleh bengkel rekanan yang telah direkomendasikan Pertamina. Artinya, pengajuan ganti rugi atau reimburse bisa dilakukan jika dinyatakan sesuai ketentuan dari hasil verifikasi tersebut. “Bisa (reimburse, Red). Namun tetap dengan verifikasi dari bengkel rekomendasi,” tandas Ahad.
“Bisa (reimburse, Red). Namun tetap dengan verifikasi dari bengkel rekomendasi.”
Ahad Rahedi
Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus
Pemberian kompensasi terukur itu, tutur Ahad, juga dilakukan dengan pelaporan melalui SPBU pembelian terakhir. Pelaporan ke SPBU dilakukan agar bisa ditindaklanjuti penyesuaian dan pengambilan sampel di tangki kendaraan BBM milik pelanggan.
Seperti diberitakan, Pertamina membuka dua posko aduan untuk konsumen di Kediri. Lokasinya di SPBU Joyoboyo dan SPBU Mojoroto. Hingga Sabtu (1/11) lalu, total ada 11 pengaduan di SPBU Joyoboyo. Mayoritas mengeluhkan kerusakan pada suku cadang busi, rotak, hingga filter pompa bahan bakar. Nilai ganti rugi yang diajukan berkisar Rp 300–400 ribu.
Imbas insiden motor brebet tersebut, banyak masyarakat yang mulai berbondong-bondong meninggalkan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite. Mereka beralih ke BBM RON 92. Baik itu Pertamax atau BBM di SPBU swasta karena khawatir akan menjadi korban motor brebet atau ngadat.
“Takut saja kalau motornya ikut ngadat kalau tetap diisi pertalite. Kalau sampai rusak, service-nya juga lumayan biayanya,” ungkap Nabilah, salah satu konsumen yang mulai beralih ke pertamax.
Hal serupa juga dibenarkan pihak SPBU. Pengawas SPBU 54.641.47 Joyoboyo Dewi Irianti mengatakan, banyak masyarakat yang beralih ke BBM jenis pertamax dalam beberapa hari terakhir. “Iya, banyak yang belinya pertamax sekarang,” tandasnya.(*)
Editor : Mahfud