Atur Komposisi Sendiri, Bisa Tekan Biaya Produksi
Semakin mahalnya harga pupuk kimia, ditambah kesadaran petani akan dampak pupuk kimia pada kesuburan tanah, membuat mereka menyeriusi penggunaan pupuk organik. Bahkan, gabungan kelompok tani (gapoktan) ramai-ramai membuat pupuk secara mandiri.
“Kami sudah mulai menerapkan penggunaan pupuk organik selama empat bulan terakhir. Khususnya pada tanaman cabai,” ungkap Nuryanto, ketua gabungan kelompok tani (gapoktan) di Desa Kambingan, Kecamatan Pagu.
Para petani cabai sukarela beralih ke pupuk organik karena cara pembuatannya tidak terlalu sulit. Bahkan, lansia pun bisa membuat komposisi sendiri di rumah. Yakni, dengan memanfaatkan kotoran hewan dan limbah di sekitar rumah.
Misalnya, menggunakan kotoran kambing atau kotoran sapi yang dicampur dengan dedak. Kemudian mereka tinggal menambahkan probiotik untuk mempercepat proses pembuatan pupuk. “Biasanya probiotik yang digunakan itu MA-11,” lanjutnya sembari menyebut waktu pembuatan pupuk hanya sekitar 7-15 hari.
Sekali membuat pupuk organik, Nuryanto mengaku memproduksi hingga satu ton. Jumlah itu cukup untuk memupuk tanamannya seluas satu hektare. Peralihan penggunaan pupuk organik ini sekaligus memangkas biaya produksi dari penggunaan pupuk kimia yang juga satu ton.
“Hasilnya lebih hemat dari biaya pupuk kimia. Hasilnya juga tidak kalah dengan tanaman yang menggunakan full pupuk kimia,” terang pria berusia 70 tahun itu sembari menyebut dirinya juga menggunakan pupuk organik cair yang disemprotkan langsung ke daun tanaman.
Senada dengan Nuryanto, Ganip Nugroho, sekretaris Koperasi Produsen Gapoktan Organik Palem Pare juga sangat terbantu dengan pupuk organik. Selain biaya yang murah, menurutnya pupuk dari limbah rumah tangga dan kotoran hewan itu juga bisa mengembalikan kesuburan tanah.
“Ikhtiar (menggunakan pupuk organik) karena harga pupuk kimia mahal. Selain itu, kesuburan tanah semakin ke sini juga berkurang,” kata pria yang mencampur kotoran kambing dengan tatal itu. Selanjutnya, limbah itu dicampur dengan arang sekam, serasah daun, dan dekomposer.
Melihat banyaknya petani yang berminat untuk beralih ke pupuk organik, Ganip berencana mengomersilkan pupuk buatannya. Bersama kelompok taninya, dia menargetkan untuk bisa menjual pupuk organik tahun depan.
Adapun tahun ini, dia fokus melakukan uji laboratorium. Salah satunya terkait potensial hidrogen (PH) yang sudah berada di angka 7 persen. “Alhamdulillah pupuk organik padatnya sudah ada hasil uji lab. Suhunya turun dan PHnya di angka 7,” papar pria yang menyiapkan nama Joyo Boyo Multihara untuk produk pupuk organiknya itu.
Di tempat lain, Irham Khoirudin Abimanyu, petani asal Desa Lamong, Badas juga mengembangkan pupuk organik untuk menjaga agar tanahnya tetap produktif. Jika petani lain membuat pupuk organik untuk lahan sendiri, Irham sudah menjual pupuk yang diproduksinya.
Satu liter pupuk organik cair dijual Rp 40 ribu. Pupuk tersebut bisa digunakan untuk memupuk lahan seluas 1.400 meter persegi hingga empat kali. Selain lebih hemat pemakaian, tanaman yang dipupuk organik lebih aman dari bakteri dan jamur. Sebab isinya merupakan mikroba yang jadi musuh dari penyakit.
Pria berusia 52 tahun itu mengaku sudah melakukan riset sejak 1993 silam. Demi membuat komposisi yang baik, dia bepergian ke Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT); Bangkalan, Madura; Porong, Sidoarjo; Lembang, Bandung; hingga ke Sigi, Sulawesi Tengah. Tidak hanya itu, Irham juga pernah ke Hokaido, Jepang; Luzon, Filiphina; Telaviv, Israel dan lainnya. “Ini (pupuk organik) bisa jadi solusi ketersediaan pangan yang berdaulat,” tandasnya.
Sementara itu, selain para petani lansia, petani milenial juga mulai intens membuat pupuk organik. “Justru yang tertarik dan telaten membuat pupuk organik ini adalah petani millennial. Mereka yang sudah berusia sekitar 27 sampai dengan 43 tahun,” tutur Ricko Wahyudi, petani cabai di Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri.
Lelaki berusia 35 tahun itu mengaku membuat pupuk organik karena mahalnya harga pupuk kimia. Juga, wujud keprihatinannya akan kesuburan tanah yang terkikis pupuk kimia.
Jika Irham sudah mengomersilkan pupuk buatannya, Ricko hanya membuat untuk kebutuhan sawahnya sendiri. Tidak hanya sendiri, para petani yang seusia dengan Ricko banyak yang sudah swasembada pupuk alias membuat pupuk untuk kebutuhan tanaman sendiri. “Pembuatan pupuk organik lama. Saya tidak punya bantuan tenaga untuk membuat dalam jumlah banyak,” paparnya.
Plus Minus Pupuk Organik:
Kelebihan:
- Menghasilkan tanaman yang lebih sehat dan segar
- Menjaga kesuburan tanah
- Menghemat biaya pembelian pupuk kimia hingga 1 ton
Kekurangan:
- Bahan baku pembuatan masih terbatas dalam jumlah besar
- Waktu pembuatan pupuk organik cukup lama
- Hasilnya tidak secepat pupuk kimia
Editor : Mahfud