Menurutnya, santri kini tidak bisa lagi hanya dikenal dengan kitab kuning. “Saatnya santri mampu menguasai teknologi, sains, dan punya wawasan mendunia,” ujarnya. Dia menambahkan, era digital memberikan peluang luas bagi santri untuk berdakwah melalui media sosial. Namun, Masykur mengingatkan agar santri tidak melupakan akar utama pendidikan pesantren, yakni adab dan akhlak.
“Setinggi apa pun ilmunya, kalau tidak punya akhlak, tidak ada gunanya. Jadilah santri yang berilmu dan berakhlak mulia. Pegang teguh tradisi pesantren yang membawa dampak positif untuk kehidupan ke depan,” pesan politisi PKB itu.
Selain menyoroti peran santri, Masykur juga menegaskan pentingnya perhatian pemerintah terhadap pesantren. Dia menilai selama ini lembaga pesantren kerap terlewat dalam pembangunan daerah.
“Pemerintah daerah harus bersinergi dengan pesantren. Bantuan infrastruktur dan dukungan untuk pondok pesantren sangat minim sekali,” tuturnya.
Masykur juga menyinggung persoalan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) untuk madrasah diniyah (madin) yang sering terhenti dan tidak merata. Padahal, kata dia, pesantren dan guru madin merupakan garda terdepan dalam membentuk akhlak generasi muda.
“Dalam setiap rapat bersama eksekutif, saya selalu menyampaikan soal pesantren dan madrasah. Mereka sering dianaktirikan dalam hal pembangunan maupun program lain. Padahal orang tua santri juga sama-sama bayar pajak, tapi perhatiannya sangat kurang bahkan cenderung ditinggalkan,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian