JP Radar Kediri–Polres Kediri Kota mengintensifkan penyidikan terkait demo yang berujung pembakaran dan perusakan pada Sabtu (30/8) lalu. Selain menetapkan koordinator lapangan (korlap) aksi sebagai tersangka, polisi juga menangkap CK, 27; serta MSA, 23; sebagai perakit dan pelempar bom molotov di Polres Kediri Kota.
Informasi yang dihimpun koran ini menyebut, CK, 27, yang merupakan warga Klaten, Jawa Tengah, ditangkap pada Rabu (3/9) malam lalu. Saat itu, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Kota Kediri tersebut tengah menginap di salah satu hotel di Tulungagung.
“Tersangka ditangkap oleh Satreskrim Polres Tulungagung,” kata sumber koran ini di Polres Kediri Kota.
Penangkapan CK dilakukan terkait aksinya yang diduga menghasut warga untuk melakukan aksi demo dengan skenario ricuh di Tulungagung. Yakni pada Kamis (4/9) lalu. Caranya, dia mengajak orang-orang yang ditemuinya saat ngopi dari warung ke warung.
“Dia sudah menginap di hotel Tulungagung selama tiga hari (sejak 1/9),” lanjut sumber yang enggan namanya dikorankan itu.
Demo yang rencananya juga akan dibuat ricuh pada Kamis lalu itu berhasil digagalkan karena CK telanjur ditangkap pada Rabu malam lalu. Kepada anggota Polres Tulungagung, dia mengakui terlibat dalam penyerangan Polres Kediri Kota.
Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Cipto Dwi Leksana yang dikonfirmasi terkait keterlibatan CK di Tulungagung, enggan berkomentar. Meski demikian, berdasar pemeriksaan di Polres Kediri Kota, Cipto mengakui jika CK melempar dua bom molotov ke mako Polres Kediri Kota saat aksi Sabtu (30/8) lalu.
“Dari hasil pengembangan kami juga menangkap MSA, 23, warga Jakarta yang sedang berkuliah di Kota Kediri,” ungkap Cipto. MSA diamankan di tempat kosnya di Kelurahan Bandarlor, Mojoroto, Kota Kediri.
Dari MSA polisi juga mengamankan empat petasan. Masing-masing petasan tersebut berisi lima letusan.
“Kedua pelaku tidak hanya ikut rusuh tetapi juga menyiapkan bom molotov di kamar kosnya,” imbuhnya.
Cipto juga menyebut MSA tak hanya berperan sebagai pembuat. Dia juga ikut menyulut bom molotov tersebut saat aksi.
Lebih jauh Cipto menyebut CK dan MSA sudah menyiapkan aksinya sejak sehari sebelum demo atau pada Jumat (29/8) lalu. Mereka membuat bom molotov dengan membeli pertalite yang diracik di botol bekas minuman.
Terkait motif pelaku melakukan aksi ricuh itu, perwira dengan pangkat tiga balok di pundak itu enggan membeber secara detail. Namun, menurut pengakuannya mereka tergerak ikut aksi yang telah disebarkan melalui flyer di media sosial itu.
“Tersangka mengaku dendam karena pernah ditilang di Jogjakarta. Kemudian melampiaskan ke polisi saat seperti ini,” sambung sumber lain Jawa Pos Radar Kediri di kepolisian.
Dari hasil pendalaman, CK dan MSA juga tidak mengikuti aksi demo sejak awal. Melainkan baru datang ke lokasi setelah terjadi kericuhan.
“Jadi dua pelaku ini datang menyusul. Awalnya mereka melihat orasi di siaran langsung media sosial. Kemudian terpancing melancarkan aksi ketika ada masa yang teriak bakar gedung! bakar gedung!” terang Cipto lagi.
Setelah berhasil membuat kerusuhan di Kota Kediri, mereka ingin kembali melancarkan aksi di gedung DPRD dan Mako Polres Tulungagung. Mereka juga sudah membagi pemetaan lokasi ricuh kepada temannya melaui grup WhatsApp. Beruntung rencana itu digagalkan oleh Polres Tulungagung.
Dengan ditangkapnya CK dan MSA, berarti total sudah ada 26 orang yang terjerat kasus demo rusuh tersebut. Selain ditahan, mereka juga disangkakan beragam pasal.
Mulai dari Pasal 363 ayat 1 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan saat huru-hara. Kemudian, Pasal 170 KUHP tentang perusakan barang. Serta Pasal 160 KUHP tentang penghasutan di muka umum untuk melakukan tindakan anarkistis.(*)
Editor : Mahfud