JP Radar Kediri-Polisi tak ingin kecolongan lagi dengan aksi kerusuhan seperti yang terjadi Sabtu malam (30/8). Mereka akan menggelar patroli 24 jam dengan personel gabungan. Juga, menempatkan petugas di titik-titik strategis.
“Kami akan lakukan patroli gabungan berskala besar!” tegas Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim.
Terkait pengamanan ini, polisi mendapat tambahan kekuatan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Back up itu datang dari Komando Distrik Militer (Kodim) 0809 dam Brigade Infanteri (Brigif) 16 Wirayudha. Jumlahnya, 700 personel dari Kodim dan 1.000 prajurit dari Brigif.
Personel tim gabungan tersebut akan melakukan penyisiran di seluruh wilayah Kota Kediri, mengendarai sepeda motor. Jika menemukan massa berkumpul tanpa aktivitas akan diminta segera pulang ke rumah.
Patroli tim gabungan ini sudah terlihat Minggu (31/8) pukul 19.30. Mereka meninjau beberapa lokasi. Di antaranya Taman Sekartaji, Kediri Town Square, dan Kediri Mall.
Apakah akan ada jam malam? AKBP Anggi menegaskan tidak ada aturan jam malam. Namun dia mengimbau kepada masyarakat jika tidak ada kepentingan maka bisa berada di rumah saja. Tidak perlu berada di jalanan hingga larut malam.
Pihak keamanan pun, menurut Anggi, tidak akan segan melakukan upaya tegas. Mereka akan menindak pelaku yang melakukan aksi kerusuhan. Termasuk memastikan jika akan menangkap pelaku pengrusakan, pembakaran, dan penjarahan di wilayah hukum Polres Kediri Kota.
Sementara itu, jumlah orang yang diamankan imbas demo berujung aksi anarkis pada Sabtu (30/8) lalu bertambah. Itupun, masih ada kemungkinan bertambah lagi karena polisi terus mengidentifikasi pelaku. Serta akan melakukan penangkapan bila dianggap terlibat dalam aksi penjarahan dan perusakan.
Terkait jumlah kerugian akibat aksi rusuh, AKBP Anggi mengaku masih melakukan inventarisasi. Baik kerugian bangunan maupun peralatan kerja. Termasuk mobil dan motor dinas. Namun, setidaknya ada 7 kendaraan bermotor sebagai bukti tilang yang ikut terbakar. Enam di antaranya ada di Mako Satlantas di Jalan Brawijaya dan satu kendaraan di Pos Polisi Sumur Bor.
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Kabag Ops Polres Kediri Kota Kompol Iwan Setya Budhi. Dia menyebut jika pihak kepolisian masih melakukan inventarisis kerugian yang dialami.
“Untuk tafsir kerugian belum bisa kita sampaikan. Hingga saat ini kami masih inventarisis,” terangnya saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.
Sementara itu, polisi dari Polres Kediri Kota telah mengamankan sembilan orang lagi sepanjang Sabtu malam hingga Minggu (31/8) pagi. Itu bukan termasuk 20 orang yang ditangkap sebelumnya.
“Total dari dua puluh orang yang ditangkap kemarin, tujuh orang sudah kembali ke rumah,” terang Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Kediri Kota AKP Cipto Dwi Leksana.
Dari penangkapan sembilan orang lagi itu, Cipto menyebut dari beragam rentang usia. Bahkan ada yang masih di bawah umur.
“Campur ada yang dewasa dan juga di bawah umur,” imbuhnya.
Selain itu, mereka juga bukan hanya warga Kediri melainkan dari luar Kediri. Meskipun masih dalam wilayah Provinsi Jawa Timur.
“Ada yang dari Madura juga kemarin, berdasarkan pengakuan,” bebernya.
Cipto menegaskan, polisi masih terus menyelidiki persoalan ini. Mereka juga tak akan segan mengamankan orang yang terindikasi menjadi pelaku yang merusak, menjarah, dan membakar fasilitas umum maupun fasilitas pendukung.
Dari Polres Kediri, mereka tengah mendalami peranan ratusan remaja yang diduga sebagai pelaku penjarahan dan kerusuhan. Korps Bhayangkara juga mendalami kemungkinan adanya pelaku lainnya. Termasuk yang melakukan penjarahan di komplek Pemkab Kediri.
Kapolres Kediri AKBP Bramastyo Priaji mengatakan pihaknya tengah memeriksa rekaman closed circuit television (CCTV). Termasuk yang ada di kompleks Pemkab Kediri. Tujuannya untuk melihat apakah ada pelaku lain yang perlu diamankan,
Sebelumnya, Polres Kediri berhasil mengamankan 123 remaja. Mereka ditangkap di wilayah Ngasem, Gurah, Papar, Pare, Ngasem dan beberapa titik lainnya.
Dari yang tertangkap itu, tidak sedikit orang dari luar daerah. “Ada masyarakat Kediri, Nganjuk, Blitar, bahkan Mojokerto,” jelas Bram.
Bram pun masih membuka peluang melakukan penangkapan lagi. Tentu saja yang benar-benar terindikasi terlibat dalam kerusuhan dan penjarahan.
“Kalau memang alat bukti cukup, pasti kami amankan. Walaupun pelakunya tidak termasuk yang 123 yang sudah kami amankan, pasti akan kami amankan lagi. Artinya ada kemungkinan pelaku lainnya,” jelas Bram.
Editor : Mahfud