JP Radar Kediri-Kerusuhan dan penjarahan yang terjadi pada Sabtu (30/8) malam lalu membawa dampak sosial. Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menerapkan dua aturan. Yaitu, menetapkan jam malam serta mengaktifkan jaga desa.
Aturan itu muncul setelah Dhito kemarin melakukan rapat koordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
“Rapat koordinasi yang kita lakukan bersama dengan Forkopimda dan alhamdulillah full team. Hadir Kapolres Kota Kediri yang membawahi lima kecamatan di Kabupaten, hadir pula Kapolres Kediri, ada Dandim, Kajari, ketua DPRD, dan seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat,” jelasnya ditemui usai melakukan rakor.
Menurut Dhito, rakor dilakukan untuk menyamakan persepsi dan tujuan. Kaitannya jangan sampai kembali terjadi tindakan anarkis seperti yang terjadi pada Sabtu malam lalu.
“Maka kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kediri untuk menjaga wilayahnya masing-masing supaya tetap aman, tetap kondusif. Jadi sistem jaga desa kita hidupkan kembali. Jadi, saya sudah memerintahkan para camat untuk komunikasi intens dengan kapolsek, danramil,” urainya.
Dia berharap, para kepala desa bisa menggerakkan warganya bersama-sama menjaga desa. Untuk antisipasi adanya perbuatan anarkis yang dapat mengganggu ketertiban masyarakat.
“Ada potensi demo lanjutan ya di tanggal 3 di kota-kota besar. Semoga tidak di Kediri. Sekalipun demo mohon untuk demo yang sifatnya adalah dialog,” jelasnya.
Yang tidak kalah penting, dia mengimbauan kepada seluruh orang tua murid dan guru-guru di Kabupaten Kediri untuk terus memantau dan menasihati anaknya. Karena mayoritas pelaku aksi anarkisme dilakukan oleh para pelajar yang usianya 14 sampai dengan 17 tahun.
“Delapan puluh persen dilakukan oleh pelajar. Nah ini tugasnya tidak bisa diselesaikan oleh Bupati, tidak bisa diselesaikan oleh Dandim, Kapolres. Ini kita akan memformulasikan bagaimana setiap orang tua bisa memastikan bahwa anak-anaknya itu tidak melakukan hal-hal yang sifatnya kriminal,” tegasnya.
Dia juga menyampaikan, bahwa saat ini dia menerapkan jam malam yang dimulai dari tadi malam (1/9). Di atas pukul 22.00 kalau masih ada yang berkerumun akan dibubarkan oleh tim patroli. Itu dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kita tingkatkan memang khususnya di titik-titik rawan seperti di Ngasem, di Pare, dua titik itu yang kita fokuskan untuk di Kabupaten Kediri. Jam malam belum kita putuskan sampai kapannya. Namun sampai situasi berangsur-angsur membaik karena kita tidak bisa memotret hanya Kabupaten Kediri. Kita memotret secara keseluruhan. Hari ini aksi unjuk rasa terjadi di beberapa kota Kabupaten lain yang kami khawatirkan adalah psikologi massa dari kota kabupaten tetangga ini bisa bergeser ke Kabupaten Kediri,” ucapnya panjang lebar. (*)
Editor : Mahfud