Prosesi Manusuk Sima dengan Sentuhan Kekinian, Ada Flashmobnya Juga

Ayu Ismawati • Dipublikasikan Senin, 28 Juli 2025 | 14:56 WIB

 

Wali Kota Vinanda Prameswati (depan dua dari kiri) menari bersama dengan jajaran forkopimda, kepala OPD, dan undangan, di akhir upacara Manusuk Sima di Balai Kota Kediri kemarin (27/7)
Wali Kota Vinanda Prameswati (depan dua dari kiri) menari bersama dengan jajaran forkopimda, kepala OPD, dan undangan, di akhir upacara Manusuk Sima di Balai Kota Kediri kemarin (27/7)

JP Radar Kediri- Sentuhan-sentuhan baru muncul dalam puncak peringatan Hari Jadi ke-1.146 Kota Kediri kemarin (27/7). Meskipun masih tetap menampilkan upacara Manusuk Sima namun kini dikemas lebih kekinian. Termasuk memasukkan flashmob di akhir acara.

Puncak hari jadi kemarin masih berlangsung di halaman Balai Kota Kediri di Jalan Basuki Rahmat. Selain prosesi, juga diwarnai pengobatan gratis oleh dinas kesehatan (dinkes) dan donor darah oleh Palang Merah Indonesia (PMI). 

Juga ada Festival Jajan Pasar yang digelar di halaman balai kota. Berisi stan-stan yang menjajakan aneka ragam jajanan tradisional.

“Ini merupakan isyarat bahwa nilai-nilai tradisi tidak terlepas dari ruang-ruang kebijakan. Bahwa pembangunan harus tetap berpijak pada kearifan lokal,” tegas Wali Kota Vinanda Prameswati dalam sambutannya.

Prosesi dimulai sekitar pukul 08.00. Duplikat Prasasti Kwak diarak dari rumah dinas wali kota, di sisi utara balai kota. Prasasti itu dibawa oleh dua orang camat, Camat Pesantren Widiantoro dan Camat Mojoroto Bambang Tri Lasmono. Sedangkan Camat Kota Bagus Hermawan Apriyanto ada di belakangnya, memayungi prasasti.

Di belakang rombongan camat tersebut barulah ada Wali Kota Vinanda dan Wakil Wali Kota Qowimuddin Thoha. Kemudian diikuti jajaran forum komunikasi pemimpin daerah (forkopimda) dan kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

Ini merupakan ketiga kalinya upacara Manusuk Sima berlangsung di balai kota. Tahun-tahun sebelumnya prosesi berlangsung di Lingkungan Kwak. Tepatnya di lokasi pemandian Tirtayasa. 

Khusus tahun ini, tema hari jadi adalah ‘Kolaborasi menuju Kota Kediri Mapan’. Menurut Vinanda kolaborasi tidak sekadar kerja sama teknis. Melainkan sinergi yang saling menguatkan dan mendukung. 

Tak hanya antarpemerintah, melainkan melibatkan banyak elemen di bawah payung kolaborasi pentahelix. Meliputi pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media. 

“Setiap elemen ini memiliki peran strategisnya masing-masing guna menguatkan dan mewujudkan Kota Kediri yang lebih mapan,” tandasnya. 

Beberapa sentuhan baru yang dilakukan dalam Manusuk Sima kali ini. Seperti Prasasti Kwak yang diarak terlebih dahulu sebelum upacara. Kemudian, ribuan penari, masyarakat, dan tamu undangan yang mengikuti flashmob Tari Suka-Suka. Selain itu rangkaian upacara Manusuk Sima seluruhnya dijalankan oleh anak-anak muda. 

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Zachrie Ahmad mengatakan, pemerintah ingin lebih banyak masyarakat yang tahu tentang kearifan lokal Kota Kediri itu. Termasuk menggali kesenian yang ada untuk dikenalkan ke generasi muda. 

“Semua masyarakat yang hadir diajak menari bersama dengan tarian tradisional. Tariannya ini Tari Suka-Suka yang menggambarkan kegembiraan dan akhir dari sebuah kegiatan,” ujar pria yang akrab disapa Ayik itu.

Soal pelaku upacara yang diisi anak muda, Ayik mengatakan bahwa regenerasi menjadi bagian memperkenalkan budaya tradisional kepada generasi muda. Rangkaian upacara yang merupakan visualisasi dari kisah yang tertera dalam Prasasti Kwak itupun dieksekusi oleh anak-anak muda. Mulai dari penari, pengrawit, pranatacara, hingga pembaca mantra dan naskah dalam prasasti. 

“Di zaman sekarang, kami ingin mengajak generasi-generasi muda agar lebih mempelajari lagi sejarah-sejarah. Terutama yang ada di Kota Kediri. Dan walaupun mereka masih muda tetapi mayoritas dari mereka merupakan lulusan sekolah seni,” urai Ayik.

Untuk diketahui, Manusuk Sima merupakan tradisi tahunan yang rutin digelar untuk memperingati Hari Jadi Kota Kediri. Upacara itu menjadi simbol rasa syukur dan mengenang awal mula terbentuknya peradaban Kota Kediri. Penanggalan hari jadi ke-1.146 tahun itu ditandai dengan ditemukannya Prasasti Kwak yang bertanda tahun 801 Saka atau 879 Masehi. 

Pada saat itu, Sri Maharaja Rakai Kayuwangi sebagai raja Mataram Kuno memberikan hadiah kepada Huka Pucatura sebagai pemangku daerah pada saat itu. Anugerah tanah sima yang merupakan tanah pardikan atau tanah yang bebas pajak negara itu diberikan kepada Wanua (Desa) Kwak.

Berdasarkan penelitian, termasuk analisa toponomi, tanah sima di Wanua Kwak itu merujuk pada Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota. Tepatnya di sekitar mata air Sumber Kwak atau yang sekarang menjadi kawasan Taman Tirtayasa.

Editor : Mahfud
Wali Kota Vinanda Prameswati manusuk sima Hari Jadi Kota Kediri