Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menyelami Potret Budidaya Ikan di Sentra Perikanan Kediri

Jordan Rafael Anggara Saragih • Rabu, 9 Juli 2025 | 08:00 WIB
Tmabak Ikan Kafina Fish Mangiran
Tmabak Ikan Kafina Fish Mangiran

JP RADAR KEDIRI- Bagi Anda yang ingin mengenali dunia perikanan air tawar, kawasan Surowono, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, menjadi pilihannya. Kawasan tersebut menjadi pusat budidaya berbagai jenis ikan. Mulai dari ikan konsumsi hingga ikan hias semuanya komplet.

Untuk ikan konsumsi ada jenis nila. Tambaknya juga disediakan untuk budidaya ikan bawal, dan lele. Adapun ikan hias terdiri dari glowfish, koi, cupang hitam, dan guppy. Keberagaman ikan ini menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tempat edukasi dan observasi yang menarik bagi para pecinta ikan di wilayah Kediri.

Menurut Mahali, pemilik tambak, sebagian besar benih ikan nila diambil dari Pare, Kabupaten Kediri. Sementara itu, untuk jenis nila merah, dibeli dari daerah Sragen dan Pati di Jawa Tengah.

Dahulu, ikan nila merah lebih sering dianggap sebagai "ikan mainan" untuk anak-anak karena penampilannya yang cerah. Namun saat ini, ikan tersebut telah bertransformasi menjadi salah satu komoditas konsumsi.

“Sekitar 80 persen ikan di sini adalah nila hitam. Di wilayah barat seperti Nganjuk, lebih banyak nila merah,” ujar Mahali. Ia juga menjelaskan bahwa harga jual ikan tergantung lokasi. Di Pare, harga grosir bisa Rp25 ribu –26 ribu per kilogram. Sedangkan di luar Pare, harga bisa turun hingga sekitar Rp15 ribu per kilogram.

Sebagian hasil panen dari dijual dalam keadaan hidup untuk kebutuhan pemancingan atau restoran ikan segar.

Proses panennya pun sangat unik: ikan diangkut dengan mobil dan langsung dibekukan. "Jika dalam keadaan hidup, perawatannya lebih rumit. Ikan memerlukan oksigen dan air segar. Namun, jika sudah mati, cukup dikemas dengan es batu dan air tawar," jelas Mahali.

Menariknya, tambak ikannya menggunakan sistem kolam dengan bak cor, bukan kolam tanah seperti pada umumnya. Metode ini memungkinkan pengelolaan air yang lebih praktis.

“Kami tidak rutin mengganti air. Biasanya cukup satu hingga dua bulan sekali, tinggal ditambah jika berkurang,” katanya.

Selain ikan konsumsi petani lokal juga mengembang biakkan ikan hias. Cupang hitam dan guppy termasuk jenis yang paling banyak diternakkan, terutama varian hasil persilangan baru yang memiliki nilai jual tinggi. “Ikan-ikan hias ini saya ternakkan sendiri,” tutur Mahali.

Ia menambahkan bahwa usaha ini sudah lama dijalankan sejak masa orang tuanya. “Wilayah sini memang dikenal sebagai daerah perikanan,” ungkapnya.

Dari total nila yang dijual, sekitar 25 persen adalah nila hitam yang dibeli untuk keperluan hiasan kolam kecil di rumah.

Mahali juga berharap pemerintah dapat lebih serius dalam memperhatikan sektor perikanan. “Kalau pemerintah tidak sungguh-sungguh, ya jangan harap rakyat bisa hidup layak. Kami butuh dukungan agar ekonomi dan usaha kecil bisa tumbuh,” tegasnya.

Untuk mempercepat pertumbuhan ikan, Mahali memanfaatkan pakan lele yang kaya akan nutrisi. Sementara itu, untuk kebutuhan memancing, digunakan pelet khusus yang terbuat dari campuran tepung dan perekat agar dapat bertahan lebih lama di dalam air.

 

Editor : rekian
#perikanan #ikan nila #kediri #Kafina Fish