Hal itu berdampak pada sektor pertanian yang menuntut petani harus mengubah strategi. Menurut Peneliti Kesehatan Benih dan Pengendalian Biokontrol, Hoerussalam, cuaca yang tidak menentu itulah yang menjadi penyebab OPT mengalami perubahan.
Baca Juga: AKP Fauzi Pratama Tak Lagi Jabat Kasat Reskrim Polres Kediri, Ini Pengganti Barunya
“Harusnya musim kemarau tapi masih ada hujan. Itu menyebabkan beberapa patogen (organisme penyebab penyakit, Red) berkembang biak dengan cepat,” jelas pria yang kerap disapa Salam itu dalam diskusi terkait anomali cuaca yang digelar Jawa Pos Radar Kediri (JPRK) pada Senin (30/6).
Dari diskusi tersebut, dia mengatakan jika peningkatan suhu tersebut dapat memunculkan anomali cuaca. Yang saat ini semakin tidak menentu. Dampak dari cuaca ekstrem itu menyebabkan kebiasaan atau siklus patogen. Mulai dari reproduksinya, cara hama itu bertahan dan menyebar hingga problem tanaman yang terkena infeksi.
Baca Juga: Melihat Keseruan Trial Class Seru di SDN Bangsal 3, Bantu Siswa TK Siap Masuk SD!
Ketika musim hujan, telur akan lama menetas. Sementara ketika hangat saat kemarau, telur akan cepat menetas. Ini membuat hama semakin cepat dan mudah berkembang biak.
Jika pada musim kemarau masih ada hujan maka pengaruhnya pada populasi hama. Sekarang keberadaannya ada di setiap siklus. Menetasnya lebih cepat dan ada yang menetas lebih lama. Sehingga proses itu tidak dilewati secara serentak. Akibatnya, siklus hama jadi campur-campur.
Baca Juga: Alhamdulillah! Pemkot Kediri Siapkan Skema PPPK Paruh Waktu bagi Honorer yang Gagal Seleksi Tahap 2
Kondisi itu membuat hama menjadi beragam. “Di satu waktu ada imago dan ada larva. Jadi kalau larva ulat itu menyerang vegetatif. Imago bisa merusak saat generative,” jelasnya.
Untuk diketahui, setiap musim ada OPT yang dominan. Karena di musim tertentu, OPT tidak bisa bertahan. Misalnya, saat musim kemarau, jamur akan tumbuh berkembang biak. Berikutnya, saat musim hujan, bakteri juga akan berkembang biak. Sementara jamur akan mati. Ketika musim kemarau tetap ada hujan maka dua hama itu akan menyerang bersamaan.
“Jadi dua-duanya menyerang. Hamanya dobel,” terangnya.
Terkait adanya hal tersebut, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Sukadi mengatakan, dispertabun tidak hanya pasif menunggu aduan dari masyarakat.
Pihaknya aktif menggerakkan timnya untuk melakukan pengamatan lapangan. “Kami harapkan jangan sampai menunggu laporan petani. Namun PPL yang turun,” jelasnya. Pentingnya PPL itu turun salah satunya adalah untuk mengumpulkan data.
Misalnya, data terkait dengan hama yang hidup pada masa cuaca ekstrem seperti sekarang. Jika ada jenis baru maka perlu dilakukan kajian. Setidaknya, pada musim yang sama nanti bisa diantisipasi.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.