Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menggali Makna Arca, Relief, dan Budaya Leluhur dalam Bincang Budaya Ngaji Reco di Kediri

Jordan Rafael Anggara Saragih • Sabtu, 21 Juni 2025 | 15:45 WIB
Talkshow Ngadi reco( Kajian Arca dan Relief)
Talkshow Ngadi reco( Kajian Arca dan Relief)

JP RADAR KEDIRI-Gedung Kesenian dan Museum Kabupaten Kediri yang terletak di Jalan Totok Kerot, Menang, menjadi saksi dari kegiatan budaya yang bertajuk Ngaji Reco pada hari Jumat 20 Juni 2025.

Acara ini mengusung tema Kajian Arca dan Relief Koleksi Museum dan berhasil menarik minat kalangan muda, akademisi, serta para pegiat seni dan budaya dari berbagai daerah, termasuk Tulungagung dan Nganjuk.

Acara dibuka oleh perwakilan Kesbangpol bidang kebudayaan, Wawan, dan menghadirkan narasumber utama Nugroho dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI (BPKW XI), serta Kris Barok dari Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur.

Kegiatan ini diorganisir oleh Eko  Priyatno sebagai kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kediri.

Dalam penjelasannya, Nugroho menyatakan bahwa arca adalah elemen krusial dari cagar budaya yang tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai sejarah, kepercayaan, dan seni.

Ia menekankan betapa pentingnya untuk membedakan antara arca dan patung berdasarkan fungsi serta konteksnya.

"Arca dan patung sering kali disamakan. Padahal, arca biasanya memiliki fungsi sakral, menjadi representasi tokoh dewa, leluhur, atau simbol kepercayaan tertentu. Sementara patung lebih bersifat artistik dan bisa ditempatkan di hotel atau ruang publik,” jelas Nugroho.

Ia juga menyatakan bahwa salah satu arca dari koleksi museum Kediri yang dipamerkan dalam acara ini belum sepenuhnya teridentifikasi.

Arca itu menggambarkan sosok dewa dari era Hindu-Buddha, tetapi dalam keadaan kepala yang hilang dan bentuk yang tidak seimbang.

“Kemungkinan besar ini arca dari masa akhir Majapahit. Ia membawa ayam kecil, yang bisa dimaknai sebagai simbol pelindung atau sosok transenden. Tapi memang tidak ada mahkota seperti umumnya tokoh bangsawan, jadi fungsinya masih jadi perdebatan,” tambahnya.

Diskusi ini juga membahas bagaimana masyarakat di masa lalu menggambarkan tokoh-tokoh penting melalui arca, relief, dan simbol-simbol yang dapat ditemukan di situs-situs budaya di Kediri dan sekitarnya.

Dalam masyarakat tradisional, arca sering kali berfungsi sebagai penanda kesucian, pelindung, serta pendamping dalam kehidupan spiritual masyarakat.

Selain itu, kisah Panji sebagai simbol budaya Kediri juga dibahas dalam acara ini. Beberapa relief Panji yang ditemukan di berbagai candi di Jawa Timur menjadi bukti bahwa cerita Panji memiliki peran yang signifikan dalam membentuk identitas kultural masyarakat Kediri.

Heru, salah satu peserta muda yang mengikuti acara, mengaku senang bisa belajar langsung tentang sejarah dan filosofi di balik arca.

 “Saya suka sejarah sejak SMP, tapi baru kali ini ikut acara seperti ini. Ternyata arca itu punya banyak makna, tidak sekadar batu berbentuk manusia atau hewan. Ini membuka wawasan saya,” ujar Heru.

Acara ini merupakan momen yang signifikan untuk meningkatkan kesadaran bersama tentang pelestarian benda cagar budaya.

Dalam diskusi, juga terungkap bahwa banyak arca  yang telah hilang, mengalami kerusakan, atau bahkan digunakan sebagai pondasi rumah dan kandang ternak.

Selain arca, diskusi juga mencakup karya relief yang banyak ditemukan di situs-situs cagar budaya. Relief berfungsi sebagai medium naratif yang menggambarkan kisah kehidupan, kepercayaan, hingga perjalanan tokoh-tokoh legenda seperti Panji.

Nugroho juga menjelaskan mengenai relief yang menggambarkan kisah Panji. Ia menyatakan bahwa relief tidak sama dengan buku cerita yang dapat dibaca dari awal hingga akhir dengan alur yang jelas.

 "Relief itu tidak dapat dibaca dari kiri ke kanan seperti buku biasa. Ceritanya sering kali tidak utuh, melompat-lompat, bahkan tidak teratur," ujar Nugroho.

Ia menambahkan bahwa banyak kisah Panji dipahatkan dalam bentuk fragmen. Misalnya, ada adegan Panji bersedih karena dipisahkan dari Dewi Sekartaji (atau Dewi Randayan), tapi konteks adegan itu tidak selalu jelas karena tidak lengkap.

 “Banyak relief yang menggambarkan suasana emosional Panji ditinggal kekasihnya, bersedih hati, atau sedang bertapa. Tapi karena reliefnya terpotong, kita harus menafsirkan maksudnya dari petunjuk visual yang tersisa,” jelasnya.

Nugroho juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut mengenai relief yang belum teridentifikasi. Ia menyatakan bahwa pengujian laboratorium terhadap mineral batu dapat dilakukan untuk menentukan asal-usul dan usia arca tersebut.

"Jika kita mengetahui lokasi penemuannya, komposisi batu, dan konteks budayanya, kita dapat lebih memahami fungsi arca tersebut. Ini sangat penting untuk narasi sejarah kita," tutupnya.

Melalui Ngaji Reco, masyarakat diajak untuk tidak hanya melihat arca dan relief sebagai warisan dari masa lalu, tetapi juga sebagai cermin yang memantulkan nilai-nilai spiritual, estetika, dan sejarah yang seharusnya direnungkan dan diwariskan.

Pelestarian bukan sekadar menjaga fisik benda, melainkan juga menjaga kesadaran budaya agar tidak tergerus oleh waktu.

 

 

Editor : Jauhar Yohanis
#Ngaji Reco #Museum Kediri #arca #Relief