Sentra Aquabis Perikanan (SAP) di Dusun Sumbersuko, Desa Tunglur, Kecamatan Badas ini tak hanya bermanfaat bagi pembudi daya ikan. Juga ada dampak ekonomi yang menyasar ke masyarakat sekitar.
Misalnya adalah para pencari cacing sutra. Cacing-cacing itu dijual ke para pembudi daya yang menyewa kolam di SAP.
“Jumlahnya sekitar 30 orang (pencari cacing sutra). Dari warga sekitar. Mereka kirim setiap hari,” aku Syahminan.
Pencari cacing itu setiap hari bisa mendapatkan Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Setiap kali cacint diantar pasti dibeli.
"Karena terus butuh. Kalau tidak ada mereka, peternak ikan juga kesulitan. Kalau mereka tidak ada kami juga tak dapat uang. Jadi adanya tempat ini timbul efek domino," jelasnya.
Pencari cacing ini mendapatkan buruannya dari sungai-sungai yang dialiri air kolam ikan lele. Sehingga, SAP memunculkan perputaran ekonomi, yang saling terkait.
Syahminan mengatakan, tidak hanya pencari cacing sutra saja, warga sekitar ada pula yang menjadi pencari telur ikan gabus.
Pemburu telur ini biasanya mencari telur ikan gabus di sungai. Berikutnya dijual pada para pembudi daya ikan. Yang akan melakukan penetasan atau langsung menjualnya ke pemesan.
"Permintaan ikan kutuk (gabus, Red) dari Sidoarjo juga sangat tinggi. Untuk dibuat albumin. Tapi sini kewalahan untuk mengirim ke sana," jelasnya.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kediri Nur Hafid membenarkan terkait adanya efek domino ekonomi di area SAP. Selain pencari cacing sutra dan telur ikan gabus, serta kuliner di area itu juga hidup.
Apalagi saat transaksi fisik masih banyak. Kuliner di dalam SAP dulunya banyak dan ramai.
"Sekarang tetap ada beberapa di luar," jelas Hafid. (muhamad asad muhamiyus sidqi/fud))
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira