Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Bedanya Dulu dan Sekarang Sentra Aquabis Perikanan Badas Kediri

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 7 April 2025 | 04:21 WIB
Sentra Aquabis Perikanan (SAP)
Sentra Aquabis Perikanan (SAP)

Letaknya ada di Jalan Pattimura. Di tepi jalan besar yang menghubungkan Kediri dan Jombang. Berada di wilayah administrasi Desa Tunglur, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri.

Orang mengenalnya dengan SAP. Kependekan dari Sentra Aquabis Perikanan.

Orang juga menyebutnya pasar ikan. Yang menyediakan berbagai jenis ikan.

Baik yang hias, konsumsi, benih, hingga ikan yang siap dimakan. Namun, ketika didatangi, pasar yang seharusnya ramai orang itu terlihat sepi.

Tidak ada sama sekali yang terlihat melakukan transaksi. Sudah matikah pasar berbagai jenis ikan itu?

Syahminan Rahman, penyewa salah satu tempat di SAP, mengatakan dulu ketika awal dibangun, pada 2009, suasana pasar sangat ramai. Karena fungsinya yang sebagai sentra jual beli ikan.

“Banyak yang datang untuk membeli,” jelas pria 62 tahun ini.

Setiap hari banyak yang datang bertransaksi. Apalagi berada di jalur ramai dan mudah dijangkau.

Terutama menggunakan moda transportasi darat berupa bus yang lewat di jalur ini.

Terus, sekarang? “Transaksi banyak dilakukan lewat online (daring, Red),” jelas Syahminan.

Itulah sebabnya suasana pasar terlihat sepi. Bahkan, hampir tidak ada transaksi yang terjadi di lokasi.

Padahal, justru omzetnya sangat tinggi.
“Orang awam mengiranya pasarnya mati. Karena tidak ada yang datang. Padahal aslinya transaksi di sini tetap ada. Bahkan ramai,” terangnya.

Sistem online tersebut mulai digunakan ketika terjadi pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Model itu tetap bertahan hingga sekarang.

Selain itu, suasana sepi juga diakibatkan jarangnya event kontes ikan hias. Di awal-awal SAP berdiri, sering menggelar kontes seperti itu.

Tapi, kini acara-acara kontes berpindah di area Simpang Lima Gumul (SLG), yang ada di wilayah Kecamatan Ngasem. Tepatnya di Convention Hall.

“Sebenarnya jual beli secara offline masih ada. Namun intensitasnya kecil,” jelas laki-laki yang sudah menyewa tempat sejak SAP awal berdiri ini.

Akibat perubahan gaya jual beli itu, fungsi SAP pun ikut bergeser. Lebih banyak digunakan pembudi daya sebagai transit ikan.

Sebelum dikirim ke pemesan. Juga, menjadikan tempat ini sebagai lokasi pembenihan.

“Kan pembudi daya tidak semuanya benihnya di sini. Jadi saat mau jual, ditransitkan di sini, kemudian dikirim,” jelasnya.

Setiap hari di tempat ini berlangsung pengiriman benih ikan berbagai jenis. Volumenya bisa sampai dua pikap.

“Dikirim ke Juanda. Jumlahnya belasan sampai puluhan ribu. Tergantung ukuran benihnya,” terangnya, sembari menyebut lele, tombro, nila dan gurami sebagai jenis yang paling banyak dikirim.

Terpisah, Kepala Dinas Perikanan Nur Hafid mengatakan, dulunya konsep SAP adalah pasar ikan hidup yang transaksinya secara offline.

Seiring waktu, transaksi berubah menjadi daring. Kemudian, pada 2018, tempat ini juga jadi lokasi budidaya ikan air tawar.

“Di bawah UPT Perikanan Budidaya Air Tawar (PBAT, Red),” jelas Hafid.

Para pembudi daya yang ingin memanfaatkan lokasi ini melakukannya dengan cara sewa. Nilainya pun sangat murah.

“Per meternya Rp 500-Rp 750 per bulan,” jelasnya.

Karena murahnya itu, tidak sedikit peternak ikan di area Badas yang memanfaatkan. Sedikitnya ada 15 peternak yang aktif.

“Sekarang lebih ke packing. Walau ada yang melakukan pembenihan juga. Dan karena murah itu, jadi banyak yang memakai karena menguntungkan,” jelasnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#perikanan #kediri