Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ada Ratusan Kasus HIV/AIDS di Kota Kediri, Salah Satunya Masih Berstatus Pelajar

Ayu Ismawati • Senin, 7 Oktober 2024 | 19:44 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Temuan kasus orang terjangkit human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immune deficiency syndrome (AIDS) meningkat.

Yang mengejutkan, kasusnya sudah menyasar pelajar. Hal itu memantik perhatian aktivis Warga Peduli AIDS (WPA) se Kota Kediri. 

WPA mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri untuk bergerak cepat. Apalagi dalam kurun waktu enam bulan sejak Januari – Juni, temuan kasus di Kota Kediri mencapai 111 kasus. Angka itu lebih tinggi dibandingkan Januari – Juni 2023 lalu dengan total 96 kasus. 

Ketua WPA Kecamatan Mojoroto Agus Riyanto mengatakan, ada tren peningkatan infeksi penyakit menular seksual (IMS) di kalangan anak muda.

Ada enam kasus HIV di Kecamatan Kota yang seluruhnya menjangkit anak sekolah menengah pertama (SMP).

“Terus ada di Kecamatan Mojoroto itu pelajar juga sudah positif HIV/AIDS,” ujar Agus.

Dari temuan tersebut, tidak seluruhnya warga Kota Kediri. Ada pula masyarakat dari luar kota yang kasusnya ditemukan di Kota Kediri.

“Dari enam kasus, empatnya dari luar kota yang dua dari Kota Kediri,” bebernya terkait temuan kasus awal tahun ini.

Data yang dihimpun koran ini, dari ratusan kasus selama enam bulan itu, paling banyak menimpa masyarakat usia 20-29 tahun.

Sedangkan untuk usia 10-19 tahun, terdapat enam kasus yang ditemukan selama kurun waktu enam bulan. Sisanya tersebar di usia 30 tahun ke atas.

Berdasarkan klasifikasi pekerjaan, penderita kategori siswa dan mahasiswa menduduki urutan empat tertinggi dengan total 13 kasus.

Yang paling banyak dari latar belakang wiraswasta dengan 37 kasus. Kondisi itu pula yang mendorong aktivis HIV/AIDS itu untuk mempercepat upaya pencegahan penularan HIV di kalangan remaja.

Kemarin (3/10), mereka mendatangi kantor Dinas Pendidikan Kota Kediri untuk meminta adanya upaya konkret dalam mencegah penularan IMS di kalangan anak usia sekolah.

Salah satunya dengan menggencarkan pendidikan tentang pencegahan kenakalan remaja dan bahaya seks bebas.

“Ini ikhtiar kami dengan dinas pendidikan untuk mencegah penambahan kasus HIV/AIDS dan IMS di kalangan remaja. Kita harus buat terobosan,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri M. Anang Kurniawan melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Ibnu Qoyim mengatakan, pihaknya menyambut baik upaya tersebut.

Sebagai salah satu upaya mengantisipasi pergaulan bebas, WPA berencana menyosialisasikan tentang bahasa seks bebas di kalangan anak remaja.

“Karena ini terkait masa depan anak, harus kita tanggapi serius,” ujar Ibnu.

Namun begitu, seharusnya kegiatan pendidikan seksual itu bisa disampaikan di masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).

Namun, karena masa itu sudah terlewat, maka menurutnya kegiatan bisa dilakukan menyesuaikan waktu di masing-masing sekolah.

“Bisanya kalau ada waktu longgar bisa disisipkan. Misalnya waktu tengah semester atau akhir semester,” tandasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 
Editor : Anwar Bahar Basalamah
#aids #jawapos #hiv #kota kediri