JP Radar Kediri- Larangan penggunaan sound system horeg itu telah disampaikan Kapolres Kediri AKBP Bimo Ariyanto pada awal Agustus lalu. Karena itu, setiap jajaran polsek diminta untuk melakukan pemantauan terhadap seluruh kegiatan masyarakat khususnya pada saat agustusan mendatang.
“Pelarangan (penggunaan sound system horeg, Red) sudah disampaikan Pak Kapolres (AKBP Bimo Ariyanto, Red), tapi kami khawatir masih ada yang nekat menggelar battle sound, karena itu akan dilakukan pengawasan,” ujar Kapolsek Plemahan AKP Bowo Wicaksono.
Sebelumnya, dia mendapat informasi jika keberadaan sound horeg itu masih ada di wilayah Kediri. Untuk itu, perlu dilakukan antisipasi dan pendekatan ke semua stakeholder termasuk ke camat dan kepala desa di wilayah Plemahan.
Meski ada larangan, peminat sound system ini cukup tinggi. Hal itu disampaikan Avi, pengusaha sound system asal Pare. Bujang 27 tahun itu mengatakan jika ada yang ingin menyewa tetap akan dilayani.
“Wah, kalau battle sound kami kembalikan pada kesadaran orangnya (yang menyewa, Red),” ujarnya.
Dia mengatakan, terkait penggunaan bukan menjadi tanggung jawabnya sebagai pengusaha sound system. Untuk menghindari agar tidak disalahgunakan, Avi hanya berupaya melakukan pencegahan dengan cara menyeleksi penyewanya.
Sebelum disewa dia harus mengetahui untuk apa sound miliknya disewa. Jika kerap dipakai untuk battle sound maka potensi untuk rusak akan semakin besar. “Banter-banteran itu bisa bikin rusak komponen sound,” aku Avi.
Sementara itu, Selfi, 25, warga Kecamatan Pare mengaku kerap menemukan battle sound saat karnaval. “Mau melarang kadang gak enak,” ujar Selfi. Ramainya orang yang menonton sound horeg itu karena merasa adrenalinnya semakin terpacu. Apalagi musik yang diputar sangat kencang.
Omzet Pengusaha Capai Rp 20 Juta Sebulan
Pengusaha Sound System bisa tersenyum semringah bulan ini. Mereka benar-benar merdeka. Perayaan Hari Kemerdekaan RI menjadi berkah karena penyewa sound system milik mereka sudah mulai mengantre.
“Alhamdulillah, sudah banyak yang booking untuk 17-an,” ungkap Avi, 27, pengusaha sound system asal Pare. Pesanan untuk bulan ini mengalami peningkatan cukup drastis.
Untuk tarif sewanya berbeda-beda. Harga paling rendah dibanderol Rp 2,5 juta per hari. Sedangkan harga paling tinggi bisa mencapai belasan juta rupiah. Semakin besar nilai sewa maka sound yang dipakai semakin banyak dan lebih tinggi. Jadi harganya menyesuaikan dengan kebutuhan si pemesan.
Baca Juga: Bantuan Berhenti, Warga Terdampak Pencemaran Minyak di Tempurejo Kota Kediri Resah
Lantas berapa omzet selama Agustus ini? Avi tidak menyebut spesifik. Namun, bisa tembus mencapai Rp 20 juta. Apalagi sound miliknya seringkali dipakai di acara-acara formal di dalam Gedung. Selain itu juga dipakai untuk acara musik. “Saat Agustus ini seringnya disewa untuk dangdutan,” lanjutnya.
Meningkatnya omzet sewa sound system ini juga dirasakan Tuti, 55, asal Pare. Dia juga mampu meraup omzet jutaan rupiah dari persewaan sound system. Saking ramainya, dia meminta adiknya yang berada di Kecamatan Kepung untuk ikut mengelola dan membantunya.
Sebagai bisnis keluarga, persewaan sound menerima pesanan hingga sampai luar kota. “Alhamdulillah, kalau Agustus alatnya disewa sampai luar kota,” ujar Tuti kepada wartawan koran ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah