KEDIRI, JP Radar Kediri- Kirab peringatan 1 Sura di Petilasan Sri Aji Jayabaya Desa Menang, Kecamatan Pagu dibanjiri penonton. Jumlah pengunjung yang membeludak itu membuat ritual menjadi kurang khidmat. Sebab, banyak yang nekat menerobos atau tidak mematuhi anjuran panitia.
“Saya rasa untuk tahun ini, gimana ya. Khidmatnya kurang ya,” ujar Kepala Desa Menang Linda Endrawati saat ditemui di Sendang Tirta Kamandanu kemarin.
Pernyataan Linda bukannya tanpa sebab. Kemarin memang banyak pengunjung yang memasuki area steril upacara. Mereka juga berkerumun di area prosesi yang berlangsung di Sendang Tirta Kamandanu.
Hal serupa juga terjadi di petilasan. Pengunjung dengan seenaknya masuk tanpa melepaskan alas kaki. Padahal, pengelola sudah memberi imbauan agar alas kaki dilepas jika ingin memasuki area tersebut. “Pada saat upacara di sini sudah banyak masyarakat yang masuk. Padahal ada tamu dari yang akan nyekar ya,” sesalnya.
Linda mengakui, jumlah pengunjung pada tahun ini lebih banyak dibanding tahun lalu. Salah satunya karena aturan terkait pandemi Covid-19 sudah benar-benar dicabut. Sehingga animo dari pengunjung tidak dapat dibendung. Jumlah penonton yang ingin menyaksikan ritual 1 Sura membeludak.
“Yang jelas ini lebih banyak dibandingkan kirab tahun lalu. Mungkin itu juga akhirnya pengunjung membeludak,” lanjut Linda.
Hal senada diungkapkan Pengurus Yayasan Hondodento Chatarina Etty. Menurutnya, kondisi tersebut membuat kesakralan upacara menjadi berkurang. Padahal seluruh rangkaian tersebut sudah menjadi tradisi setiap 1 Sura sejak puluhan tahun lalu.
“Kami selaku pengurus di petilasan sini merasa segan kalau masuk tidak melepas alas kaki. Tapi tadi (kemarin, Red) banyak yang masuk pakai sandal langsung nyekar,” terang perempuan asli Jogjakarta tersebut.
Meski demikian, baik Linda maupun Chatarina mengaku lega karena kirab berjalan dengan lancar. Mulai dari prosesi awal hingga akhir. Hanya saja, ada beberapa catatan yang perlu menjadi perhatian ke depannya. Mereka berharap, tradisi setiap 1 Sura di sana bisa dipahami bersama oleh semua pihak. “Kita semua wajib nguri-uri budaya dan tradisi Jawa. Itu menjadi kewajiban kita bersama. Termasuk kirab ini,” tandas Chatarina.
Ketua DPRD Kabupaten Kediri Dodi Purwanto yang kemarin juga mengikuti kiran menilai tradisi setiap 1 Sura di Menang harus dilestarikan. Hal tersebut menurutnya juga sesuai dengan semangat Kediri Berbudaya. “Tradisi ini tidak boleh mati sampai kapan pun,” terang Dodi mengapresiasi ritual kirab dan mengajak masyarakat terus menggelorakannya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah