KEDIRI, JP Radar Kediri - SMAN 5 Taruna Brawijaya memulai menggelar pendidikan untuk angkatan V di tahun 2023 ini. Tradisi Pembukaan Pendidikan Taruna Smata Jaya berlangsung penuh semangat dan haru. Para taruna mendapatkan suntikan motivasi lewat puisi dan orasi ilmiah.
‘Taruna Melangkah, Hati meyakini, Orang Tua Menatap Dengan Bangga, Mengawal Perjalanan Yang Berarti, Mereka Tahu, Di Balik Perpisahan Ini Ada Kebahagiaan’.
Itulah penggalan puisi berjudul ‘Terikat dalam Bersitan Doa’ ciptaan Eko Agus Suwandi. Puisi yang ditulis sendiri oleh Kepala SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur ini dibacakan langsung Eko saat Tradisi Pembukaan Pendidikan Taruna Smata Jaya Angkatan Ke-V pada Sabtu (15/7). Puisi tersebut mempunyai makna yang dalam. Yaitu, mulai saat itu, taruna baru akan berpisah sementara dengan orang tua dan keluarga. Mereka akan tinggal di asrama untuk dicetak menjadi pemimpin masa depan. “Taruna Smata Jaya dilahirkan untuk memimpin di masa depan,” tandas Eko disambut tepuk tangan ratusan orang tua, taruna baru, dan sejumlah tamu undangan yang hadir.
Kepercayaan orang tua atau wali taruna kepada Smata Jaya terus meningkat. Terbukti, jumlah pendaftar taruna setiap angkatan melonjak. Mereka tidak hanya berasal dari Kediri dan Jawa Timur. Namun, dari penjuru Tanah Air.
Kepercayaan orang tua taruna yang meningkat itu karena lulusan Smata Jaya berkarakter, berprestasi di bidang akademik, dan non-akademik. Selama 24 jam, mereka digembleng menjadi taruna yang siap menjadi pemimpin di masa depan. Bangun pagi, senam, salat Subuh, kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan Kurikulum Merdeka, mengaji bagi yang muslim, dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing taruna bagi yang non-muslim. “Pembiasaan yang baik akan berbuah hasil yang baik,” ujar kepala sekolah berprestasi tingkat nasional ini.
Untuk lulusan Smata Jaya, banyak diterima di sekolah kedinasan, Universitas Pertahanan (Unhan), Akmil, dan perguruan tinggi negeri favorit. Tahun ini ada 15 taruna yang diterima di S-1 Unhan, dua taruna di STIN, dua taruna di PPI, satu taruna di PIP, satu taruna di Poltek Aka Migas, dua di Poltekpel Surabaya, serta puluhan taruna di PTN favorit. “Saat ini 4 taruna sedang mengikuti tes pantukhir di Akmil dan 7 di AAL,” ungkap Eko.
Dalam tradisi pembukaan pendidikan Taruna Smata Jaya tersebut, para taruna dan orang tua juga mendapat motivasi dari Dr Suko Widodo. Dokter dari Universitas Airlangga (Unair) ini memberikan orasi ilmiah yang membakar semangat dan memantapkan hati taruna untuk menjadi pemimpin di masa depan. ”Akar pendidikan itu pahit, tetapi buah pendidikan itu manis,” ujar Suko.
Selain Dr Suko Widodo, hadir pula Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kediri Ramli, Komandan Resimen Induk Kodam V/Brawijaya, Kolonel Inf Renal Aprindo Sinaga, Pabandya Dik Kodam V/Brawijaya, Mayor Inf Amar Supratman, Rektor Universitas Kadiri Djoko Rahardjo, dan Dr Imron Muzakki M.Psi sebagai narasumber.
Semangat para taruna untuk menjadi pemimpin yang berkompeten ini membuat mereka siap belajar di Smata Jaya. Mereka pun memohon doa restu ke orang tua. Para taruna baru mendatangi orang tua atau wali taruna yang duduk di kursi. Para taruna bersimpuh dan sungkem untuk memohon doa restu. Air mata pun berlinang di pipi taruna dan orang tua. Kebulatan tekad taruna dan keinginan orang tua mendukung ikhtiar sang anak seperti puisi yang dibacakan Eko membuat mereka tegar. Para taruna pun siap dan masuk ke Smata Jaya untuk dididik menjadi pemimpin. Taruna Smata Jaya Born to Lead. “Kalian terlahir untuk menjadi pemimpin masa depan. Kalian di Smata Jaya datang untuk berjuang. Berjuang untuk menang,” tandas Eko.
Editor : Anwar Bahar Basalamah