Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Cerita Pemilik Toko Tempat Ela Bekerja, Salah Satunya soal Pertemuan dengan Totok

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 14 Juli 2023 | 16:52 WIB

TUTUP: Toko Sahabat Rafel yang menjadi tempat bekerja Ela di Desa Dukuh, Ngadiluwih masih belum beroperasi lagi hingga kemarin.
TUTUP: Toko Sahabat Rafel yang menjadi tempat bekerja Ela di Desa Dukuh, Ngadiluwih masih belum beroperasi lagi hingga kemarin.

KEDIRI, JP Radar Kediri-Keberadaan Suprapto, 53, alias Totok, pria yang diduga kuat menjadi pelaku pembunuhan Desi Lailatul Khoiriyah, 20, anaknya sendiri, masih menjadi tanda tanya. Sebelum kabur, pria asal Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo itu sempat mengembalikan kunci toko tempat Ela bekerja. Kepada sang pemilik, dia berdalih anaknya resign karena pindah kerja ke Lamongan.

Pantauan koran ini, toko yang terletak di Desa Dukuh, Ngadiluwih itu hingga kemarin tutup. Pasalnya, sehari-hari toko alat tulis dan jasa foto kopi itu memang ditunggui oleh gadis yang akrab disapa Ela itu. Karenanya, begitu Ela ditemukan dinyatakan raib sejak Kamis (6/7) lalu, toko tersebut tutup hingga sekarang.

Meski pemilik toko sudah mengetahui Ela meninggal secara tragis pada Sabtu (8/7) lalu, mereka tak kunjung mencari penggantinya. “Karyawannya Cuma Ela itu. Nduk’e (Disma, Red) hanya jaga saat malam saja atau pas Ela tidak masuk,” kata Indras, 43, pemilik toko foto kopi.

Baca Juga: DKPP Kabupaten Kediri Waspadai Sebaran Antraks, Ini Tindakannya

Selain Ela yang menjadi karyawan toko, memang ada Disma, anak Indras yang biasa berjaga pada malam hari. Meski demikian, dia lebih banyak disibukkan dengan aktivitas kuliahnya. Praktis, Ela yang bertanggung jawab penuh dengan operasional toko tersebut. “Masih terngiang-ngiang dengan Ela, jadi nggak berani buka,” lanjut Indras tentang kondisi toko yang hingga kemarin masih tutup.

Lebih jauh Indras mengungkapkan, kali terakhir Disma bertemu dengan Ela sekitar pukul 20.00 Rabu (5/7) lalu. Di pertemuan tersebut, Ela tidak menyampaikan rencananya untuk resign dari pekerjaannya. “Hanya ngobrol biasa (sebelum pulang, Red),” sambung gadis yang juga teman SMP Ela ini.

Makanya, begitu Kamis pagi bertemu dengan Suprapto alias Totok, ayah Ela, mahasiswi salah satu kampus kesehatan di Kota Kediri ini mengaku kaget. Sebab, pria berusia 53 tahun itu menyebut anaknya berhenti kerja di toko itu dan pindah ke Lamongan. “Katanya anaknya malu mau pamitan sendiri,” terang Disma tentang jawaban Totok saat ditanya kenapa Ela tidak pamitan secara langsung.

Baca Juga: Target Retribusi Uji Kir Kabupaten Nganjuk Tak Sampai Rp 1 Miliar

Sikap Totok pagi itu menurut Indras juga sedikit mencurigakan. Dia terlihat terburu-buru usai menyerahkan kunci toko. Indras yang baru pulang dari pasar sekitar pukul 07.00 pun tak disapa. “Seharusnya kan salaman atau menyapa. Ini tidak. Semerap kula langsung ngalih,” sambung Indras lagi.

Kebingungan ibu dan anak Kamis pagi itu terjawab pada Sabtu (8/7) siang. Yakni saat kabar penemuan mayat di dalam karung di Desa Bulupasar, Pagu pada Sabtu pagi adalah Ela. Sikap Totok yang mengembalikan kunci toko beberapa hari sebelumnya kembali tergambar di benak mereka.

Menurut Indras, Totok terhitung cukup sering mendatangi Ela di toko. Meski demikian, anak tunggal itu tidak pernah menceritakan detail percakapannya. Termasuk masalah yang dihadapi. “Dia (Ela, Red) tertutup,” tutur Indras sembari menyebut anaknya juga turut dimintai keterangan oleh Polsek Ngadiluwih.

Baca Juga: Pencairan Uang Ganti Rugi Tol Kediri-Tulungagung di Kabupaten Kediri Menjadi yang Tercepat

Seperti diberitakan, mayat Ela ditemukan di dalam karung di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu pada Sabtu pagi lalu. Mayat diduga dibuang sejak Rabu malam. Indikasinya, pada Kamis (6/7) pagi sudah ada warga yang melihat keberadaan karung berisi mayat tersebut.

Saat karung dibuka, tangan dan kaki Ela terlihat diikat dengan kain. Hasil otopsi menunjukkan ada luka bekas pukulan di kepala Ela. Meski demikian, hal tersebut bukan jadi penyebab kematiannya. Dia dinyatakan meninggal karena paru-parunya kemasukan air. Hal tersebut memastikan kondisi Ela saat dibuang di parit tersebut masih dalam kondisi hidup.

Sebelum ditemukan meninggal dalam kondisi tragis, Ela diketahui kali terakhir bersama Totok. Kerabat yang tinggal persis di samping rumah Ela di Dusun Pagak, Desa Banggle, Ngadiluwih sempat mendengar suara teriakan dari Ela pada Rabu malam.

Baca Juga: Dinas P3AP2KB Kota Kediri Launching Sekolah Orang Tua Hebat, Ini Fungsinya

Saat Mariyono, 82, kakek Ela pulang ke rumah sekitar pukul 23.00 Rabu lalu, dia mendapati rumah yang kosong dalam kondisi mencurigakan. Pria yang berangkat mengaji saat Ela belum pulang itu mendapati seluruh korden dalam kondisi tertutup dan semua lampu mati.

Selanjutnya, saat dicek kondisi kamar Ela semuanya acak-acakan. Hal tersebut sempat memunculkan dugaan jika Ela diperkosa. Meski demikian, hingga kemarin pemeriksaan histo patologi untuk memastikan hal tersebut masih belum keluar.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Kediri AKP Rizkika Atmadha Putra yang dikonfirmasi tentang progres penyelidikan keberadaan Totok mengaku pihaknya masih fokus melakukan pencarian. “Kami minta dibantu dan dukungannya nggih. Banyak teman media yang menanyakan semua masuk dalam konteks proses penyelidikan kami,” tandasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pembunuhan #ayah bunuh anak #pembunuhan kediri #pembunuhan anak