KEDIRI, JP Radar Kediri-Polres Kediri masih terus melakukan penyelidikan kasus tewasnya Desi Lailatul Khoiriyah, 20. Selain memburu Suprapto alias Totok, ayah korban, korps baju cokelat juga mencari barang berharga milik Desi. Di antaranya, satu unit sepeda motor yang dibawa oleh pria yang pernah dirawat di Puskesmas Jiwa Rejoso, Nganjuk tersebut.
Sebelumnya, Mariyono, 80, kakek korban, mendapat penjelasan dari pemilik toko tempat gadis yang akrab disapa Ela itu bekerja. Intinya, Totok sempat mendatangi toko untuk menyerahkan kunci kepada sang pemilik pada Kamis (6/7) pagi. “Dia (Totok, Red) sekaligus memberi tahu jika Ela tidak masuk kerja,” kata Mariyono.
Saat datang ke toko, Totok mengendarai sepeda motor gadis yang tinggal di Dusun Pagak, Desa Banggle, Ngadiluwih itu. Hingga kemarin, sepeda motor tersebut masih belum diketahui keberadaannya. Raibnya satu unit motor milik lulusan SMKN 1 Semen itu sekaligus jadi salah satu variabel polisi dalam mendalami motif pembunuhan. Yakni, motif menguasai harta milik korban.
Baca Juga: Hadapi Kemarau, BPBD Kota Kediri Kaji Ulang Titik Rawan
“Semua kemungkinan (motif, Red) masih didalami penyidik,” kata sumber ini di Polres Kediri.
Sementara itu, penelusuran koran ini di rumah Totok di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, sosok bapak satu anak itu dikenal sebagai pria yang tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga sekitar rumahnya. Dia disebut jarang keluar dari rumah. “Kalau ke sini (rumah orang tuanya di Sambi, Red) cuma masuk rumah, sorenya keluar lagi,” kata Jaka Nirmala, ketua RT setempat sembari menyebut Totok tidak pernah cangkruk atau kegiatan sosialisasi lainnya.
Pria yang tinggal tepat di depan rumah orang tua Totok itu menjelaskan, di daerahnya Totok juga dikenal sangat tertutup. Saat diajak berkomunikasi oleh warga, dia hanya menjawab secara singkat. “Tidak ada basa-basi lanjutan,” terangnya.
Menurut pengakuan kakak Totok yang sama-sama bekerja sebagai sopir, adiknya memang jarang berkomunikasi. Apalagi terkait masalah pribadi yang dihadapi. “Dari pengakuan kakaknya, dia (Totok, Red) memang jarang cerita-cerita masalah pribadinya. Orangnya tertutup,” tutur Jaka.
Sebelum menikah dengan Sulastri, menurut Jaka Totok pernah mengalami gangguan jiwa. Tidak jarang dia berteriak-teriak atau marah hingga membanting sesuatu. Akhirnya, pihak keluarga membawa Totok untuk menjalani pengobatan di Puskesmas Jiwa Rejoso, Nganjuk.
“Sebelum nikah ini terindikasi stress. Pernah ngamuk-ngamuk, terus ada warga yang lapor ke saya, saya parani (datangi, Red),” papar Jaka sembari menyebut setelah didatangi waktu itu Totok langsung diam.
Terkait kabar keterlibatan Totok sebagai pelaku pembunuhan terhadap anaknya sendiri, Jaka menyebut hal itu juga berkembang di lingkungannya. “Dugaan kuat pada dia (pelaku pembunuhan, Red), tapi tidak bisa langsung mengatakan bahwa dia pelakunya. Tapi karena dia menghilang, dugaan kuat di dia (pelakunya, Red),” urai Jaka.
Baca Juga: Kecantol Janda Kang Dalbo Nelangsa
Meski kabar tersebut sudah menyebar, menurut Jaka kedua orang tua Totok belum mengetahui hal tersebut. Mereka juga tidak tahu jika cucunya meninggal secara tragis oleh ayahnya sendiri.
Kendati demikian, Jaka menengarai ibu Totok sudah mengetahui keterlibatan anaknya tersebut. “Ibunya (ibu Totok, Red) sempat mengancam mau bunuh diri dengan membawa pisau yang akan diiriskan ke tangannya karena nggak dikasih tahu keberadaan Totok,” jelas Jaka.
Melihat ibunya histeris, kakak sulung Totok menyebut jika dia sedang bekerja di luar kota. Hal tersebut berhasil membuat sang ibu percara dan menjadi tenang.
Terpisah, Polres Kediri belum memberi penjelasan tentang perkembangan penyelidikan.
Kasatreskrim Polres Kediri AKP Rizkika Atmadah Putra, melalui Kanit Pidum Ipda Dandy Fitra Ramadhan yang dikonfirmasi tentang keterlibatan Totok menyebut pihaknya belum bisa berkomentar panjang. “Masih dalam proses penyelidikan,” tegas Dandy tak menampik jika Ela terakhir kali pergi bersama Totok sebelum ditemukan tewas Sabtu (8/7) lalu.
Baca Juga: Ini Pujian Pelatih Persik Marcelo Rospide kepada Penampilan Gemilang Kartika Ajie
Seperti diberitakan, mayat Ela ditemukan di selatan wisata Totok Kerot di Desa Bulupasar, Pagu. Mayat gadis berusia 20 tahun itu terbungkus karung berwarna putih. Setelah dibuka, kondisi tangan dan kakinya terikat kain.
Hasil otopsi yang dilakukan oleh petugas RS Bhayangkara menyebut ada luka akibat benda tumpul di kepalanya. Meski demikian, hal tersebut tidak mengakibatkan dia mati. Gadis yang memiliki riwayat hubungan tidak baik dengan ayahnya itu meninggal karena paru-parunya terisi air. Hasil tersebut memunculkan fakta jika dia belum meninggal saat dibuang di selokan tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah