Cedera yang membekap membuat gadis ini nyaris gantung sepatu. Berniat pensiun dari dunia atletik. Tekadnya yang besar di sela-sela rasa sakit itu akhirnya berbuah prestasi.
KAREN WIBI, Kota, JP Radar Kediri
Stadion Brawijaya di Rabu pagi itu (5/7) sudah ramai. Puluhan orang beraktivitas di dalam stadion. Kebanyakan adalah atlet yang tengah berlatih. Pemandangan yang biasa. Lebih-lebih ketika menjelang perhelatan olahraga seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim seperti saat ini. Atlet dari berbagai cabang olahraga (cabor) giat berlatih. Berusaha tampil maksimal di ajang tersebut.
Pagi itu, yang terbanyak adalah atlet dari cabor atletik. Maklum, banyak nomor di cabang ini. Mulai sprint, lari jarak menengah, lari gawang, estafet, tolak peluru, lempar lembing, dan lompat jauh.
Dari deretan atlet atletik itu, satu di antaranya terlihat berlari santai. Seorang gadis. Lajunya tenang tak secepat yang lainya. Dia adalah Citra Eri Nuriyana. Yang punya spesialisasi di nomor estafet dan trilomba. Nomor yang terakhir terdiri dari lari 100 meter, lompat jauh, dan tolak peluru.
“Kaki kiri saya sedikit terasa sakit,” ucapnya beralasan.
Gadis 20 tahun ini memang harus waspada dengan sinyal itu. Sebab, bisa saja cedera beberapa tahun lalu kambuh. Cedera parah yang nyaris membuatnya pensiun dari dunia atletik.
Citra kemudian mengenang kejadian itu. Pada 2018, ketika tengah serius mengikuti kejuaraan atletik, insiden itu terjadi. Turun di nomor lompat jauh, tumpuannya kurang pas ketika mendarat. Kaki kirinya tidak berada di posisi yang seharusnya.
“Aaarrrrghhhh...,” Citra mengulang lagi teriakan kesaitan waktu itu. Sakitnya luar biasa. Ketika diperiksa oleh medis ternyata anterior cruciate ligament (ACL)-nya cedera. Beberapa otot hampir putus. Membuatnya mundur di tengah kejuaraan.
“Cedera ACL itu kayak jadi mimpi buruk semua atlet. Bisa-bisa langsung pensiun dini kalau kena cedera itu,” tambah mahasiswi di salah satu kampus negeri di Kota Surabaya itu.
Setelah itu, muncul perasaan traumatis pada diri Citra. Dia dihadapkan pada dua pilihan sulit. Kakinya dioperasi tapi tak bisa ikut lomba dalam waktu yang lama. Atau, tidak naik meja bedah tapi menanggung rasa sakit ketika terlalu banyak berlatih.
Kebetulan, gadis ini takut dengan meja operasi. Akhirnya, pilihannya adalah yang kedua. Risikonya, dia akan kesakitan bila terlalu banyak berolahraga.
“Sampai sempat berhenti dari atletik. Tapi tak jadi, tetap lanjut,” tegas perempuan asal Pare ini.
Hasrat pensiun tersebut bukan tanpa sebab. Sebab, cedera di kakinya benar-benar memunculkan sakit luar biasa. Tak sekadar seperti terkilir, tapi sudah tak bisa diceritakan rasa yang mendera. “Rasanya ingin menyerah saja,” kenangnya.
Untung, tekad sang atlet lebih besar dari rasa sakit. Pijakan karir yang dia rintis sejak sekolah dasar begitu sayang bila diputus di tengah jalan. Apalagi ada satu motivasi yang membuatnya melupakan rasa sakit. Ingin mengharumkan nama daerahnya, Kota Kediri.
“Apalagi bila menang hadiahnya lumayan. Bisa buat bayar kuliah dan jajan,” ucapnya diiringi senyum mengembang.
Tapi, karena tak operasi rasa sakit menjadi teman keseharian. Citra pun harus berhati-hati. Meskipun terus berlatih tapi kehati-hatian jadi yang utama.
Pengorbanan dara ini berujung manis. Tahun lalu, ketika terjun di Porprov Jatim, dia menyumbang tiga keping medali. Satu emas di nomor 4x100 meter serta perunggu di nomor 4x400 meter dan di trilomba.
Tapi, Citra masih jauh dari kata puas. Dia kini bergelut dengan latihan keras menuju Porprov 2023. Meskipun tetap dengan belitan rasa sakit di kakinya. “Semoga masih bisa dikasih kesempatan untuk memberi banyak medali untuk Kota Kediri,” harapnya, menutup obrolan di pagi itu.
Editor : Anwar Bahar Basalamah