Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Sosok Roehan, Orang Biasa yang Bergelut Tangani ODGJ di Kediri Raya

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 6 Juli 2023 | 17:32 WIB

Photo
Photo

Lelaki ini bukan orang berada. Pekerjaannya pun hanya serabutan. Namun, kepekaan sosialnya yang membuatnya rela melayani puluhan ODGJ tanpa memungut biaya.

Sanggar itu lebih mirip rumah tinggal yang sangat sederhana. Hanya berukuran sekitar 6 x 10 meter. Berdinding bata yang telah diplester tapi belum tersentuh cat. Masih berwarna abu abu. Sementara lantainya sudah berkeramik warna putih.

Hanya teras kecil, selebar satu meter, yang memisahkan rumah itu dengan jalan gang. Di dinding teras tertempel banner bertuliskan ‘Yayasan Baitul Latifa’. Tapi, di sanggar itu kecil itu, berkumpul puluhan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Mereka tengah menjalani perawatan di sanggar tersebut.

Baca Juga: Terdakwa Kasus Korupsi Gedung Serba Guna Kelurahan Ringinanom Kota Kediri Segera Bebas

Pengelolanya adalah si pemilik rumah. Bernama Roehan. Usianya saat ini sudah 58 tahun. “Saya memulai kegiatan ini sejak 2013,” aku pria yang sudah bercucu dua ini. Warga Desa Susuhbango, Kecamatan Ringinrejo ini menyebut tempat yang dia kelola tersebut dengan posyandu kesehatan jiwa. Yang dia tangani saat ini ada 48 pasien.

Yang bisa bikin geleng-geleng kepala, Roehan ibarat tak meminta imbal jasa pada keluarga pasien yang dia rawat. Hanya berharap agar si keluarga pasien menanggung biaya makan tiga kali sehari. Itupun, yang terjadi adalah keluarga pasien menyumbang ‘hanya’ Rp 300-an ribu untuk satu bulan.

“Paling mentok ya memberi Rp 500 ribu,” aku suami dari Sulastri ini. Padahal, lelaki ini bukanlah orang berada. Sanggar yang sederhana itu adalah rumah tinggal warisan.

Baca Juga: Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar Cek Progres Jembatan Bandarngalim, Ini Pernyataannya

Sedangkan dia hanya bekerja serabutan. Lebih sering sebagai pekerja bangunan. “Untuk nutupi kebutuhan ya menggunakan uang sendiri dan bantuan dari relawan,” akunya, di sela sela berbincang dengan beberapa ODGJ.

Tantangan Roehan tidak hanya dari sisi pendanaan. Yang justru lebih berat adalah anggapan minor masyarakat sekitar. Seperti yang dia rasajab di lokasi sanggarnya yang dulu, di salah satu desa di Kecamatan Mojo.

Ketika itu, ayah dua anak ini mengontrak di rumah berukuran 6 x 12 meter. Yang juga digunakan untuk menampung pasien ODGJ. Awalnya memang hanya dua orang. Tapi lama kelamaan membeludak hingga puluhan pasien. “Uang ya seadanya. Nekat pakai uang mandiri dan utang sana-sini,” terang lelaki kelahiran Desa Pojok di Kecamatan Wates ini.

Mengapa Roehan sebegitu nekat mengurusi ODGJ padahal untuk biaya hidup sehari-hari saja kesulitan? “Saya prihatin banyaknya ODGJ yang dipasung,” akunya.

Baca Juga: Bupati Kediri Dhito Dorong Lukisan Lokal Masuk Bandara Internasional Dhoho

Padahal, dalam pandangannya, dia meyakini orangorang itu tak perlu sampai dipasung. Karena itulah dia kemudian mencoba mendirikan posyandu kesehatan jiwa. Tempatnya, ya di rumah kontrakannya di desa itu.

Tapi, niat baik belum tentu berjalan mulus seperti yang diharapkan. Sambutan lingkungan sekitar rumah kontrakannya justru kurang menyenangkan. Tetangganya justru merasa risih. Takut bila pasien sakit jiwa itu mengamuk.

Tekanan seperti itu terus diterima Roehan dan istrinya. Hingga dia memutuskan pindah setelah dua tahun mengontrak. Lokasi baru ini di tempat yang sekarang, di Desa Susuhbango. Tepatnya pada 2018 silam.

Kali ini dia tidak mengontrak. Tapi mendiami rumah milik keluarga. Lokasinya memang tidak di pinggir jalan raya. Tapi masuk ke dalam gang sejauh 15-an meter. Karena itulah sanggar itu tak terlihat dari jalan raya. Tertutup oleh rumah-rumah di kanan kiri jalanan tanah di gang tersebut.

Baca Juga: Pingin Dadi Pegawai Negeri karena Diselingkuhi

Di sini, tekanan yang dia terima jauh berkurang. Penerimaan tetangga juga lebih baik dibanding tempat sebelumnya. Meskipun masih ada saja orang yang memandang sebelah mata. “Ada saja orang yang tidak suka. Takut kalau anakanak ini mengganggulah, atau yang lain,” keluhnya.

Roehan dan istrinya berusaha tetap fokus mengelola sanggarnya itu. Melakukan yang mereka yakini benar. Omongan orang yang miring tak mereka hiraukan. Tenaga mereka dihabiskan untuk menangani ODGJ, bukan menanggapi cibiran orang.

Lebih-lebih, biaya yang harus mereka tanggung juga tak sedikit. Bila hanya mengandalkan uang kiriman keluarga pasien pasti jauh dari kata cukup. Karena itu, selain uang mereka sendiri, bantuan datang dari relawan.

Memang, menghidupi puluhan orang bukan persoalan sepele. Dalam sehari, untuk beras saja, sudah menghabiskan 25 kilogram! Belum lagi untuk biaya lauk pauk dan lainnya.

Baca Juga: Ini Pengakuan Yusuf Meilana ketika Pertama Kali Ditunjuk Menjadi Kapten Persik Kediri

Agar menekan biaya, Roehan memaksimalkan tenaga para ODGJ. Mereka yang mulai sembuh dan bisa diajak berkegiatan yang dimanfaatkan. Diberi tanggung jawab seperti memasak, menyapu, mengepel, dan aktivitas lainnya.

Cara ini sekaligus untuk proses menyembuhkan. Karena Roehan yakin, pendekatan seperti itu, dengan memanusiakan mereka, adalah yang terbaik. Karena itulah dia rutin mengajak ODGJ binaannya beraktivitas. Hebatnya, selama ini 
tidak pernah ada pasien yang mengamuk kepadanya. “Alhamdulillah tidak ada,” akunya.

Roehan mengedepankan komunikasi dari hati ke hati. Meskipun dengan keterbatasan yang ada, dia yakin bahwa ketulusan akan mengalahkan segalanya. Terbukti dengan penerimaan para ODGJ tersebut. “Saya hanya ingin memanusiakan manusia,” tandasnya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#ODGJ adalah #kediri raya #odgj #rescue