Dia memang baru dua tahun tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Namun, kesan kerabat dan tetangganya sangat dalam. Wajar bila tragedi yang menimpa sang bocah meninggalkan kesedihan yang mendalam.
Seandainya masih hidup, Raffael akan duduk di kelas 4 sekolah dasar. Sayangnya, anak Kasianto dengan istri pertamanya itu telah mengembuskan napas terakhirnya Sabtu (1/7). Setelah hanyut dan tenggelam di sungai yang mengalir di Dusun Karanglo, salah satu dusun di Desa Ngampel, Kecamatan Papar.
Tragedi di Sabtu sore itu mengejutkan warga dusun. Mereka merasa kehilangan. Meskipun sejatinya Raffa-panggilan Raffael-tergolong baru berdiam di tempat itu.
“Sekitar dua tahun di sini,” sebut Kepala Dusun Karanglo Endro Santoso.
Sebelumnya Raffa memang masih tinggal di desa yang sama, Desa Ngampel. Tapi berbeda dusun.
Baca Juga: Kadung Viral, Eh Ternyata Abal-Abal
“Sebelum ini dia tinggal di Dusun Madiunan,” terang sang kasun.
Di dusun yang lama Raffa tinggal bersama kakek dan nenek dari ayahnya. Karena Kasianto menikah lagi dengan Rinda Susilowati. Setelah itu sang anak ikut tinggal bersama ayah dan ibu sambungnya.
Begitu menetap di tempat baru, Raffa langsung memikat hati para tetangga. Sikapnya yang santun membuatnya langsung dikenal. Memberi kesan tersendiri bagi warga sekitar.
Apalagi bocah itu rajin beribadah di musala setempat. Tak pernah absen salat berjamaah.
“Awal-awal tahu (sempat bertanya-tanya), anake sapa iki, kok sregep (anaknya siapa ini kok rajin, Red)? Pas tak tanyakan ternyata anaknya Rinda,” kenang Endro, mengingat saat pertama kali bertemu dengan bocah itu.
Memori-memori indah itu yang membuatnya terkejut saat dikabari Raffa hanyut di sungai yang merupakan percabangan Sungai Brantas itu pada Sabtu sore lalu (1/7).
“Kebetulan saat itu tidur kan, terus dibangunkan. Diberitahu anak-anak kecil. Mereka bilang kalau Raffa keli (hanyut, Red). Saya balik tanya, tenan pora (sungguh, Red)?” katanya menggambarkan pertama kali mendengar kabar itu.
Kekagetan juga menerpa kerabatnya. Suwanto, kakek tiri Raffa, terkejut bukan kepalang. Dia tidak mengira cucu sambungnya itu bakal tertimpa musibah. Karena pria 63 tahun itu tak melihat gelagat aneh pada sang bocah. Berutinitas seperti biasa. Ketika disuruh juga nurut seperti biasanya.
“Bocahe memang apik. Tak suruh bantu-bantu gitu juga manutan. Paginya juga sebelum main saya suruh nyuci bajunya dulu. Terus maem (makan, Red) dulu baru keluar, ya manut,” ceritanya.
Baca Juga: Persik Kediri Pinjamkan Sutan Zico dan Roger Bichario ke Persipa Pati
Setelah dikabari teman Raffa yang juga sama-sama bermain di sungai, Kasun Endro melapor ke polisi. Warga yang lain melakukan pencarian. Membentangkan tali di sungai selebar 15-an meter itu. Untuk mengikat warga yang berusaha mencari jasad Raffa. Dengan cara menyusuri sungai yang dasarnya sudah berlapis cor tersebut.
Memang, karena dasar sungai seperti itu, kondisinya licin dan berlumut. Bila tidak ditali atau menggunakan pelampung bakal kesulitan.
Hingga menjelang malam warga terus berupaya melakukan penelusuran. Sampai mereka sudah tidak kuat dengan dinginnya air dan gelapnya suasana.
“Sehabis Maghrib warga mulai naik. Ada yang tidak kuat kedinginan,” aku Endro.
Baca Juga: Ribuan Siswa Berebut Jalur Zonasi PPDB SMP di Kabupaten Kediri
Namun, pencarian tak langsung berhenti. Warga ganti menyisir melalui daratan. Sembari menunggu datangnya relawan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri serta Basarnas. Sayang, hingga malam pencarian tak menemukan hasil.
Esok harinya, sekitar pukul 12/30. Ada kabar Jombang. Ada bocah hanyut yang ditemukan. Ciri-cirinya persis dengan kondisi terakhir Raffa. Kasun Endro pun berusaha menunjukkan foto korban kepada keluarga.
“Bapaknya di kamar, lemas. Foto saya tunjukkan kakeknya yang mengatakan itu memang benar Raffa,” terang Kasun.
Setelah pasti, rombongan dari pemerintahan desa (pemdes), Suwanto, relawan BPBD, Basarnas, babinsa, dan anggota polsek menuju ke RSUD Jombang. Di sinilah tangis Suwanto pecah. Tak tahan melihat kondisi sang cucu yang terbujur kaku di kasur kamar jenazah.
“Saat ditunjukkan foto masih tegar. Tapi pas lihat kondisi aslinya, kakeknya tak kuat menahan tangis,” ucap Endro.
Ketika jenazah sampai di rumah duka, tidak sedikit keluarga maupun warga yang tangisnya pecah. “Kedua orang tuanya wis lemes, gak isa nangis. Eluhe telas (sudah lemas, tak bisa nangis, air matanya habis, Red),” kata Endro.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah