Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Kios-Kios di Pasar Setonobetek Berganti Fungsi Jadi Rumah Tinggal

Karen Wibi • Jumat, 30 Juni 2023 | 16:45 WIB

Photo
Photo

Ada yang punya sertifikat, ada pula yang masih menyewa. Memilih tinggal di kios-kios pasar karena harganya murah. Meskipun fasilitas penunjangnya jauh dari kata layak.

“Yang punya saya ini sudah saya beli. Sudah ada sertifikatnya,” terang Siti Mudriyah. Wanita ini salah satu penghuni kios yang berubah fungsi jadi rumah tinggal di kawasan Pasar Setonobetek, Kota Kediri.

Siti bukan satu-satunya orang yang sehari-hari tinggal di salah satu kios pasar. Ada puluhan lagi yang juga melakukan hal serupa dengan wanita 66 tahun itu. Lokasinya tersebar, tidak mengelompok di satu tempat. Kebanyakan ada di sektor selatan. Terutama yang memang sudah menjadi rumah tinggal. Sedangkan kios yang statusnya sewa atau dijadikan tempat kos, lokasinya di area pasar dagang sepeda (PDS).

Baca Juga: Transaksi di Pasar Hewan Rojokoyo di Ngadiluwih Turun di Bawah Rata-Rata

Tentu saja, jangan membayangkan tempat tinggal Siti seperti rumah pada umumnya. Kondisinya seadanya. Ukurannya hanyalah 4 x 4 meter. Tembok luarnya memang dari bata merah. Namun, pembatas antar-ruang hanyalah triplek. Atau, ada yang menggunakan selembar kain yang digantung di langit-langit. Praktis, kamar tamu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi jadi satu.

Meskipun sempit, nenek satu cucu ini merasa betah. Apalagi, sehari-hari dia juga seorang pedagang. Tinggal di kios baginya lebih praktis.

“Saya tidak kontrak, langsung beli,” akunya. Kios itu dia beli dari rekannya, pada 2001. Masih murah. Hanya Rp 3 juta.

Awanya, tempat itu hanya dia gunakan untuk berjualan. Setelah tutup Siti pulang ke rumahnya di Kecamatan Kota. Lama-lama wanita ini memutuskan tinggal di kios. Barang dagangannya, sayur-mayur, dikurangi. Agar bisa menyisakan tempat untuk dirinya.
Baginya, tinggal di tempat tersebut lebih banyak enaknya. Perawatannya tidak mahal. Hanya perlu membayar sewa air dan listrik.

Tapi, tetap saja ada tak enaknya. Selain ukurannya sempit, atapnya bocor. “Kalau hujannya agak deras pasti langsung bocor,” terangnya.

Baca Juga: JPU Hadirkan Enam Saksi di Sidang PT Afi Farma di PN Kota Kediri

Kuntari, juga sama-sama penghuni rumah kios Setonobetek, punya kisah lain. Wanita 38 tahun ini memang sejak kecil hidup di lingkungan pasar. Maklum, orang tuanya adalah pedagang. Ketika dewasa dan berkeluarga dia akhirnya memilih tetap tinggal di area pasar. Wanita satu anak ini membeli satu kios seharga Rp 17 juta. Transaksi itu terjadi setahun lalu.

Fasilitas yang diterimanya juga sangat jauh dari kata layak. Hampir sama dengan rumah Siti. Hanya berbeda di ukuran saja yang lebih besar. Rumah yang ditinggali Kuntari 6x4 meter.
“Kalau jeleknya ya hampir sama,” katanya sedikit terkekeh.

Keduanya mengaku membeli kios secara legal. Punya sertifikat yang sah Yaitu sertifikat hak guna bangunan atau HGB. “Jadi kalau digusur kami dapat ganti rugi nilai bangunan,” ucap Kuntari dan Siti, hampir berbarengan.

Sayangnya, pihak pengelola pasar, PD Pasar Jayabaya Kota Kediri, memilih bungkam terkait fenomen kios yang jadi rumah tinggal tersebut. Direkturnya, Ihwan Yusuf, tak bersedia membalas konfirmasi. Beberapa kali dihubungi juga tak diangkat. Demikian pula dengan pihak pengawas pasar.

Sorotan pun datang dari wakil rakyat. Anggota Komisi B DPRD Kota Kediri R. Deddy Mochammad Bastomy menanyakan legalitas kios yang jadi rumah tinggal tersebut. Apakah boleh atau dilarang?

“Kasihan mereka sudah puluhan tahun tinggal dan tidak ada kejelasan,” ujar anggota dewan yang karib disapa Gus Odik ini.

Baca Juga: Kepala Bulog Cabang Kediri dan Hobinya Mendaki Gunung

Dia berharap Pemkot Kediri bisa tegas. Terutama terkait penataan kios yang dijadikan permukiman warga. Jika memang diperbolehkan harus ditata lebih bagus dan layak. Sedangkan bila tidak boleh, pemkot pun bisa mencari solusi.

Gus Odik pun mengkritik penataan Pasar Setonobetek yang semerawaut. Terutama di bagian belakang, yang dijadikan permukiman warga.

Semrawutnya pasar tersebut dianggap dapat mencoreng perwajahan Kota Kediri. Terutama ketika melihat kios yang dijadikan tempat tinggal tidak tertata dengan cukup rapi. “Nantinya yang rugi adalah Pemkot Kediri sendiri,” kritiknya.

Jika Pingin Pipis, Putar-Putar Dulu Cari yang Gratis
Tidak semua penghuni yang tinggal di ‘rumah kios’ (ruki) diperoleh dengan cara membeli. Beberapa di antaranya menyewa. Seperti layaknya indekos di rumah kos pada umumnya.
Harganya pun sangat murah. Hanya Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per bulan. Namun dengan catatan, harga tersebut tidak termasuk fasilitas kamar mandi.

“Kalau mau pipis ya harus cari WC di luar,” terang Mujilah, 56, seorang penyewa ruki di Pasar Setonobetek.

Berbeda dengan ruki yang sudah jadi milik penghuni meskipun statusnya HGB, kios yang disewa ini berada di satu lokal. Berada di area PDS. Termasuk yang dikontrak oleh Mujilah ini. Rumah petaknya itu ada di sayap Selatan Pasar Setonobetek.

“(Sedangkan) yang dijadikan rumah itu tempatnya mencar-mencar (berpencar),” tambahnya.

Baca Juga: Lagi! Narkoba Diselundupkan ke Lapas Kediri lewat Makanan, Kali Ini Kue Tart dan Telur Dadar

Di area PDS, setidaknya ada empat kios yang disewakan. Kondisinya jauh darikata layak. Hanya berukuran sekitar 3x3 meter hingga 3x4 meter. Bergantung dari biaya sewa.
Antara ruang tamu, kamar tidur, dan dapur juga jadi satu. Sedangkan kamar mandi dan WC tidak termasuk fasilitas yang diberikan.

Bagaimana jika penyewa kios hendak mandi atau buang air kecil? “Ya ke WC umum,” jawab Mujilah. Kebetulan, di Pasar Setonobetek ada belasan kamar mandi umum seperti itu. Letaknya tersebar di area pasar.

Bila ke kamar mandi yang tak ada penjaganya, para penghuni bisa enak keluar masuk. Tanpa membayar. Namun, bila ada petugas kebersihan yang menjaga, Mujilah harus merogoh kocek. Mengeluarkan Rp 2 ribu sekali masuk.

Bagi wanita ini, uang Rp 2 ribu sangat berharga. Apalagi bila harus sering ke kamar mandi. Karena itulah dia dan penghuni kos yang lain memilih mencari kamar mandi yang tidak ada penjaganya.

Baca Juga: Stadion Baru Kediri Dibangun, Ini Multiplier Effect yang Akan Dirasakan Masyarakat

Tempatnya? Ini masalahnya, WC umum tanpa penjaga tidak pasti lokasinya. Jika penghuni kos punya waktu luang, mereka memilih mencari-cari WC umum tanpa penjaga. Jika menemukan dia akan memberitahu yang lain.

“Kalau bayar dua ribu tiap ke WC dikali dalam sehari ya banyak,” kilah Mujilah.
Soal status tempat yang dia tinggali, Mujilah tak tahu apakah legal atau tidak. Dia juga tak terlalu memusingkan. “Yang penting kami bayar terus tidur ya aman,” ujarnya di akhir perbincangan.

SI, 40, penyewa yang lain, mengaku terpaksa menyewa kios di Pasar Setonobetek. Menurutnya jika pilihan tersebut menjadi pilihan yang paling murah. Karena di Kota Kediri, tempat kos dengan harga Rp 200 ribu per bulan hampir mustahil.

Selain itu, pilihan menyewa kios di Pasar Setonobetek terjadi karena SI juga berdagang di tempat itu. Hampir setiap hari SI berkeliling area pasar untuk berjualan.

“Kalau disini kan lebih dekat,” ujar perempuan yang mewanti-wanti namanya tidak disebut itu.

Soal biaya tambahan ketika harus ke WC, SI sebenarnya merasa keberatan. Bagaimana tidak, dalam satu hari, dirinya bisa bolak-balik ke WC atau kamar mandi. Jika haru membayar Rp 2 ribu untuk setiap kali masuk, maka dirinya bisa menghabiskan banyak uang.
Beruntung dirinya sudah bertahun-tahun ngekost di tempat tersebut. Alhasil beberapa penjaga sudah hafal dengan dirinya. Jika sudah seperti itu, SI hanya perlu membayar satu kali sehari. Sedangkan untuk selanjutnya akan digratiskan. “Tapi kalau ada penjaga baru ya bayar lagi,” ujarnya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pasar sentonobetek #rumah #kios pasar #pasar #pasar tradisioanal