Sebelumnya, Gelar Prakosa melukis menggunakan cat-cat akrilik seperti kebanyakan pelukis lain. Namun, kini dia lebih fokus pewarna dari bahan alami. Inovasi yang dia dapatkan dari keisengan untuk menghilangkan kejenuhan.
Suara benturan dua permukaan keras terdengar ketika mortal-wadah untuk menumbuk bahan-bahan eksperimen-bertemu dengan alu-alat penumbuknya. Dua alat yang biasa ada di laboratorium itu digunakan Gelar Prakosa untuk menghaluskan daun dan bunga. Untuk menghasilkan pewarna untuk melukis.
“Prosesnya panjang. Ada yang harus ditumbuk dan diendapkan dulu. Ada juga yang harus direbus lebih dulu agar ekstraknya keluar. Baru kemudian diendapkan,” terang pria itu, sambil terus asyik menumbuk bahan-bahan.
Baca Juga: Banyaknya Kekerasan Anak di Bawah Umur, Ini Penjelasan Psikolog
Di dekat Gelar tertata rapi beberapa peralatan eksperimen. Ada cepuk yang isinya bubuk pewarna hasil pengekstrakan. Bahan-bahan itu sudah siap pakai.
Galeri seni pelukis ini tak hanya terdapat karya-karya saja. Juga dikelilingi tanaman-tanaman. Dari berbagai tanaman itulah dia mendapatkan ekstrak warna yang ramah lingkungan.
Untuk mendapatkan ekstrak warna dari bahan alami itulah, prosesnya panjang. Melalui beberapa tahapan. Mulai dari menumbuk daun atau bunga hingga halus. Setelah dicampur air kemudian didiamkan agar mengendap dan menjadi kerak. Bila sudah mengerak, masih harus ditumbuk lagi. Agar kembali halus dan siap dipakai bahan melukis.
Bagaimana untuk mendapatkan warna tertentu? Pria yang memang mengalir darah seniman ini harus memilih bagian-bagian tanaman tertentu untuk mendapatkan warna. Misalnya, bila menginginkan warna merah maka yang dia tumbuk adalah daun pohon jati. Sedangkan bila butuh warna hitam dia peroleh dari bunga flame of Irian.
Baca Juga: Ngeri! Dalam Sebulan Ada Lima Rumah dan Tiga Kandang yang Terbakar, Ini Penyebabnya
“Ada lagi seperti rebusan kulit kelapa bisa menghasilkan warna merah tua,” terangnya.
Tapi, tak semua warna dia ambil dari tanaman. Pernah pula dia mendapatkannya dari batu bata atau arang.
Pria yang beralamat di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare ini tidak serta-merta memperoleh hal itu dengan mudah. Memang, semuanya bermula dari iseng. Menjadi selingan agar dia tak bosan ketika melukis. Tapi semua itu dia dapatkan setelah berulang kali mengalami kegagalan.
“Beberapa kali gagal, pasti. Namun saya tak menyerah,” aku alumnus Sastra Jepang Universitas Brawijaya ini.
Agar kegagalan bisa diminimalisasi, pria kelahiran 1989 ini punya cara. Yaitu melakukan riset terlebih dulu. Dia membaca buku, melakukan diskusi dengan yang ahli, hingga mengamati alam. Semuanya agar bisa segera mendapatkan bahan-bahan yang pas.
Baca Juga: Ramadhita Putra Purnomo, Juara 1 Pemuda Pelopor Tingkat Jawa Timur, Ini Karyanya
“Perlu meperbanyak literasi dulu untuk riset. Saya juga berpatok dari batik dan resep makanan tradisional,” aku laki-laki yang juga hobi memasak dan berkebun itu.
Memang, idenya itu muncul dari kebiasaannya merawat tanaman. Dari situ dia coba mencari solusi bagaimana caranya agar apa yang digunakannya itu juga tidak merusak alam, selain itu juga limbahnya bisa berguna dan bermanfaat bagi tanaman. Dia mencobanya untuk mencari alternatif lain untuk berkarya.
“Coba cari media alternatif dari material yang sudah ada di sekitar,” aku pelukis yang karya-karyanya bermakna filosofis ini.
Formula cat dari bahan-bahan alami yang didapatakan alumnus Universitas Brawijaya (UB) jurusan Sastra Jepang itu sebenarnya awalnya tidak disengaja. Itu bermula ketika dia merasa jenuh saat melukis projek yang harus digarap dengan mendetail dan harus dilakukan dengan jangka waktu yang lama. Dia mencari kesibukan untuk menghilangkan rasa jenuh itu agar projeknya juga bisa tetap rampung. Eureka... justru dia mendapatkan inovasi baru untuk melakukan hobinya membuat karya-karya yang megah.
Kluk kluk kluk... suara keluar dari mortal dan alu yang berhantaman satu sama lain. Gelar Prakosa terlihat sedang fokus menghaluskan bahan-bahan cikal bakal warna yang dia dapatkan untuk melukis mahakarya indahnya. Di galeri tempatnya lakukan riset itu, terlihat alat-alat eksperimen tertata rapih. Selain itu juga terlihat beberapa cepuk bubuk berbagai warna ekstrak tanaman yang sudah siap pakai. Dikelilingi tanaman-tanaman dan juga mahakarya lukisan-lukisannya, dia lakukan eksperimen untuk mendapatkan ekstrak warna dari bahan-bahan yang ramah lingkungan. Untuk mendapatkan ekstrak warna dari bahan-bahan alami, perlu dilakukan melalui proses yang panjang. Mulai dari ditumbuk agar halus, kemudian sari airnya didiamkan agar mengendap menjadi kerak. Lalu bila sudah, perlu ditumbuk kembali agar menjadi halus dan siap untuk dipakai melukis.
“Proses mendapatkannya panjang, ada yang harus ditumbuk dan diendapkan dulu, ada juga yang dengan direbus agar ektraknya keluar baru diendapkan juga,” jelas laki-laki yang lahir dari darah seniman itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah