KEDIRI, JP Radar Kediri- Tidak semua harga sapi jelang Hari Raya Idul Adha naik. Kenaikan hanya dialami yang bisa dijual untuk kurban. Sedangkan lembu pedaging yang tidak masuk kualifikasi kurban, harganya tidak naik.
“Suply jagal tidak ngaruh (naik harga), kalau untuk kurban ada kenaikan sedikit. Satu dua ekor naiknya Rp 1 jutaan. Kalau daging (non kurban) stabil,” ungkap Warsi, 63, salah satu peternak sapi di Kelurahan/Kecamatan Pare.
Menurutnya, kenaikan harga sapi kurban maupun non kurban sebenarnya bukan dipengaruhi Hari Raya Idul Adha. Namun, faktor utamanya dari ketersediaan ternak tersebut di pasar.
Jika stok di pasar sedang banyak, harga sapi akan lebih murah. Tetapi, jika sedang minim, maka harga bisa melonjak tinggi. “Sebenarnya tidak mesti. Tergantung di pasar itu barang sedang banyak atau tidak, kalau saat barang kosong, harga mahal. Kalau saat barang banyak, yang beli sedikit harga murah,” ungkap Santo, 58, pembeli yang setiap tahunnya mencari sapi untuk kepanitiaan kurban di daerahnya, Kecamatan Puncu.
Walau demikian, daripada tahun lalu harga sapi pada kurban 2023 ini memang mengalami kenaikan. Itu karena pada 2022 masih ramai wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Sehingga membuat peminatnya sedikit. Tahun ini harganya bisa capai Rp 25 juta. Sedangkan tahun lalu hanya sekitar Rp 15 juta sampai Rp 17 juta.“Saat korona dan PMK anjlok pol harganya. Turunnya hampir 60 persen,” jelas Warsi.
Dari hasil pemeriksaan dan survei Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, harga sapi kurban mengalami kenaikan.
“Yang biasanya Rp 21 juta, sekarang sudah naik jadi Rp 22 juta,” terang Kepala DKPP Kabupaten Tutik Purwaningsih. “Tahun kemarin harga sempat turun, karena pembeli turun, kalau sekarang meningkat juga permintaannya,” pungkasnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah