JP Radar Kediri – Kalau bicara soal pasukan elite dunia, nama Special Air Service (SAS) hampir selalu muncul di barisan terdepan. Unit militer asal Inggris ini punya semboyan terkenal: “Who Dares Wins” atau “Siapa Berani, Dia Menang.”
SAS lahir di masa Perang Dunia II berkat inisiatif David Stirling. Awalnya, unit ini hanya beranggotakan sedikit prajurit yang ditugaskan menjalankan operasi rahasia di gurun Afrika Utara.
Dengan strategi gerilya, mereka kerap menyerang pos musuh secara mendadak, lalu lenyap begitu saja sebelum sempat dibalas.
Baca Juga: Kronologi Perang Thailand-Kamboja, Terbaru Tewaskan 14 Orang!
Seiring waktu, SAS menjelma jadi ikon pasukan khusus modern. Misi mereka bukan main-main: mulai dari operasi penyelamatan sandera, anti-teror, sampai pengumpulan intelijen.
Salah satu aksi legendarisnya adalah Operasi Nimrod tahun 1980, saat SAS sukses membebaskan sandera di Kedutaan Besar Iran, London, hanya dalam hitungan menit.
Namun, untuk bisa menyandang baret SAS, jalan yang ditempuh bukan perkara mudah. Seleksi mereka dikenal brutal, dengan ujian fisik dan mental ekstrem yang hanya bisa dilalui segelintir kandidat. Wajar jika keberhasilan masuk SAS dianggap prestasi kelas dunia.
Baca Juga: Setiap tanggal 3 Juli Diperingati Sebagai Hari Apa?
Kini, meski banyak operasi mereka dirahasiakan, bayang-bayang keberanian SAS tetap membekas. Unit ini selalu disebut-sebut sebagai pasukan yang muncul di momen paling kritis—dan menghilang begitu tugas selesai.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira