JP Radar Kediri – Perang terjadi antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat setelah bentrokan bersenjata terjadi di perbatasan kedua negara pada Kamis (24/7).
Kedua negara saling baku tembak di sekitar kompleks Candi Ta Muen Thom, wilayah perbatasan timur yang disengketakan yang menjatuhkan korban jiwa.
Bentrokan mematikan di enam lokasi sepanjang perbatasan itu menewaskan sedikitnya 14 orang menurut otoritas Thailand.
Dilansir dari The Guardian, Jumat (25/7), militer Thailand melaporkan bahwa 13 warga sipil dan satu tentara tewas akibat serangan roket dan artileri yang diluncurkan pasukan Kamboja.
Selain itu, 14 tentara dan 32 warga sipil lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Baca Juga: Hari Puisi Indonesia, Berikut 7 Bait yang Pernah Mengguncang Nurani Bangsa
Menteri Kesehatan Thailand, Somsak Thepsuthin, menyebut serangan yang juga menghantam sebuah rumah sakit di Provinsi Surin itu sebagai kejahatan perang.
Kronologi konflik Thailand-Kamboja?
Dilansir dari Jawapos, insiden itu dipicu aksi tentara dan warga Kamboja yang menyanyikan lagu kebangsaan di lokasi pada Februari lalu. Tindakan tersebut dianggap provokatif oleh Thailand. Pemerintah Thailand melayangkan protes resmi dan sejak saat itu, ketegangan terus meningkat.
Sejak insiden itu, eskalasi militer terus meningkat di sepanjang garis perbatasan.
Titik panas kembali memuncak pada Kamis pagi di wilayah yang sama, sekitar 360 km dari Bangkok.
Baca Juga: BSU 2025 Lanjut Bulan Agustus? Pemerintah Siapkan Lanjutan Paket Stimulus Untuk Kuartal III 2025
Konflik makin memburuk setelah terjadi baku tembak pada 28 Mei di kawasan Segitiga Zamrud (Mom Bei), yang menewaskan seorang tentara Kamboja dan mendorong Phnom Penh untuk membawa sengketa ini ke Mahkamah Internasional (ICJ).
Ketegangan mencapai titik kritis sehari sebelumnya, Rabu (23/7), ketika lima tentara Thailand terluka akibat ranjau darat—satu di antaranya mengalami amputasi.
Thailand menuding ranjau itu baru ditanam oleh pihak Kamboja, sementara Kamboja menyatakan bahwa ranjau tersebut merupakan sisa konflik lama dan menuduh pasukan Thailand melintasi wilayahnya secara ilegal.
"Sangat disayangkan bahwa pihak Thailand tidak hanya menolak mengakui pelanggarannya, tetapi juga menuduh Kamboja melanggar hukum internasional—padahal Kamboja adalah pihak yang dirugikan," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja.
Sejarah Perselisihan Thailand-Kamboja?
Perselisihan perbatasan ini berakar dari peta wilayah yang disusun oleh penjajah Prancis pada 1907. Garis batas tersebut menggunakan aliran sungai sebagai patokan, namun tidak seluruh area dipetakan secara tuntas.
Baca Juga: Cek DTKS Menggunakan NIK Untuk Lihat Pencairan Bansos PKH dan BPNT Juli 2025!
Hal inilah awal pemicu sengketa yang terus membara selama lebih dari satu abad.
Salah satu titik konflik terbesar terjadi pada 2008 ketika Kamboja mengusulkan Candi Preah Vihear sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.
Hal ini memicu serangkaian baku tembak antara militer kedua negara yang mencapai puncaknya pada 2011. Mahkamah Internasional lantas mengukuhkan bahwa seluruh kawasan candi itu merupakan bagian dari wilayah Kamboja pada 2013.
Kini, Kamboja kembali menggugat empat wilayah—termasuk Candi Ta Muen Thom, Ta Muen Tauch, Ta Krabei, dan kawasan Mom Bei—ke ICJ, meski Thailand menolak yurisdiksi pengadilan tersebut. Wilayah Segitiga Zamrud yang disengketakan ini berada di titik pertemuan tiga negara: Thailand, Kamboja, dan Laos.
Konflik ini juga diperkeruh oleh ketegangan personal antara dua dinasti politik terkuat di kawasan: keluarga Hun dari Kamboja dan keluarga Shinawatra dari Thailand.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil