JP Radar Kediri – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan pada Selasa (1/9/2026) malam bahwa pihaknya telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap sejumlah sasaran militer Iran, mencakup fasilitas pertahanan udara, sistem radar, dan aset maritim. Serangan ini menandai berakhirnya masa tenang selama sebulan penuh tanpa aksi militer antara kedua negara, sekaligus membuka kembali kemungkinan konflik berskala penuh.
Media pemerintah Iran melaporkan serangan AS turut mengenai sejumlah lokasi sipil di sepanjang pesisir selatan negara tersebut. Ledakan dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, termasuk kota pelabuhan Bandar Abbas yang menjadi lokasi fasilitas angkatan laut dan angkatan udara, serta Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Sejumlah saksi di Bandar Abbas mengatakan kepada Associated Press bahwa ledakan kali ini terasa lebih kuat dibandingkan serangan pada Minggu (30/8) sebelumnya, dengan asap yang terlihat membubung dari bagian timur kota di tepi Selat Hormuz.
Baca Juga: Singgung Nuklir Iran, Siaran Langsung Pidato Prabowo di Istana Mendadak Terputus
Lima Tewas Termasuk Anak-anak dalam Serangan ke Pesta Pernikahan
Salah satu serangan dilaporkan menghantam sebuah rumah yang tengah digunakan untuk menggelar resepsi pernikahan di Kuhestak, Iran selatan. Wakil Gubernur Provinsi Hormozgan, Ahmad Nafisi, mengungkapkan lima orang tewas termasuk seorang anak dan sedikitnya 68 orang lainnya mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Menyikapi jatuhnya korban sipil ini, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, melontarkan peringatan keras lewat platform X. "Jangan salah: kejahatan-kejahatan ini tidak akan dibiarkan tanpa hukuman," tegasnya.
CENTCOM: Laporan Korban Sipil Berasal dari Media Pemerintah Iran
Juru Bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, mengonfirmasi pihaknya mengetahui adanya laporan korban sipil tersebut, namun menekankan bahwa informasi itu bersumber dari media pemerintah Iran. "Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, berbeda dengan IRGC," kata Hawkins, sebagaimana dilaporkan Associated Press. CENTCOM menegaskan bahwa serangan terbaru ini dilakukan sebagai respons atas upaya Iran menyerang kapal-kapal komersial dan pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah.
Target Serangan: Pabrik Tepung Ikan, Dermaga Nelayan, hingga Jaringan Listrik
Televisi pemerintah Iran melaporkan serangan AS menghantam sebuah pabrik tepung ikan di Pulau Qeshm, serta sejumlah lokasi sipil lainnya di Provinsi Hormozgan. Sebuah dermaga nelayan dan menara milik Ports and Maritime Organization di Sirik turut disebut menjadi sasaran serangan. Militer AS juga dilaporkan menyerang Bandara Jiroft, sebuah bandara sipil di Provinsi Kerman, Iran tengah meski dilaporkan tidak ada korban maupun kerusakan signifikan pada infrastruktur bandara tersebut.
Baca Juga: 80 Persen Kapal Kini Pilih Jalur Oman, Iran Disebut Mulai Kehilangan Kendali atas Selat Hormuz
Serangan turut mengenai jaringan listrik di Provinsi Hormozgan. Perusahaan pengelola jaringan listrik negara, Tavanir, mengonfirmasi sejumlah bagian jaringan mengalami kerusakan akibat serangan tersebut, dan pihak berwenang tengah berupaya memulihkan aliran listrik yang padam.
Presiden Donald Trump memberikan penjelasan tambahan lewat wawancara telepon dengan Fox News. Menurutnya, salah satu sasaran serangan adalah radar-radar Iran yang tengah dibangun kembali. "Mereka mencoba membangun kembali radar mereka karena mereka tidak bisa melihat apa pun," klaim Trump. "Kami menunggu sampai radar itu hampir selesai dibangun, lalu kami menghantamnya."
Trump memperingatkan Iran agar tidak melancarkan aksi balasan atas serangan tersebut. "Jika mereka membalas, mereka akan dihantam jauh lebih keras. Jika berlanjut hingga ketiga kalinya, mereka akan benar-benar musnah sebagai sebuah negara," ancam Trump melalui Fox News.
Iran Tetap Balas dengan Rudal Balistik ke Yordania
Kendati diperingatkan, Iran tetap melancarkan serangan balasan menggunakan rudal balistik ke arah Yordania. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim telah menargetkan pangkalan udara Prince Hassan serta pangkalan Marinir AS bernama "Camp Titin" di sepanjang pesisir Teluk Aqaba. Militer Yordania melaporkan berhasil menembak jatuh 10 rudal, sementara tiga rudal lainnya jatuh di kawasan tak berpenghuni, dengan sejumlah ledakan akibat upaya pencegatan terlihat di atas langit Aqaba.
Serangan Iran turut dilaporkan menyasar negara lain di kawasan. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat serangan drone "menyusul agresi kriminal Iran". Iran juga mengaku telah melancarkan serangan drone terhadap pasukan AS di Bahrain, meski hal ini belum dikonfirmasi langsung oleh pihak Bahrain.
Di tengah eskalasi ini, Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dan komando gabungan militernya menyatakan pasukan Iran akan melancarkan apa yang mereka sebut sebagai "serangan telak dan menghancurkan" terhadap AS. Kantor berita pemerintah IRNA mengutip pernyataan IRGC yang menyebut serangan AS justru semakin memperkuat tekad Iran, sekaligus mengumumkan bahwa Iran semakin memperketat penutupan Selat Hormuz jalur yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan secara efektif telah ditutup Teheran sejak perang dimulai.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Kian Panas, Harga Minyak Dunia Justru Melemah
Presiden Iran Sempat Tawarkan Hidupkan Kembali Gencatan Senjata
Sebelum serangan terbaru ini terjadi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat menyatakan pada Selasa bahwa Republik Islam Iran siap kembali menjalankan kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai dengan AS pada Juni lalu, dengan syarat Washington juga melakukan hal serupa. "Jika AS kembali menjalankan komitmennya dalam memorandum kesepahaman, Republik Islam Iran akan segera melakukan hal yang sama," kata Pezeshkian dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kirgizstan, sebagaimana dikutip media pemerintah Iran.
Kesepakatan sementara pada Juni tersebut sejatinya menyerukan gencatan senjata segera dan membuka periode 60 hari untuk perundingan menuju kesepakatan yang lebih luas. Namun, kesepakatan itu runtuh tidak lama setelah disepakati.
Persediaan Rudal Pencegat AS Menipis, Perang Tak Populer di Dalam Negeri
Sebelum aksi militer kembali berlangsung, pemerintahan Trump sempat berupaya menekan Iran lewat jalur ekonomi, dengan keyakinan bahwa tekanan terhadap sasaran ekonomi tertentu melalui kampanye isolasi finansial dapat membuat Teheran menyerah. Namun, pertempuran kini kembali pecah di tengah menipisnya persediaan rudal pencegat canggih milik AS, sementara perang ini sendiri dilaporkan semakin tidak populer di kalangan warga Amerika.
Trump pada Senin (31/8) sempat mengakui bahwa serangan tambahan terhadap Iran mungkin masih diperlukan ke depan. Sejak konflik kembali berlangsung, militer AS menyebut operasi militernya terhadap Iran masih berskala terbatas, meski kembalinya konflik terbuka ini berisiko memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak 5%
Eskalasi konflik ini turut berdampak langsung terhadap pasar energi global, dengan harga minyak dunia dilaporkan melonjak hingga 5% tak lama usai serangan AS terbaru diumumkan. Perang yang telah berlangsung berbulan-bulan ini sebelumnya juga telah mendorong lonjakan harga minyak dunia secara berkelanjutan, sekaligus menimbulkan tekanan politik bagi Partai Republik menjelang pemilihan sela Kongres AS pada November mendatang.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Rupiah Diperkirakan Bergerak Fluktuatif Hari Ini
Editor : Shinta Nurma Ababil