80 Persen Kapal Kini Pilih Jalur Oman, Iran Disebut Mulai Kehilangan Kendali atas Selat Hormuz

Zebita Rizqi Priyangga • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:37 WIB
Selat Hormuz.
Selat Hormuz.

JP Radar Kediri – Perebutan kendali atas Selat Hormuz menjadi salah satu titik fokus utama dalam perang yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Selama beberapa bulan terakhir, baik Iran maupun AS sama-sama mengklaim memiliki keunggulan di jalur pelayaran strategis tersebut, memicu kebingungan publik akibat narasi yang saling bertolak belakang dari kedua pihak.

Namun, data terbaru menunjukkan arah yang semakin jelas: Amerika Serikat, yang terus berpatroli di selat tersebut dengan kekuatan angkatan lautnya, dinilai semakin menguasai situasi, sementara Iran kehilangan sebagian besar kendalinya atas jalur perairan vital itu.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Drastis Buntut Konflik AS-Iran di Selat Hormuz

80 Persen Kapal Pilih Rute Oman yang Disahkan PBB

Berdasarkan data perusahaan pelacak pergerakan kapal, Kpler, lebih dari 80% pelayaran kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam dua pekan terakhir telah mengambil rute Oman  jalur pelayaran yang disahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) namun selama ini ditentang keras oleh Iran. Data tersebut memanfaatkan transponder dan citra satelit untuk memantau pergerakan kapal secara real time.

Iran, yang sejak awal konflik menyatakan selat tersebut berada di bawah kendalinya, sebelumnya telah menyerang puluhan kapal yang mencoba melintasi perairan lewat pesisir utara Oman. Meski begitu, sebagian besar kapal belakangan justru memilih mengabaikan tuntutan Iran dan tetap melintasi selat tersebut dengan jaminan perlindungan dari angkatan laut AS.

"Iran Setidaknya Telah Kehilangan Sebagian Kendali"

Kepala Analisis Minyak Mentah Kpler, Homayoun Falakshahi, menegaskan tren ini menjadi bukti kuat melemahnya cengkeraman Iran atas jalur tersebut. "Situasi ini semakin menunjukkan bahwa Iran setidaknya telah kehilangan sebagian kendali atas selat tersebut," ujar Falakshahi, sebagaimana dikutip CNN, Rabu (19/8/2026).

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak, Buntut Serangan Iran ke Negara Teluk Perluas Eskalasi

Kondisi ini kontras jauh dibandingkan situasi sebulan sebelumnya, ketika Kpler mencatat pergerakan kapal di jalur Oman nyaris nol. Penurunan drastis jumlah kapal yang melewati rute favorit Teheran ini turut menghambat kemampuan Iran memungut tarif dari kapal-kapal yang melintas sebuah kebijakan yang sempat mereka terapkan pada musim semi lalu.

Volume Transit Minyak Mendekati Level Sebelum Perang

Menteri Energi AS, Chris Wright, mengungkapkan total transit minyak melalui Selat Hormuz beserta jalur alternatifnya mencapai sekitar 15 juta barel per hari dalam sepekan terakhir mendekati rata-rata sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang pecah. Angka inilah yang mendasari klaim Presiden AS Donald Trump pada Senin bahwa negaranya kini memiliki "kontrol penuh atas selat tersebut".

Klaim Trump tersebut langsung dibantah keras oleh pihak militer Iran. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali dan pengelolaan penuh Iran, sama seperti sebelumnya. Ia menyebut klaim AS mengenai normalnya pelayaran kapal di selat tersebut sebagai kebohongan belaka.

"Angkatan bersenjata Iran memantau seluruh pergerakan AS dan Israel di kawasan tersebut, dan tidak akan ragu membela hak-hak rakyat Iran serta kedaulatan nasional dan aspirasi negaranya," tegas Zolfaghari, dikutip dari ANTARA yang mengutip Xinhua. Ia menyebut pernyataan AS tersebut sebagai cerminan "keputusasaan dan ketidakberdayaan" militer mereka.

Baca Juga: Singgung Nuklir Iran, Siaran Langsung Pidato Prabowo di Istana Mendadak Terputus

Meski data pelacakan kapal menunjukkan tren yang menguntungkan AS, sejumlah analis menilai klaim "kontrol penuh" dari Trump masih terlalu berlebihan, mengingat Iran pada kenyataannya masih mampu melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas serta mempertahankan sebagian kemampuan untuk mengganggu jalur pelayaran. "Jika tujuan mereka adalah 'bertanggung jawab', maka saya akan mengatakan bahwa mereka tidak pernah sepenuhnya memegang kendali untuk memulai," ujar salah satu analis, Pickering.

Aturan Ketat Sejak 28 Februari, Kapal Berafiliasi AS-Israel Dilarang Lintas

Sebagai catatan, ketegangan di Selat Hormuz kian meningkat sejak Iran memperketat pengawasan pada 28 Februari 2026, dengan melarang kapal-kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan AS untuk melintas secara aman. Kebijakan ini diberlakukan menyusul serangan gabungan AS dan Israel terhadap wilayah Iran.

Di tengah dinamika yang terus bergerak, Oman dan Iran dikabarkan tengah menjajaki diskusi untuk memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz tanpa melibatkan Amerika Serikat — sebuah langkah yang berpotensi kembali mengubah peta kendali atas salah satu jalur minyak paling strategis di dunia tersebut.

Baca Juga: Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Rupiah Diperkirakan Bergerak Fluktuatif Hari Ini

Editor : Shinta Nurma Ababil
selat hormuz Iran As Memanas Perebutan Kendali Selat Hormuz konflik Iran Amerika Serikat 2026 minyak mentah