KABUPATEN, JP Radar Kediri – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diproyeksikan menjadi terobosan baru dalam meningkatkan akurasi prakiraan badai pasir dan debu (sand and dust storms/SDS).
Hal itu diungkapkan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam Airborne Dust Bulletin 2026.
WMO menyebut, selama ini prakiraan badai debu masih mengandalkan model numerik berbasis fisika yang membutuhkan kapasitas komputasi tinggi dan waktu pemrosesan yang panjang.
Padahal, fenomena debu di atmosfer dipengaruhi interaksi kompleks antara kondisi permukaan tanah dan dinamika atmosfer sehingga sulit diprediksi secara cepat.
Karena itu, AI dinilai mampu menjadi solusi. Dengan memanfaatkan jutaan data historis, termasuk pengamatan satelit selama puluhan tahun, sistem AI dapat mengenali pola pembentukan badai debu dan menghasilkan prakiraan dengan lebih cepat serta biaya operasional yang jauh lebih rendah dibanding metode konvensional.
Meski demikian, WMO menegaskan teknologi AI belum sepenuhnya menggantikan model prakiraan yang ada.
Hasil penelitian menunjukkan belum ada satu sistem AI yang unggul untuk semua kondisi cuaca.
Beberapa model lebih efektif memprediksi badai debu lokal yang berkembang cepat, sedangkan model lain lebih akurat untuk badai debu berskala besar yang berlangsung selama beberapa hari.
Selain untuk prakiraan, AI juga dimanfaatkan dalam pemetaan sumber debu aktif di berbagai belahan dunia.
Teknologi tersebut dipadukan dengan citra satelit dan pengamatan lapangan untuk mengidentifikasi titik-titik sumber debu yang menjadi prioritas penanganan.
Dalam laporan yang sama, WMO menyebut konsentrasi debu global pada 2025 relatif sama dibanding 2024.
Namun, sejumlah wilayah mengalami kejadian ekstrem. Tiongkok mencatat badai debu terburuk dalam satu dekade, sementara wilayah perbatasan Amerika Serikat-Meksiko mengalami jumlah badai debu tertinggi sejak era Dust Bowl pada 1935.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan badai pasir dan debu bukan hanya menurunkan kualitas udara, tetapi juga mengganggu sektor pertanian, transportasi, penerbangan, energi, hingga kesehatan masyarakat.
Karena itu, penguatan sistem peringatan dini melalui kolaborasi internasional dan pemanfaatan teknologi AI menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi dampaknya.
"Kemajuan AI membuka peluang besar dalam meningkatkan prakiraan badai pasir dan debu. Namun, kerja sama internasional, pertukaran data, serta pengembangan sistem peringatan dini tetap menjadi kunci agar manfaat teknologi tersebut dapat dirasakan semua negara, terutama yang paling rentan," tulis WMO dalam buletin tersebut.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : wmo, Radar Kediri