Gelombang Panas Laut Kian Meluas, Organisasi Meteorologi Dunia Sebut Bakal Ancam Perikanan, Terumbu Karang hingga Budidaya Laut

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 22:34 WIB
ilustrasi budidaya ikan di laut yang terdampak panas akibat suhu meningkat. (Ilustrasi Ai)
ilustrasi budidaya ikan di laut yang terdampak panas akibat suhu meningkat. (Ilustrasi Ai)

JP Radar Kediri – Gelombang panas laut atau marine heatwave semakin menjadi ancaman bagi ekosistem laut di kawasan Pasifik Barat Daya.

Berdasarkan laporan State of the Climate in the South-West Pacific 2025 yang dipublikasikan melalui laman Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO), fenomena tersebut berdampak serius terhadap terumbu karang, perikanan, hingga industri budidaya laut yang menjadi sumber mata pencaharian jutaan masyarakat.

WMO menjelaskan gelombang panas laut merupakan periode ketika suhu permukaan laut berada jauh di atas kondisi normal dalam waktu yang cukup lama.

Pemanasan laut jangka panjang akibat perubahan iklim membuat fenomena tersebut terjadi semakin sering, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang lebih kuat dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Laporan itu menyebut cakupan gelombang panas laut pada 2025 memang lebih rendah dibandingkan 2024.

Baca Juga: Kemarau 2026 Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi di Negara-Negara Eropa Sampai Picu Kebakaran Hutan, Begini Penjelasan Meteorologi Dunia

Namun, luasnya tetap menjadi yang terbesar yang pernah tercatat pada tahun tanpa fenomena El Nino.

Kondisi tersebut dinilai mengkhawatirkan karena menunjukkan lautan terus menyimpan panas dalam jumlah besar, bahkan ketika pengaruh La Nina masih berlangsung.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem laut.

WMO mencatat gelombang panas laut memicu pemutihan terumbu karang secara luas, menyebabkan kematian ikan, mengganggu operasional budidaya perikanan, mematikan hutan rumput laut, hingga mengubah sebaran berbagai spesies laut.

Selain itu, suhu laut yang semakin hangat juga meningkatkan risiko ledakan alga berbahaya yang dapat mengganggu kualitas perairan.

Wilayah dengan gelombang panas laut paling parah pada 2025 berada di antara Benua Maritim dan pesisir Australia, serta kawasan Pasifik Selatan bagian barat di sekitar Selandia Baru, Kaledonia Baru, dan Vanuatu.

Baca Juga: Meteorologi Dunia Sebut Juni 2026 Jadi yang Terpanas di Eropa Sepanjang Sejarah, Bagaimana di Benua Lain Termasuk Indonesia?

Selama musim panas 2024/2025, fenomena tersebut bahkan memicu pemutihan karang secara bersamaan di sistem terumbu karang timur dan barat Australia.

Peristiwa itu menjadi yang pertama kali terjadi dalam satu musim.

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan meningkatnya suhu laut menjadi ancaman serius bagi negara-negara di kawasan Pasifik Barat Daya.

Menurutnya, laut merupakan penopang utama kehidupan masyarakat sehingga perubahan kondisi laut akan berdampak langsung terhadap ekonomi dan ketahanan masyarakat pesisir.

"Bagi banyak negara dan wilayah di Pasifik Barat Daya, laut merupakan pusat mata pencaharian, ekonomi, dan ketahanan," ujar Celeste Saulo dalam laporan State of the Climate in the South-West Pacific 2025 yang dipublikasikan melalui laman resmi WMO.

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : World Meteorological Organization (WMO), Radar Kediri
World Meteorological Organization (WMO) gelombang panas laut kemarau