Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Hari Buruh 1 Mei : Dari Tragedi Haymarket hingga Perjuangan Marsinah di Indonesia

Dita Citra Oktaviana • Jumat, 1 Mei 2026 | 07:07 WIB
Hari Buruh Internasional
Hari Buruh Internasional

JP Radar Kediri - Setiap tanggal 1 Mei, jutaan buruh di seluruh dunia turun ke jalan, mengibarkan spanduk, dan menyuarakan tuntutan mereka. 

Hari itu dikenal sebagai May Day atau Hari Buruh Internasional, sebuah peringatan yang lahir bukan dari perayaan, melainkan dari darah dan perjuangan panjang kaum pekerja melawan ketidakadilan.

Bermula dari Revolusi Industri yang Kejam

Untuk memahami mengapa 1 Mei begitu penting, kita perlu kembali ke abad ke-19, saat Revolusi Industri sedang berada di puncaknya. 

Di Amerika Serikat dan Eropa, pabrik-pabrik tumbuh pesat, tetapi nasib para pekerjanya jauh dari kata sejahtera.

Pada masa itu, jam kerja buruh bisa mencapai 14 hingga 16 jam sehari, tujuh hari seminggu.

Tidak ada hari libur, tidak ada jaminan keselamatan kerja, dan upah yang diterima pun sangat rendah. 

Anak-anak pun dipekerjakan di pabrik dalam kondisi yang berbahaya. Ketidakadilan ini memantik kemarahan yang akhirnya berujung pada gerakan buruh yang terorganisir.

Baca Juga: 35 Ucapan Hari Bumi 2026 dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, Cocok untuk Caption Media Sosial

Tragedi Haymarket, 1886

Puncak dari kemarahan itu meletus di Chicago, Amerika Serikat, pada 1 Mei 1886. Ratusan ribu buruh di seluruh negeri melakukan mogok massal menuntut satu hal, yaitu pengurangan jam kerja menjadi delapan jam sehari. 

Seruan "Eight Hours for Work, Eight Hours for Rest, Eight Hours for What We Will" menggema di mana-mana.

Di Chicago, demonstrasi berjalan damai pada hari pertama. Namun, dua hari kemudian, pada 3 Mei, bentrokan terjadi antara polisi dan buruh di pabrik McCormick Harvesting Machine. Beberapa buruh tewas ditembak polisi.

Keesokan harinya, 4 Mei 1886, para aktivis buruh menggelar rapat umum di Lapangan Haymarket sebagai bentuk protes. 

Di tengah kerumunan yang mulai membubarkan diri, tiba-tiba sebuah bom meledak. Polisi membuka tembakan, dan kerusuhan pun pecah. 

Tujuh polisi dan sejumlah warga sipil tewas. Delapan aktivis buruh ditangkap, diadili, dan empat di antaranya dieksekusi meski bukti keterlibatan mereka tidak pernah terbukti kuat.

Peristiwa Haymarket menjadi simbol perjuangan buruh sedunia. Pada 1889, Kongres Sosialis Internasional di Paris menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional untuk mengenang tragedi tersebut sekaligus meneruskan semangat perjuangannya.

Baca Juga: Hari Bumi 22 April: Bukan Sekadar Peringatan, Ini Sejarah dan Makna di Baliknya

Hari Buruh Masuk Indonesia

Di Indonesia, kesadaran tentang hak-hak buruh mulai tumbuh sejak awal abad ke-20, seiring dengan masuknya pengaruh gerakan sosialis dan pergerakan nasional. 

Pada masa kolonial Belanda, kondisi buruh, terutama di perkebunan, sangat memprihatinkan. Sistem kerja paksa dan upah yang tidak manusiawi menjadi pemandangan sehari-hari.

Peringatan May Day pertama kali dirayakan di Indonesia pada tahun 1920, dimotori oleh organisasi buruh dan tokoh-tokoh pergerakan yang terinspirasi oleh gerakan internasional. Semangat ini terus menggelora hingga masa kemerdekaan.

Namun, di era Orde Baru, peringatan Hari Buruh justru diredam. Pemerintah saat itu memandang gerakan buruh sebagai ancaman stabilitas, sehingga demonstrasi 1 Mei dilarang dan serikat buruh independen dibatasi geraknya. 

Selama lebih dari tiga dekade, Hari Buruh hilang dari kalender nasional.

Baca Juga: Saatnya Bergerak! Ini 7 Hal Kecil Penyelamat Lingkungan di Hari Bumi

Marsinah dan Duka yang Tak Terlupakan

Di tengah represi Orde Baru terhadap gerakan buruh, muncul nama yang hingga kini dikenang sebagai simbol perlawanan, yaitu Marsinah.

Marsinah adalah buruh pabrik arloji di Sidoarjo, Jawa Timur. Pada Mei 1993, ia memimpin rekan-rekannya dalam aksi mogok kerja menuntut kenaikan upah sesuai ketentuan pemerintah.

Beberapa hari setelah aksi itu, Marsinah ditemukan tewas dengan tanda-tanda penganiayaan berat. Ia baru berusia 24 tahun.

Kematian Marsinah mengguncang publik Indonesia. Kasusnya menjadi sorotan internasional dan memperlihatkan betapa berbahayanya menjadi seorang aktivis buruh di masa itu. 

Hingga kini, kasusnya belum sepenuhnya terungkap dan para pelaku sesungguhnya tidak pernah diadili secara tuntas.

Setiap tahun, nama Marsinah selalu disebut dalam peringatan Hari Buruh di Indonesia sebagai pengingat bahwa perjuangan hak-hak pekerja pernah dibayar dengan nyawa.

Baca Juga: 25 Ucapan Hari Bumi Sedunia, Singkat dan Penuh Makna

May Day Kembali Diperingati

Setelah Reformasi 1998 yang menumbangkan Orde Baru, kebebasan berserikat dan menyampaikan pendapat kembali terbuka. Gerakan buruh bangkit, dan peringatan 1 Mei perlahan hidup kembali.

Puncaknya, pada tahun 2013, pemerintah Indonesia resmi menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. 

Sejak saat itu, Hari Buruh kembali dirayakan secara terbuka dengan unjuk rasa, pawai, dan berbagai aksi damai di seluruh penjuru negeri.

Semangat yang Masih Relevan

Lebih dari satu abad sejak Tragedi Haymarket, tuntutan kaum buruh memang sudah banyak yang terpenuhi, jam kerja yang lebih manusiawi, hak cuti, upah minimum, dan perlindungan keselamatan kerja. Tapi perjuangan belum selesai.

Isu upah yang layak, kepastian kerja di tengah maraknya sistem kontrak dan outsourcing, hingga perlindungan buruh perempuan masih menjadi agenda yang terus diperjuangkan hingga hari ini.

Hari Buruh bukan sekadar tanggal merah di kalender. Ia adalah pengingat bahwa setiap hak yang dinikmati pekerja saat ini adalah buah dari perjuangan panjang mereka yang rela berkorban sebelum kita.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#hari buruh 2026 #sejarah hari buruh #sejarah hari buruh internasional #sejarah hari buruh 1 mei #hari buruh