JP Radar Kediri– Ledakan bom nuklir diketahui memberikan dampak yang berbahaya bagi lingkungan maupun manusia. Banyak orang berpikir bahwa kota yang terkena bom nuklir selamanya tidak bisa dihuni karena radiasi yang tinggi. Namun, apakah pernyataan tersebut benar?
Ledakan nuklir dapat dibagi berdasarkan jenisnya, yaitu ledakaan udara dan ledakan darat. Radiasi yang disebabkan oleh ledakan udara atau air burst dapat dikatakan lebih cepat hilang dibandingkan ledakan darat. Ini dikarenakan material radioaktif yang dikeluarkan sedikit yang jatuh ke tanah. Ledakan darat memberikan dampak yang lebih berbahaya karena kontaminasi tanah yang tinggi dan tidak hilang dalam jangka yang panjang.
Kamu pasti pernah mendengar tentang ledakan nuklir yang menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang selama Perang Dunia II. Pada 6 Agustus 1945, Hiroshima dijatuhi bom atom yang dinamai “Little Boy”, sedangkan pada 9 Agustus 1945, Nagasaki menjadi sasaran bom atom “Fat Man”. Ledakan ini menimbulkan dampak langsung yang dahsyat, dengan puluhan ribu korban meninggal dan sebagian besar bangunan kota hancur.
Namun, perlu diketahui bahwa radiasi dari ledakan ini menurun dalam hitungan hari, karena ledakannya terjadi di udara. Berkat penurunan radiasi yang cepat, kedua kota ini mampu dipulihkan beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah perang dan penduduk pun dapat kembali menempati wilayahnya. Saat ini, Hiroshima memiliki sekitar ±1 juta penduduk, sedangkan Nagasaki dihuni oleh kurang lebih ratusan ribu orang.
Berbeda halnya dengan yang terjadi di Chernobyl. Bencana yang terjadi di Chernobyl bukanlah sebuah perang dan bukan terjadi akibat ledakan bom, melainkan sebuah kecelakaan. Kecelakaan yang terjadi Chernobyl disebabkan oleh ledakan reaktor yang menyebabkan kontaminasi tanah bertahun-tahun. Radiasi ini diketahui masih tinggi sampai saat ini, sehingga kota tersebut dikatakan belum aman untuk kembali ditinggali secara permanen.
Baca Juga: China Keluarkan Peringatan Perjalanan ke Jepang di Tengah Memanasnya Ketegangan soal Taiwan
Kemampuan kota untuk dihuni kembali setelah terkena ledakan nuklir atau kecelakaan reaktor dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jenis ledakan atau sumber radiasi sangat menentukan, ledakan udara seperti di Hiroshima dan Nagasaki menghasilkan radiasi yang cepat menurun, sedangkan kecelakaan reaktor seperti Chernobyl membuat radiasi menempel lebih lama di tanah. Tingkat kontaminasi juga dipengaruhi oleh jumlah dan jenis bahan radioaktif yang tersebar, serta waktu paruh zat radioaktif seperti cesium-137 atau strontium-90. Proses pembersihan lingkungan dan pengelolaan paparan manusia menjadi kunci agar kota kembali aman untuk dihuni.
Fakta ini menunjukkan bahwa kota yang pernah mengalami ledakan nuklir bisa kembali dihuni, tetapi waktunya berbeda-beda. Hiroshima dan Nagasaki pulih dalam beberapa tahun, sementara Chernobyl masih banyak zona terlarang hingga kini. Hal ini menegaskan pentingnya pemahaman ilmiah dan mitigasi risiko radiasi dalam menjaga keselamatan manusia.
Penulis adalah Khansa Dhiya Ramadhania, Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian